Rupiah Tertekan ke Rp17.950 per Dolar AS, Data Inflasi AS Jadi Sorotan Pasar
JAKARTA, investortrust.id – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kembali berlanjut setelah rupiah sempat menembus level Rp17.950 per dolar Amerika Serikat (AS). Namun menjelang tengah hari, rupiah menguat 0,13% ke posisi Rp17.928 per dolar AS.
Presiden Komisaris HFX International Berjangka Sutopo Widodo mengatakan, pergerakan rupiah saat ini dipengaruhi penguatan indeks dolar AS (DXY) yang mencapai level tertinggi dalam 14 bulan terakhir.
Menurut dia, penguatan dolar AS didorong sentimen pasar terhadap kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) yang masih cenderung hawkish seiring perkembangan data inflasi AS.
Baca Juga
IHSG Sesi I Rebound Pesat 2,69%, Saham Emiten Prajogo dan Big Bank Perkasa
“Volatilitas rupiah akan sangat bergantung pada rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS sebagai barometer inflasi yang krusial bagi arah kebijakan The Fed, serta rilis data Indeks Harga Konsumen (IHK) Indonesia pekan depan,” kata Sutopo kepada investortrust.id, Kamis (25/6/2026).
Selain ekspektasi kebijakan The Fed, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari sentimen risk-off global. Aksi jual tajam pada sektor teknologi mendorong permintaan terhadap aset safe haven, termasuk dolar AS.
Dari dalam negeri, Sutopo menilai penurunan surplus neraca perdagangan ke level terendah sejak 2020 serta kekhawatiran mengenai pergeseran investasi manufaktur asing ke Vietnam turut memperburuk persepsi risiko investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia.
Baca Juga
Gelontorkan Dana Segini, Harimas Agresif Tambah Saham Impack Pratama (IMPC)
“Kami mencermati adanya tekanan inflasi dari kenaikan biaya pangan dan logistik yang berpotensi membebani daya beli domestik,” ujarnya.
Meski demikian, pergerakan rupiah berpotensi mendapat dukungan dari sikap hawkish Bank Indonesia yang telah melakukan penyesuaian suku bunga secara kumulatif sebesar 100 basis poin (bps) sejak Mei. Selain itu, penundaan peninjauan pasar oleh MSCI juga dinilai dapat membantu meredam tekanan terhadap mata uang domestik.
Dengan mempertimbangkan dinamika teknikal dan fundamental yang berkembang saat ini, Sutopo memperkirakan nilai tukar USD/IDR masih bergerak dalam rentang yang cukup lebar pada pekan ini, yakni di kisaran Rp17.850 hingga Rp18.050 per dolar AS.
