Samuel Sekuritas Paparkan 3 Skenario Dampak Perang, Ekonomi RI Diprediksi Masih Tetap Tumbuh
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id -- Wakil Presiden Direktur PT Samuel Sekuritas, Suria Dharma, memaparkan tiga skenario perang di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak global terhadap perekonomian nasional, di mana dalam skenario tersebut perekonomian Indonesia diproyeksikan masih mampu mencatatkan pertumbuhan yang positif.
Dalam skenario pertama, dengan asumsi harga minyak dunia masih bergerak stabil sesuai kisaran asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yaitu sebesar US$ 79 per barel, pemerintah diyakini masih sangat mampu menjaga ritme pembangunan.
Pada kondisi ideal ini, Indonesia diproyeksikan mampu mencapai pertumbuhan ekonomi pada kisaran 5,4%, sementara defisit APBN 2026 akan tetap terjaga dengan aman di level 2,66% Kondisi ini mencerminkan bahwa postur anggaran belanja negara saat ini masih berada dalam batas aman dan kredibel untuk meredam gejolak eksternal.
Namun, tantangan serius muncul pada skenario kedua, yakni apabila harga minyak mentah melonjak tajam hingga menembus angka US$ 89 per barel akibat konflik yang meluas.
Suria Dharma menjelaskan bahwa situasi tersebut sebenarnya akan mengerek pendapatan negara hingga mencapai 3.200 triliun rupiah karena terdongkraknya penerimaan dari sektor komoditas. Akan tetapi, berkah kenaikan pendapatan tersebut harus dibayar mahal dengan adanya pembengkakan biaya subsidi dan kompensasi energi di dalam negeri, sehingga pertumbuhan ekonomi nasional diproyeksikan sedikit melambat ke kisaran 5,2%.
Baca Juga
Indef Sebut Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I-2026 Solid, Pemerintah Diminta Jaga Daya Beli
Suria Dharma memberikan perhatian khusus terhadap risiko terbesar jika ketegangan geopolitik di tingkat global tersebut tidak kunjung mereda dalam waktu dekat. Dampak buruknya akan langsung merembet pada postur keuangan negara karena beban belanja subsidi energi yang tidak lagi terbendung oleh pendapatan yang masuk. "Kalau perang tidak mereda, harga minyak tetap tinggi di US$ 89, itu memang defisitnya itu melebihi 3%. Ini yang menjadi concern," kata Suria saat diskusi Membedah Resiliensi dan Kredibilitas Ekonomi-Fiskal, di Jakarta, Kamis (9/7/2026).
Selanjutnya, Suria memaparkan skenario ketiga yang melihat adanya potensi deeskalasi konflik dan pemberian berbagai stimulus ekonomi yang bisa menekan harga minyak mentah turun ke level US$ 77 per barel. Melalui skenario optimistis ini, defisit anggaran negara diperkirakan bakal tetap terjaga dengan sangat baik di kisaran 2,8% dari Produk Domestik Bruto (PDB), bahkan pertumbuhan ekonomi nasional berpeluang melesat hingga mencapai angka 5,6%.
Suria menambahkan, ketika harga minyak mentah mampu turun lagi hingga menyentuh US$ 72 barel, maka seluruh tekanan harga energi diprediksi dapat mereda secara signifikan pada semester kedua tahun 2026. Di samping mengawasi pergerakan harga minyak, ia juga mengingatkan agar pemerintah tetap cermat dalam memperhatikan alokasi anggaran program strategis pemerintah, serta mengamati pergerakan inflasi di Amerika Serikat karena efeknya akan sangat menentukan terhadap pola perdagangan global.
"Yang terakhir kita meski lihat inflasi di AS efeknya terhadap fair trade seperti apa," kata dia menambahkan.
Pandangan mengenai risiko eksternal ini sejalan dengan analisis yang disampaikan oleh Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M. Rizal Taufiqurrahman. Rizal melihat risiko global yang muncul akibat eskalasi geopolitik global meningkatkan harga energi, biaya logistik, dan ketergantungan impor, di mana kondisi tersebut pada akhirnya menekan biaya produksi, inflasi, aktivitas ekonomi, investasi, hingga posisi fiskal nasional.
Geopolitik yang terjadi di Selat Hormuz menjadi salah satu pemicu utama karena langsung mengganggu jalur rantai pasok dari perdagangan internasional. Rizal melihat kenaikan harga energi global mendorong lonjakan biaya produksi dan perdagangan, yang salah satu indikator dampaknya sudah muncul melalui terjadinya defisit neraca perdagangan Indonesia pada bulan Mei 2026.
Peningkatan harga energi dunia ini memicu efek berantai pada kenaikan harga bahan baku industri yang berlanjut pada pembengkakan biaya manufaktur secara agregat, sehingga berpotensi besar mengganggu stabilitas keuangan dan minat investasi di dalam negeri.
"Ini yang harus diantisipasi, perubahan harga (energi) ini dan perubahan harga di Indonesia, khususnya non-subsidi," kata Rizal. Beliau juga menegaskan bahwa saluran pertama yang paling cepat terdampak dari krisis global ini yaitu adanya tekanan nyata ke sektor fiskal negara. Dengan adanya biaya energi yang tinggi, maka defisit energi akan menjadi salah satu indikator utama yang menahan laju pertumbuhan.
"Ketidakpastian global menekan investasi, melemahkan rupiah, dan meningkatkan biaya pendanaan," ujar dia mengakhiri penjelasannya.
