Kredit Perbankan Tumbuh 12,67%, Penyaluran Kredit Baru Kian Bergairah
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust — Kinerja intermediasi perbankan nasional tetap menunjukkan ketahanan pada kuartal II-2026. Pertumbuhan kredit tercatat 12,67% secara tahunan (year on year/yoy), ditopang oleh meningkatnya penyaluran kredit baru di hampir seluruh segmen dan sektor ekonomi. Meski demikian, industri perbankan mulai menghadapi tantangan berupa perlambatan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK), kenaikan rasio kredit terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR), penyempitan margin bunga, dan meningkatnya tekanan likuiditas.
Pada periode yang sama, penyaluran kredit baru perbankan nasional melonjak signifikan pada kuartal II-2026. Saldo Bersih Tertimbang (SBT) penyaluran kredit baru meningkat menjadi 93,1% pada kuartal II-2026, jauh lebih tinggi dibandingkan 38,7% pada kuartal I-2026 dan melampaui capaian periode yang sama tahun lalu. Penguatan tersebut menunjukkan fungsi intermediasi perbankan kembali menguat meskipun perekonomian masih menghadapi tantangan domestik dan global.
Hal tersebut terungkap dalam Regular Economic Update: Laporan Survei Perbankan Bank Indonesia Kuartal II-2026 yang disusun Office of Chief Economist (OCE) Group BRI, Macroeconomics & Financial Market Analytics Department, dan diterbitkan di Jakarta, Kamis ( 23/07/2026). Laporan tersebut menggunakan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta hasil Survei Perbankan Bank Indonesia.
Berdasarkan data OJK, pertumbuhan kredit perbankan mencapai 12,67% (yoy) hingga kuartal II-2026. Sementara itu, pertumbuhan DPK masih berada pada level dua digit, yakni 11,16%, meskipun melambat dibandingkan kuartal sebelumnya. Kondisi tersebut mendorong LDR meningkat menjadi 88,32%, menunjukkan penyaluran kredit tumbuh lebih cepat dibandingkan penghimpunan dana masyarakat.
Dari sisi kesehatan industri, kualitas aset masih terjaga dengan gross non-performing loan (NPL) sebesar 2,17%, meski sedikit meningkat dibandingkan awal tahun. Di sisi lain, profitabilitas mulai tertekan, tercermin dari net interest margin (NIM) yang turun menjadi 4,36%. Permodalan juga masih kuat dengan capital adequacy ratio (CAR) sebesar 23,74%, jauh di atas ketentuan minimum regulator, walaupun menunjukkan tren penurunan.
Survei Perbankan Bank Indonesia menunjukkan optimisme penyaluran kredit semakin menguat. Hal ini tercermin dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) penyaluran kredit baru yang melonjak menjadi 93,1% pada kuartal II-2026 dari 38,7% pada kuartal sebelumnya.
OCE BRI menjelaskan bahwa SBT bukan merupakan angka pertumbuhan kredit, melainkan indikator survei yang menggambarkan kecenderungan penyaluran kredit berdasarkan jawaban bank-bank responden. Semakin tinggi nilai SBT, semakin besar proporsi bank yang melaporkan peningkatan penyaluran kredit baru. Dengan demikian, angka 93,1% menunjukkan mayoritas besar bank mengalami peningkatan penyaluran kredit, bukan berarti kredit tumbuh 93,1%.
Penguatan penyaluran kredit terjadi pada seluruh jenis penggunaan. Kredit Modal Kerja (KMK) masih menjadi kontributor terbesar, sedangkan Kredit Investasi (KI) mencatat peningkatan paling kuat sehingga hampir menyamai kredit modal kerja. Kondisi tersebut menunjukkan pembiayaan mulai bergeser dari kebutuhan operasional menuju ekspansi kapasitas produksi dan investasi baru.
