Di Balik Penempatan SAL ke Himbara, Mengapa DPR Sampai Turun Tangan?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Lobi Gedung Nusantara III DPR RI pada Senin (29/6/2026) pagi bersiap. Empat tiang mikrofon ditata. Disebutkan pimpinan DPR dan sejumlah pejabat Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Bank Indonesia (BI), dan Dewan Ekonomi Nasional (DEN) akan memberikan pernyataan bersama seputar kondisi perekonomian nasional.
Sebelum konferensi pers digelar, Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad menggelar rapat di ruangannya. Dalam foto yang beredar, Dasco didampingi Wakil Ketua DPR RI Saan Mustopa, Sari Yuliati, Cucun Ahmad Syamsurijal, serta Ketua Komisi XI Mukhamad Misbakhun.
Berikutnya para legislator ini mengundang masuk Wakil Menteri Keuangan Juda Agung dan Suahasil Nazara, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti, Deputi Gubernur BI Thomas Djiwandono dan Ricky Gozali, Wakil Ketua DEN Mari Elka Pangestu, dan anggota DEN lainnya. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyusul ikut serta dalam rapat tersebut.
Jelang tengah hari, konferensi pers digelar. Dasco membuka jalannya acara.
Dasco menyebut rapat digelar untuk memitigasi beberapa hal yang terjadi belakang ini. Tanpa disebut detailnya.
Juda mengatakan pertemuan untuk menjelaskan koordinasi Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) tentang penempatan dana pemerintah di perbankan. Kesimpulannya, pemerintah akan mengembalikan lagi dana SAL ke himbara.
Pernyataan ini menangkis kabar sebelumnya yang beredar bahwa pemerintah akan menarik dana SAL dari perbankan pelat merah.
“Diambil kesimpulan bahwa dana pemerintah di perbankan akan dikembalikan lagi,” kata Juda.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sempat mengonfirmasi tentang penarikan dana SAL di himbara tersebut. Pada taklimat media di kantornya, Jumat (26/6/2026), Purbaya menyebut tentang permintaan sejumlah pihak pada awal Juni yang ingin dana SAL dikembalikan ke BI.
“Atas permintaan beberapa pihak, suruh narik. Kita tarik rupanya jadi kering nggak ada sumber uang lagi. Jadi saya balikin lagi,” kata Purbaya, yang menyebut telah bertemu petinggi himbara pada Jumat (26/6/2026) pagi.
Purbaya menyebut bahwa Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan penempatan kembali dana SAL ke himbara. Nilainya, Rp 200 triliun. Sehingga, nantinya total penempatan dana SAL di himbara mencapai Rp 400 triliun.
Baca Juga
Kemenkeu Pertahankan Dana Pemerintah di Bank Himbara Rp 281 T hingga Akhir Tahun
Saat konferensi pers di parlemen, angka tersebut direvisi. Juda menambahkan secara rinsi. Menurut dia, posisi dana pemerintah di perbankan mencapai Rp 281 triliun. Pemerintah sempat menarik Rp 110 triliun pada Juni 2026. Tetapi, dana yang ditarik tersebut dikembalikan lagi ke rekening pemerintah di himbara.
“Jadi tetap Rp 281 triliun. Itu dijaga sampai bulan Desember,” ujar Juda.
Selain mempertahankan uang di rekening himbara, pemerintah juga menyiapkan dana sebesar Rp 100 triliun. Dana yang masih berada di kantong BI tersebut itu dapat digunakan sebagai penempatan tahap selanjutnya jika diperlukan.
Juda mengatakan penempatan dana SAL di himbara tak akan memengaruhi rencana BI dalam upaya stabilisasi rupiah. Himbara sendiri berharap dengan upaya stabilisasi rupiah yang baik, maka akan ada ruang untuk pertumbuhan ekonomi.
“Jadi ini memang agar suku bunga kemudian tidak melonjak dan perbankan juga punya likuiditas untuk menyalurkan kredit karena demand-nya ada,” kata dia.
Menyamakan persepsi bukan miskomunikasi
Sumber investortrust.id membenarkan pertemuan Senin pagi tersebut salah satunya membahas penempatan dana pemerintah di himpunan bank milik negara atau himbara. Selain itu juga dibicarakan isu-isu perekonomian terkini lainnya.
