Pengangguran Indonesia Mei 2026 Melandai ke 4,65%, Jumlah Pekerja Formal Meningkat
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id -- Indonesia mencatatkan kabar positif pada sektor ketenagakerjaan dengan turunnya Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menjadi 4,65% pada Mei 2026. Angka ini terus menunjukkan tren penurunan sejak Februari 2026 (4,68%) dan November 2025 (4,74%). Secara volume, jumlah pengangguran saat ini adalah 7,22 juta orang.
Disampaikan Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Mohammad Edy Mahmud dalam konferensi pers, Rabu (5/8/2026), berdasarkan wilayah, pengangguran di wilayah perkotaan (5,54%) masih jauh lebih tinggi dibandingkan di wilayah perdesaan (3,15%), meskipun keduanya kompak mengalami penurunan.
Berdasarkan jenis kelamin, TPT laki-laki tercatat sebesar 4,85%, sedikit menurun dari Februari 2026, sementara TPT perempuan juga melandai di angka 4,32%.
Berikutnya disampaikan pula Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) secara keseluruhan di Indonesia berada pada level 70,57% per Mei 2026. Angka ini menunjukkan sedikit peningkatan dibandingkan Februari 2026 yang sebesar 70,56%, namun jika ditarik lebih jauh, angka ini masih lebih rendah dibandingkan pencapaian November 2025 yang mencapai 70,95%.
Baca Juga
Data ini mengungkap adanya kesenjangan gender yang dinamis. TPAK laki-laki mengalami peningkatan menjadi 85,14% dari sebelumnya 84,57% pada Februari 2026. Sebaliknya, TPAK perempuan justru mengalami penurunan ke angka 55,84%, turun dari 56,41% pada periode Februari 2026.
Sedangkan dari sisi proporsi penduduk yang bekerja pada kegiatan formal, BPS mencatat terjadipertumbuhan. Per Mei 2026, jumlah pekerja formal mencapai 60,31 juta orang (40,70%), meningkat dari 59,93 juta orang pada Februari 2026. Sebaliknya, sektor informal masih mendominasi dengan total 87,88 juta orang atau sekitar 59,30%.
Peningkatan jumlah pekerja formal ini utamanya didorong oleh kenaikan pada kategori Buruh/Karyawan/Pegawai yang jumlahnya bertambah 342 ribu orang. Secara keseluruhan, distribusi penduduk bekerja terbesar adalah sebagai Buruh/Karyawan/Pegawai (37,09%), diikuti oleh mereka yang Berusaha Sendiri (21,43%), dan Berusaha dibantu Buruh Tidak Tetap (15,44%). Sementara itu, penurunan terbesar terjadi pada kategori Pekerja Keluarga/Tidak Dibayar yang berkurang hingga 1 juta orang lebih.
