Impor Bahan Baku Meningkat 25,17% Secara Tahunan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan impor pada Mei 2026 bergerak naik. Total impor pada Mei 2026 sebesar US$ 24,81 miliar atau naik 22,16% secara tahunan.
Impor ditopang oleh kenaikan komoditas migas sebesar 70,78% secara tahunan menjadi US$ 4,51 miliar dan komoditas non-migas bergerak naik sebesar 14,89% secara tahunan menjadi US$ 20,3 miliar.
“Peningkatan impor secara tahunan ini terutama didorong oleh peningkatan impor nonmigas, dengan andil peningkatan impor sebesar 12,95%” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono saat konferensi pers, Rabu (1/7/2026).
Ateng menjelaskan seluruh impor nonmigas berdasarkan golongan penggunaan mengalami peningkatan. Nilai impor bahan baku penolong menjadi pendorong utama kenaikan impor naik sebesar 25,17% secara tahunan dengan andil 17,41%. Nilai impor bahan baku penolong mencapai US$ 17,58 miliar.
Selain itu, nilai impor barang konsumsi naik sebesar 21,99% secara tahunan menjadi US$ 2,22 miliar. Sedangkan, nilai impor barang modal naik sebesar 12,7%. secara tahunan menjadi US$ 5 miliar.
“Impor bahan baku mengalami kenaikan cukup besar terutama pada komoditas bahan bakar mineral, garam, belerang, batu, dan semen, serta serelia,” ujar dia.
Head of Macroeconomics and Market Research Bank Permata, Faisal Rachman menilai pertumbuhan impor sebesar 22,16% secara tahunan pada Mei 2026 relatif stabil dibandingkan pertumbuhan impor pada April 2026 yang mencapai 22,49% secara tahunan.
Baca Juga
“Kinerja ini terutama didorong oleh agenda pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan sehingga permintaan domestik tetap kuat, serta melonjaknya impor minyak dan gas seiring kenaikan tajam harga minyak mentah dunia akibat konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah,” kata Faisal, kepada investortrust.id.
Kenaikan impor berdasarkan penggunaan mencatatkan pertumbuhan karena kebutuhan input produksi. Beberapa komoditas utama seperti mesin mekanik, mesin listrik dan plastik mengalami peningkatan yang signifikan.
Sementara itu, ekspor mengalami kontraksi sebesar -5,73% secara tahunan pada Mei 2026. Ini berbalik tajam dari pertumbuhan 21,98% secara tahunan pada April 2026.
Kontraksi disebabkan turunnya ekspor perhiasan emas sebesar -59,35% secara tahunan, besi dan baja turun -14,68% secara tahunan, dan komoditas utama ekspor utama Indonesia yaitu minyak kelapa sawit yang juga turun -14,23% secara tahunan.
Melihat kondisi ini, Faisal memperkirakan defisit transaksi berjalan Indonesia akan mengalami pelebaran pada 2026. Ini didorong kebijakan pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi dan permintaan global yang melemah.
“Kami menilai defisit neraca perdagangan pada Mei 2026 merupakan gangguan yang bersifat sementara, terutama akibat lonjakan harga minyak dunia, dan bukan awal dari tren defisit yang berkelanjutan,” ujar dia.
