Kementerian dan Lembaga UsulTambahan Anggaran Rp 984 Triliun di 2027, Naik 57%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah menyebut kementerian/lembaga (K/L) mengusulkan adanya tambahan total sebesar Rp 984 untuk anggaran 2027.
“Akan kami serahkan usulan dari berbagai pembahasan yang sudah disepakati antara komisi dengan mitra masing-masing. Pagu-nya Rp 1.389,84 triliun. Usulan tambahannya Rp 984 triliun,” kata Said, saat memimpin rapat kerja Banggar DPR, di Jakarta, Senin (29/6/2026).
Dengan tambahan tersebut, total anggaran K/L yang diajukan ke pemerintah mencapai Rp 2.373,94 triliun pada 2027. Bila disepakati, anggaran tersebut akan naik 57,16% dibandingkan anggaran belanja K/L pada 2026 yang sebesar Rp 1.510,5 triliun.
Said menyebut keputusan akhir mengenai tambahan anggaran belanja K/L ini berada di tangan Bendahara Negara. Nantinya, nilai rancangan belanja K/L untuk anggaran 2027 akan disampaikan pemerintah saat pembacaan Nota Keuangan bersama RAPBN 2027 pada 16 Agustus 2026.
“Kita akan tunggu tanggal 16 (Agustus) setelah paripurna. (Dari) nota keuangan yang akan disampaikan pemerintah,” kata dia.
Baca Juga
Tambah Anggaran Rp 4 Triliun, Prabowo Ingin Riset yang Berdampak bagi Masyarakat
Dalam rapat kerja tersebut, Banggar DPR menyampaikan enam arah kebijakan belanja K/L pada 2027. Enam arah kebijakan belanja tersebut di antaranya,
Pertama, menopang kemandirian pangan secara bertahap, dimulai dari kemandirian beras, selanjutnya jagung, kedelai, daging, bawang putih, dan gula, dan bisa dituntaskan dalam jangka menengah.
Kedua, kemandirian energi untuk meningkatkan kapasitas produksi minyak dan gas bumi, dan secara bersamaan menurunkan konsumsi migas dengan alih energi ke listrik dan energi terbarukan.
Ketiga, pendidikan yang berwatak inklusif. Proses belajar mengajar tidak boleh terhalang oleh keterbatasan ekonomi, dan penyediaan sarana dan prasarana.
Keempat, mengkaji kewajiban wajib belajar, dari semula 9 tahun menjadi 13 tahun. Langkah ini untuk meningkatkan kualitas angkatan kerja nasional yang mencapai 52% didominasi tingkat pendidikan SD dan SMP.
Kelima, peningkatan investasi riset dan inovasi nasional sekaligus menjadi jembatan penting untuk membangkitkan industri nasional.
Keenam, mengorkestrasi anggaran investasi riset dan inovasi nasional. Ini merupakan kerja sama pentahelix antara investasi pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat. Dengan demikian, investasi riset dan nasional semakin mendekati negara-negara Asia Tenggara 1-2% dari PDB dalam jangka menengah.
Said mengatakan anggaran riset Indonesia awalnya mencapai Rp 27 triliun. Akan tetapi, angka tersebut terus turun.
“Hari ini, pagunya Rp 4,7 triliun, cukup keluar masuk kantor nggak ngapa-ngapain. Padahal, researcher kita yang 8.140 itu sudah melakukan beberapa riset, kalau anggarannya tidak ada maka mau tidak mau, tahap 1, tahap 2, tahap 2 anggarannya tidak ada, dia mati, maka dia balik lagi dimulai lagi dari awal,” kata dia.
