Rupiah Terkoreksi Saat Dolar AS Menguat, Ini Penyebabnya
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Kamis (2/7/2026) di tengah kenaikan imbal hasil obligasi Pemerintah AS dan meningkatnya ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) masih akan mempertahankan kebijakan moneter ketat. Pelemahan ini mencerminkan tekanan eksternal yang masih membayangi aset-aset di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Hingga pukul 09.05 WIB, rupiah turun 0,20% menjadi Rp 17.988 per dolar AS. Meski demikian, pergerakan mata uang Asia secara umum cenderung positif seiring pelemahan Indeks Dolar AS (DXY) sebesar 0,06% ke level 101,3.
Baca Juga
Harga BBM Pertamina Juli 2026: Pertamax Turbo Turun, Pertamax Tak Alami Perubahan
Data Bloomberg menunjukkan yen Jepang menguat 0,03% terhadap dolar AS. Penguatan juga terjadi pada yuan China sebesar 0,07%, ringgit Malaysia 0,21%, dolar Singapura 0,05%, baht Thailand 0,07%, dan peso Filipina 0,04%.
Di sisi lain, pergerakan rupiah sejalan dengan mata uang yang juga melemah di kawasan. Rupee India terkoreksi 0,61%, sedangkan won Korea Selatan turun 0,25% terhadap dolar AS.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan tekanan terhadap rupiah masih berasal dari faktor eksternal, terutama kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar.
Menurut data Investing, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor acuan naik 0,11% menjadi 4,48%. Kenaikan tersebut terjadi menjelang rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang diperkirakan akan menjadi acuan penting bagi arah kebijakan moneter The Fed.
Lukman menilai kenaikan imbal hasil obligasi AS terjadi karena ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Fed yang meningkat menjelang rilis data pekerjaan AS. "Sentimen domestik juga masih belum pulih dari tekanan jual investor asing," kata Lukman.
Pasar Menunggu Sinyal The Fed
Pelaku pasar juga mencermati pernyataan Ketua Federal Reserve Kevin Warsh yang belum memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga pada rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) akhir Juli.
Dalam forum ECB Forum on Central Banking di Sintra, Portugal, Rabu (1/7/2026) waktu setempat, Warsh menegaskan bahwa pengendalian inflasi masih menjadi prioritas utama bank sentral AS. Ia memilih tidak berspekulasi mengenai keputusan suku bunga yang akan diumumkan pada akhir bulan.
Baca Juga
Pertamina-Pupuk Indonesia Teken MoU Strategis untuk Swasembada Energi dan Pangan
"Kita semua berada dalam bisnis menjaga stabilitas harga. Mungkin itu bukan satu-satunya tugas kita, tetapi dari berbagai diskusi selama beberapa hari terakhir, satu hal yang jelas adalah kita semua melihat bahwa harga masih terlalu tinggi," ujar Warsh dalam wawancara dengan CNBC.
Pernyataan tersebut memperkuat ekspektasi bahwa The Fed belum terburu-buru melonggarkan kebijakan moneternya. Sikap hati-hati bank sentral AS itu membuat pelaku pasar terus mencermati setiap data ekonomi, khususnya laporan ketenagakerjaan, untuk memperoleh petunjuk mengenai peluang perubahan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.
