Hilirisasi Menjadi Daya Tarik Investasi, FDI Kuartal II 2026 Melonjak 27,4%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Arus investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI) ke Indonesia kembali mencatatkan kinerja impresif pada kuartal II 2026. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, tingginya suku bunga internasional, dan tensi geopolitik yang belum mereda, Indonesia berhasil membukukan persetujuan investasi asing sebesar Rp257,7 triliun atau sekitar US$14,3 miliar, tumbuh 27,4% secara tahunan (year on year/yoy).
Angka tersebut menjadi rekor tertinggi sekaligus laju pertumbuhan tercepat sejak kuartal IV-2024. Hal itu terungkap dalam Samuel Economic Update: Foreign Direct Investment (FDI) yang diterbitkan SSI Research (Samuel Sekuritas Indonesia), Kamis (16/ 7/2026). Angka tersebut juga sejalan dengan data investasi pemerintah yang menunjukkan FDI pada kuartal II meningkat dari Rp250 triliun pada kuartal I-2026 menjadi Rp257,7 triliun.
Laporan tersebut menunjukkan bahwa sektor logam dasar (base metals) kembali menjadi tujuan utama investasi asing. Fenomena ini menegaskan bahwa kebijakan hilirisasi mineral masih menjadi daya tarik terbesar Indonesia di mata investor global, terutama karena posisinya yang semakin penting dalam rantai pasok kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dunia.
Selain industri pengolahan logam, investasi juga mengalir deras ke sektor pertambangan dan berbagai sektor jasa, yang memperkuat posisi Indonesia sebagai negara kaya sumber daya alam. Namun, SSI Research mengingatkan bahwa dominasi investasi berbasis komoditas juga menyimpan risiko apabila harga komoditas global mengalami koreksi tajam.
Dari sisi asal negara, Singapura tetap menjadi investor terbesar di Indonesia, diikuti Hong Kong, Tiongkok, Jepang, dan Malaysia. Komposisi tersebut menunjukkan bahwa pusat-pusat keuangan Asia masih menjadi penyumbang utama modal asing ke Indonesia sekaligus mencerminkan kuatnya integrasi Indonesia dalam jaringan investasi regional.
Sepanjang semester I 2026, nilai FDI mencapai Rp432,6 triliun, meningkat 17,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Menurut SSI Research, pertumbuhan tersebut memang terbantu oleh basis perbandingan yang rendah karena sepanjang 2025 investasi asing nyaris stagnan dengan pertumbuhan hanya sekitar 0,1%. Namun demikian, pemulihan investasi ini memperkuat optimisme bahwa investasi akan menjadi motor pertumbuhan ekonomi di tengah perlambatan ekspor dan meningkatnya volatilitas arus modal global.
Baca Juga
Secara terpisah, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM sebelumnya melaporkan realisasi investasi Indonesia pada kuartal I-2026 mencapai Rp498,8 triliun, dengan investasi asing menyumbang sekitar Rp250 triliun atau lebih dari separuh total investasi nasional. Capaian tersebut juga menciptakan lebih dari 706 ribu lapangan kerja baru, menegaskan bahwa investasi masih menjadi salah satu pilar utama penciptaan kesempatan kerja.
Meski prospek jangka menengah tetap positif, SSI Research memperkirakan momentum investasi akan mulai melambat pada semester II-2026. Pertumbuhan luar biasa sebesar 27,4% pada kuartal II dinilai sulit dipertahankan sehingga laju investasi diperkirakan kembali ke tingkat yang lebih normal.
Dari sisi eksternal, terdapat sedikitnya tiga tantangan utama. Pertama, suku bunga global yang diperkirakan bertahan tinggi lebih lama akan meningkatkan biaya pendanaan proyek-proyek industri berskala besar. Kedua, pelemahan aktivitas manufaktur dunia dapat mengurangi permintaan terhadap produk ekspor Indonesia. Ketiga, ketegangan geopolitik, khususnya di Timur Tengah, masih berpotensi menunda keputusan investasi perusahaan multinasional.
Sementara itu, tantangan domestik juga tidak kalah besar. SSI Research secara khusus menyoroti perlunya konsistensi kebijakan pemerintah. Perubahan aturan hilirisasi yang mendadak dinilai dapat mengurangi kepercayaan investor jangka panjang. Selain itu, birokrasi dan proses perizinan yang masih lambat berpotensi menghambat realisasi investasi yang telah disetujui.
Baca Juga
Hilirisasi Sumbang Kontribusi Total Realisasi Investasi Semester I 2026 Nyaris 30%
Yang menarik, laporan tersebut juga secara eksplisit menyoroti tingginya biaya berusaha (cost of doing business) akibat gangguan premanisme maupun aksi kelompok massa atau kelompok keagamaan radikal. Faktor-faktor non-ekonomi tersebut dinilai dapat meningkatkan biaya operasional perusahaan, mengganggu kepastian usaha, serta mengurangi daya tarik Indonesia sebagai tujuan investasi jangka panjang.
Meski demikian, SSI Research tetap menilai prospek investasi Indonesia masih konstruktif. Program hilirisasi industri, pembangunan infrastruktur yang terus berlanjut, stabilitas ekonomi makro yang relatif terjaga, serta posisi strategis Indonesia dalam diversifikasi rantai pasok global diperkirakan tetap menjadi penopang utama arus investasi asing beberapa tahun ke depan.
Namun, lembaga riset tersebut menegaskan bahwa keberhasilan mempertahankan momentum investasi tidak hanya bergantung pada kondisi ekonomi global. Pemerintah juga dituntut menjaga konsistensi regulasi, mempercepat reformasi perizinan, memperkuat kepastian hukum, serta menciptakan iklim usaha yang bebas dari gangguan keamanan dan praktik ekonomi berbiaya tinggi agar kepercayaan investor tetap terjaga.