Di sisi konsumsi, permintaan pembiayaan rumah tangga juga semakin membaik. Kredit Kendaraan Bermotor (KKB), Kredit Multiguna (KMG), dan Kredit Pemilikan Rumah/Apartemen (KPR/KPA) mencatat peningkatan signifikan, sementara penggunaan kartu kredit justru melambat. Fenomena ini menunjukkan masyarakat lebih memilih pembiayaan cicilan jangka menengah dan panjang dibandingkan kredit revolving.
Berdasarkan sektor ekonomi, penyaluran kredit meningkat pada delapan dari 13 sektor usaha. Sektor konstruksi mencatat kenaikan tertinggi, disusul sektor transportasi dan informasi-komunikasi, pendidikan, serta real estat. Sebaliknya, sektor manufaktur, perdagangan, pertambangan, dan jasa keuangan mengalami perlambatan ekspansi, meskipun masih berada pada zona pertumbuhan positif.
Menurut kelompok debitur, akselerasi terbesar terjadi pada UMKM non-KUR, menunjukkan pembiayaan komersial kepada pelaku usaha kecil mulai meningkat di luar skema kredit bersubsidi pemerintah. Kredit kepada debitur non-UMKM tetap menjadi penggerak utama pertumbuhan, sedangkan pembiayaan untuk kegiatan ekspor maupun impor sama-sama mengalami peningkatan.
Meski kondisi saat ini masih kuat, OCE BRI memperkirakan penyaluran kredit baru akan mengalami normalisasi pada kuartal III-2026. Nilai SBT diproyeksikan turun menjadi 84,7%, namun masih berada pada level ekspansif. Di sisi lain, proyeksi pertumbuhan kredit sepanjang 2026 direvisi turun menjadi 7,51%, mencerminkan sikap perbankan yang semakin berhati-hati dalam menjaga kualitas aset di tengah ketidakpastian ekonomi dan meningkatnya tekanan likuiditas.
Laporan tersebut juga mencatat meningkatnya tekanan pendanaan. Indeks Early Warning System (EWS) Likuiditas mencapai 2,18 pada 17 Juli 2026, tertinggi sejak 2017 dan telah memasuki zona sangat ketat. Kondisi ini mengindikasikan persaingan penghimpunan dana diperkirakan semakin intensif dalam beberapa bulan mendatang.
Kredit Baru Tumbuh 93,1% SBT
Penyaluran kredit baru perbankan nasional melonjak signifikan pada kuartal II-2026. Hasil Survei Perbankan Bank Indonesia (BI) menunjukkan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) penyaluran kredit baru meningkat menjadi 93,1% pada kuartal II-2026, jauh lebih tinggi dibandingkan 38,7% pada kuartal I-2026 dan melampaui capaian periode yang sama tahun lalu. Penguatan tersebut menunjukkan fungsi intermediasi perbankan kembali menguat meskipun perekonomian masih menghadapi tantangan domestik dan global.
Laporan tersebut menggambarkan bahwa kondisi industri perbankan Indonesia hingga kuartal II-2026 masih berada dalam kategori resilien. Intermediasi berjalan baik, likuiditas relatif terjaga, dan pertumbuhan kredit tetap berada pada level tinggi. Namun demikian, OCE BRI mengingatkan mulai muncul tekanan terhadap profitabilitas, kecukupan modal, serta likuiditas yang perlu diantisipasi agar stabilitas sistem keuangan tetap terpelihara.
Angka 93,1% yang disebut dalam Survei Perbankan Bank Indonesia bukanlah laju pertumbuhan kredit baru secara tahunan. Angka tersebut merupakan Saldo Bersih Tertimbang (SBT), yakni indikator survei yang menggambarkan kecenderungan penyaluran kredit berdasarkan jawaban bank-bank responden. SBT dihitung dari selisih tertimbang antara bank yang melaporkan peningkatan penyaluran kredit dengan bank yang melaporkan penurunan kredit. Semakin tinggi nilai SBT, semakin besar proporsi bank yang menyatakan penyaluran kredit meningkat.