Isu penempatan dana SAL dibahas untuk memastikan efektivitas kebijakan moneter tetap terjaga.
Baca Juga
Harga Gas industri Turun, Kemenperin Apresiasi dan Beri 3 Catatan Ini
Sumber tersebut mengatakan pertemuan digelar untuk memastikan kebijakan moneter yang bertujuan untuk menjaga stabilitas rupiah dapat berjalan efektif. Sebab, ada indikasi pelemahan rupiah sudah mulai tertransmisi ke angka inflasi.
“Terutama volatile inflation. Orang menengah bawah kena. Jadi kita perlu fokus ke stabilisasi dalam waktu dekat ini,” kata dia.
Dalam konferensi pers Senin kemarin, Mari Elka menyarankan agar pemerintah menjaga stabilitas makro ekonomi jangka pendek. Ini sebagai bentuk respons kondisi global yang tak pasti.
“Ada kesepakatan, saya rasa yang tercapai, bahwa yang penting adalah menjaga kestabilan makro ekonomi di jangka pendek,” kata Mari Elka.
Mari Elka mengatakan ketidakpastian global memengaruhi harga minyak mentah global. Harga minyak mentah global meningkat dan berdampak ke inflasi sehingga memberi efek ke daya beli masyarakat.
“Sehingga ini menjadi prioritas untuk menjaga kestabilan makro,” ujar dia.
Sementara itu Wakil Ketua Banggar DPR RI, Wihadi Wiyanto menyebut pertemuan otoritas fiskal dan moneter tersebut sudah mencapai kesepakatan kendati kata sepakat tersebut menurutnya bukan berarti terjadi miskomunikasi antara dua otoritas moneter dan fiskal, sehingga harus melibatkan DPR, dalam hal ini Wakil Ketua DPR, Sufmi Dasco Ahmad.
“Bukan miskomunikasi, fiskal dan moneter kan sebenarnya punya bagian masing-masing, dasarnya itu saja,” kata Wihadi.
“Itu hanya menyamakan (persepsi) fiskal dan moneter saja,” tambah dia.
Respons himbara
Di lain pihak, tiga bank pelat merah merespons langkah pemerintah tentang penempatan dana SAL ini. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI menyambut baik alokasi dana SAL. Kebijakan tersebut menjadi langkah strategis dalam menjaga kecukupan likuiditas nasional.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi menyampaikan apresiasi atas kepercayaan pemerintah. Jika betul direalisasikan, tambahan likuiditas akan dimanfaatkan secara optimal secara selektif kepada sektor-sektor produktif termasuk UMKM.
“Kami akan memastikan setiap penyaluran pembiayaan dilakukan secara terukur agar memberikan dampak nyata bagi perekonomian,” kata Hery dalam keterangan resminya.
Sementara itu, Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN penempatan dana SAL ini menjadi amunisi strategis bagi perseroan untuk memperkuat posisi likuiditas, sekaligus mengakselerasi penyaluran kredit guna menggerakkan roda perekonomian.
Likuiditas yang kuat, lanjut Nixon, menjadi motor utama bagi perseroan dalam menjalankan fungsi intermediasi secara lebih optimal guna memacu pertumbuhan kredit yang berdampak langsung pada penggerak ekonomi.
"Kami menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Keuangan atas kepercayaan yang diberikan kepada BTN. Penempatan dana SAL ini sangat penting bagi kami. Ini bukan sekadar memperkuat fundamental likuiditas perusahaan, tetapi menjadi stimulus bagi kami untuk terus menggerakkan roda perekonomian melalui penyaluran kredit yang lebih agresif namun tetap terukur," ujar Nixon dalam keterangannya.
Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Riduan mengatakan penempatan dana SAL menjadi bagian dari ekosistem penggerak ekonomi negeri yang kontribusinya dirasakan secara langsung dalam mendukung pertumbuhan kredit dan kebutuhan masyarakat.
Bank Mandiri fokus untuk penguatan ekosistem dan akselerasi digital. Penyaluran kredit Bank Mandiri difokuskan pada segmen UMKM yang memiliki peran besar dalam mendorong perekonomian nasional.
