Rupiah Tembus Rp18.014 per Dolar AS, Dolar Menguat Didorong Data Ekonomi AS
JAKARTA, Investortrust.id – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan menembus level Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 0,27% ke posisi Rp18.014 per dolar AS pada pukul 09.10 WIB.
Pelemahan rupiah terjadi bersama mata uang regional lainnya seperti rupee India dan ringgit Malaysia. Rupee India tercatat melemah 0,46%, sedangkan ringgit Malaysia turun 0,27% terhadap dolar AS.
Di sisi lain, sejumlah mata uang Asia justru menguat terhadap dolar AS, antara lain baht Thailand, dolar Singapura, peso Filipina, dolar Hong Kong, yen Jepang, dan yuan China.
Baca Juga
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, mengatakan penguatan dolar AS didorong oleh membaiknya sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat. Indeks Dolar AS (DXY) tercatat naik ke level 99,4 dan mencapai posisi tertinggi dalam sekitar dua bulan terakhir. Penguatan tersebut terjadi setelah laporan Automatic Data Processing (ADP) menunjukkan sektor swasta AS menambah sekitar 122.000 lapangan kerja pada Mei 2026, melampaui ekspektasi pasar dan menjadi angka tertinggi sejak Januari 2025.
“Data tersebut mengindikasikan bahwa pasar tenaga kerja AS terus menunjukkan penguatan, sehingga memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve dapat menaikkan suku bunga pada akhir tahun ini,” kata Andry.
Data Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) juga menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan pada April 2026 meningkat ke level tertinggi sejak November 2024. Kondisi tersebut semakin memperkuat indikasi tingginya permintaan tenaga kerja di AS.
Baca Juga
Direktur Utama BRI Hery Gunardi Bagikan 5 Kunci Sukses Membangun Bisnis
Selain faktor ketenagakerjaan, dolar AS mendapat dukungan dari meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang mendorong harga minyak naik selama tiga sesi berturut-turut dan meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global.
Saat ini pasar memperkirakan probabilitas sebesar 85% untuk kenaikan suku bunga Federal Reserve sebesar 25 basis poin hingga akhir tahun. Angka tersebut meningkat dibandingkan 60% pada sepekan sebelumnya.