Dengan demikian, SBT sebesar 93,1% pada kuartal II-2026 menunjukkan bahwa hampir seluruh bank responden melaporkan peningkatan penyaluran kredit baru dibandingkan kuartal sebelumnya. Indikator ini mencerminkan menguatnya optimisme dan aktivitas intermediasi perbankan, tetapi tidak dapat diartikan sebagai pertumbuhan nominal kredit sebesar 93,1%. Pertumbuhan kredit secara aktual tetap mengacu pada data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang mencatat kredit perbankan tumbuh 12,67% secara tahunan (year on year) hingga akhir kuartal II-2026.
Bank Indonesia menggunakan indikator SBT karena survei ini bertujuan menangkap arah perubahan perilaku penyaluran kredit secara lebih dini dibandingkan statistik realisasi. Oleh sebab itu, SBT sering dipakai sebagai leading indicator untuk memperkirakan kecenderungan pertumbuhan kredit pada periode berikutnya. Dalam laporan ini, tingginya SBT mengindikasikan fungsi intermediasi perbankan kembali menguat, meskipun perbankan tetap dituntut menjaga kualitas kredit di tengah tekanan likuiditas dan meningkatnya risiko global.
Kredit Produktif Menjadi Motor Pertumbuhan
Menurut OCE BRI, penguatan penyaluran kredit baru terjadi pada seluruh kelompok penggunaan kredit. Kredit Modal Kerja (KMK) masih mencatat SBT tertinggi, sementara Kredit Investasi (KI) mengalami kenaikan paling besar sehingga hampir menyamai kredit modal kerja. Fenomena tersebut menunjukkan pembiayaan mulai bergeser dari sekadar memenuhi kebutuhan operasional perusahaan menuju peningkatan kapasitas produksi dan investasi baru.
Di sisi lain, kredit konsumsi juga menunjukkan pemulihan cukup kuat. Walaupun SBT kredit konsumsi masih berada di bawah kredit produktif, pertumbuhannya menjadi yang tertinggi secara tahunan. Hal tersebut mengindikasikan mulai pulihnya permintaan rumah tangga terhadap pembiayaan konsumsi.
Untuk sektor ekonomi, penyaluran kredit meningkat pada delapan dari 13 sektor usaha. Sektor konstruksi mencatat kenaikan terbesar, disusul transportasi dan informasi-komunikasi, pendidikan, serta real estat. Sebaliknya, kredit ke sektor manufaktur, perdagangan, pertambangan, dan jasa keuangan mengalami perlambatan, meskipun seluruh sektor masih berada di zona ekspansi.
UMKM Non-KUR Melonjak
Dari sisi kelompok debitur, peningkatan paling mencolok terjadi pada UMKM non-KUR, diikuti kelompok non-UMKM. Temuan ini menunjukkan pembiayaan komersial kepada pelaku UMKM mulai tumbuh lebih cepat dibandingkan kredit bersubsidi pemerintah melalui KUR.
Kredit kepada perusahaan besar tetap menjadi kontributor utama pertumbuhan kredit nasional. Namun jarak pertumbuhan dengan UMKM mulai menyempit, mencerminkan mulai pulihnya aktivitas usaha skala kecil dan menengah.
Survei juga menunjukkan pembiayaan untuk kegiatan ekspor maupun impor sama-sama meningkat. Kredit impor bahkan tumbuh lebih cepat dibanding kredit ekspor, mencerminkan meningkatnya kebutuhan pembiayaan bahan baku dan perdagangan internasional, meskipun risiko pelemahan nilai tukar tetap perlu diwaspadai.
Pada segmen konsumsi, hampir seluruh jenis kredit mengalami akselerasi. Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) mencatat lonjakan terbesar, diikuti Kredit Multiguna (KMG) serta Kredit Pemilikan Rumah/Apartemen (KPR/KPA). Di antara seluruh produk konsumsi, KPR/KPA masih menjadi kredit dengan tingkat SBT tertinggi.
Sebaliknya, kartu kredit justru mengalami perlambatan tajam. OCE BRI menilai kondisi tersebut menunjukkan adanya pergeseran preferensi masyarakat dari kredit revolving menuju pembiayaan cicilan yang lebih terstruktur.
DPK Melambat, Deposito Tertekan
Di sisi pendanaan, OCE BRI memperkirakan penghimpunan DPK masih akan tumbuh pada kuartal III-2026, tetapi momentumnya melambat. Perlambatan terutama berasal dari deposito, sementara pertumbuhan tabungan justru meningkat dan menjadi penopang utama penghimpunan dana.
Menurut OCE BRI, tingginya imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) membuat sebagian dana masyarakat beralih dari deposito ke instrumen investasi tersebut. Akibatnya, persaingan memperebutkan dana berjangka diperkirakan semakin ketat sehingga bank harus lebih selektif dalam menentukan suku bunga deposito dan memperkuat retensi nasabah.
Tekanan Likuiditas Semakin Besar
Laporan ini juga mencatat meningkatnya tekanan likuiditas nasional. Early Warning System (EWS) Likuiditas mencapai 2,18 pada 17 Juli 2026, tertinggi sejak pengamatan dimulai pada 2017 dan telah memasuki zona sangat ketat.
Berdasarkan hasil uji statistik Granger Causality, indeks EWS terbukti mampu menjadi indikator dini yang mendahului perlambatan DPK sekitar tiga hingga enam bulan berikutnya. Artinya, apabila tekanan likuiditas terus meningkat, biaya dana perbankan berpotensi ikut naik sehingga dapat menekan profitabilitas industri.
Proyeksi Kredit Mulai Melambat
Meski kondisi saat ini masih kuat, OCE BRI memperkirakan penyaluran kredit baru akan mengalami normalisasi pada kuartal III-2026. Nilai SBT diproyeksikan turun menjadi 84,7%, masih berada pada level tinggi namun lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya.
Sementara itu, ekspektasi pertumbuhan kredit sepanjang 2026 juga direvisi turun menjadi 7,51%, lebih rendah dibandingkan realisasi tahun sebelumnya. Penurunan proyeksi tersebut mencerminkan sikap perbankan yang semakin selektif dalam menjaga kualitas kredit di tengah ketidakpastian ekonomi.
Di sisi kebijakan moneter, OCE BRI memperkirakan Bank Indonesia masih berpeluang menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 6,00% hingga akhir 2026 untuk menjaga stabilitas rupiah. Inflasi diproyeksikan meningkat secara moderat, namun masih berada dalam kisaran sasaran BI.
Lima Rekomendasi OCE BRI
Berdasarkan keseluruhan hasil survei, OCE BRI menyampaikan lima rekomendasi strategis bagi industri perbankan nasional.
Pertama, ekspansi kredit perlu tetap dilakukan secara selektif, dengan memprioritaskan sektor produktif, debitur yang memiliki arus kas sehat, serta tenor pembiayaan yang sesuai agar kualitas aset tetap terjaga.
Kedua, bank perlu memperkuat pengelolaan likuiditas, terutama melalui peningkatan dana murah (CASA), menjaga deposan inti, serta mengelola tenor dan penetapan suku bunga dana secara lebih selektif di tengah meningkatnya kompetisi penghimpunan dana.
Ketiga, perbankan perlu menjaga profitabilitas dengan mengantisipasi penyempitan margin bunga (NIM) akibat kenaikan biaya dana yang lebih cepat dibandingkan kenaikan bunga kredit.
Keempat, penguatan manajemen risiko menjadi semakin penting seiring meningkatnya LDR, kenaikan risiko kredit, dan tren penurunan CAR agar ekspansi tetap berlangsung secara sehat dan berkelanjutan.
Kelima, bank perlu memanfaatkan indikator Early Warning System (EWS) likuiditas sebagai alat deteksi dini untuk mengantisipasi tekanan pendanaan tiga hingga enam bulan ke depan sehingga langkah mitigasi dapat dilakukan lebih cepat sebelum tekanan likuiditas semakin besar.
