Kebijakan Ekonomi RI Salah Arah Sejak 1990
Poin Penting
|
LAMPUNG, investortrust.id – Presiden Prabowo Subianto menilai kebijakan ekonomi Indonesia telah bergerak ke arah yang salah sejak dekade 1990-an karena semakin jauh dari amanat Pasal 33 UUD 1945. Menurut Presiden, Indonesia hanya bisa bangkit apabila kembali pada nasionalisme ekonomi, memperkuat kedaulatan atas sumber daya alam, menegakkan hukum, serta membangun pengusaha nasional yang patriotik.
Hal itu disampaikan Presiden Prabowo dalam pidatonya pada Musyawarah Nasional (Munas) XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di Lampung, Rabu (10/06/2026). Di hadapan para pengusaha muda, senior HIPMI, menteri Kabinet Merah Putih, pimpinan lembaga negara, kepala daerah, dan peserta Munas, Presiden mengajak dunia usaha menatap keadaan bangsa secara jujur.
Prabowo menegaskan, tidak ada kemajuan ekonomi suatu bangsa tanpa nasionalisme. Untuk memperkuat pandangannya, Presiden mengutip buku The Spirit of Capitalism: Nationalism and Economic Growth karya sosiolog Leah Greenfeld. Dalam buku tersebut, Greenfeld menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi modern tidak tumbuh dengan sendirinya, melainkan distimulasi dan dipertahankan oleh nasionalisme.
Baca Juga
Buka Munas Hipmi, Prabowo Tekankan Nasionalisme Fondasi Kemajuan Bangsa
“Pertumbuhan ekonomi distimulasi dan dipertahankan oleh nasionalisme,” kata Prabowo, menerjemahkan pokok pikiran Greenfeld di hadapan peserta Munas HIPMI. Menurut Presiden, pengalaman berbagai negara maju menunjukkan hal yang sama. Jepang, Amerika Serikat, negara-negara Eropa Barat, hingga Tiongkok dapat bangkit dan menjadi kekuatan ekonomi besar karena ditopang nasionalisme yang kuat. Karena itu, Prabowo menilai HIPMI sebagai wadah pengusaha muda harus kembali meneguhkan napas nasionalisme yang menjadi dasar kelahirannya.
Presiden menyebut HIPMI memiliki peran besar dalam sejarah ekonomi dan politik Indonesia. Dari organisasi ini lahir banyak tokoh pengusaha, pejabat publik, dan pemimpin nasional. Ia menyebut sejumlah nama seperti Abdul Latif, Siswono Yudo Husodo, Aburizal Bakrie, Erwin Aksa, Raja Sapta Oktohari, hingga Bahlil Lahadalia sebagai contoh tokoh HIPMI yang kemudian memainkan peran penting dalam pemerintahan, dunia usaha, dan politik nasional.
Namun, di tengah besarnya peran itu, Prabowo mengajak HIPMI melakukan refleksi. Ia mempertanyakan apakah sistem ekonomi Indonesia saat ini benar-benar telah berjalan berdasarkan nasionalisme dan kepentingan rakyat. “Marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri, apa benar sistem ekonomi kita sudah berdasarkan nasionalisme?” ujar Prabowo.
Menurut Presiden, bangsa Indonesia telah menyimpang dari pemikiran dan warisan para pendiri bangsa. Ia menyebut Sumpah Pemuda, Pancasila, dan UUD 1945 sebagai tiga warisan besar yang telah mempersatukan bangsa. Namun, khusus dalam bidang ekonomi, Prabowo menilai Pasal 33 UUD 1945 justru sering diabaikan, tidak dibicarakan, apalagi dilaksanakan secara sungguh-sungguh.
Baca Juga
Presiden menegaskan, Pasal 33 UUD 1945 dengan jelas menyatakan bahwa perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan. Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak harus dikuasai negara. Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya juga harus dikuasai negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Menurut Prabowo, rumusan itu tidak membutuhkan tafsir yang rumit. Amanat konstitusi tersebut harus dilaksanakan. “Ini bahasa Indonesia, tidak perlu ditafsirkan, tidak perlu diterjemahkan, harus dilaksanakan,” tegasnya.
Presiden menilai persoalan besar Indonesia adalah ketika kekayaan alam diambil, diolah, dijual ke luar negeri, tetapi hasilnya tidak disimpan dan tidak sepenuhnya dinikmati di dalam negeri. Ia menggambarkan kondisi tersebut seperti seorang pemilik warung yang setiap hari bekerja dan menabung, tetapi tabungannya justru diambil orang lain. “Selama puluhan tahun tabungan Indonesia diambil dan uangnya tidak ditaruh di Indonesia, tetapi ditaruh di luar negeri,” kata Prabowo.
Prabowo juga menyinggung ketimpangan akses pembiayaan antara pengusaha besar dan masyarakat kecil. Ia mengaku terkejut ketika mengetahui peserta kredit ultra mikro harus membayar bunga sekitar 24%, sementara pengusaha besar dapat memperoleh pinjaman dari bank-bank Himbara dengan bunga sekitar 9%-10%. “Bagaimana orang miskin bayar bunga lebih tinggi daripada pengusaha besar? Kejanggalan-kejanggalan ini yang saya coba luruskan,” ujar Presiden.
Baca Juga
Prabowo Sebut Indonesia Disukai Banyak Negara: Kalau Trump Undang, Berani Saya Enggak Datang?
Dalam kesempatan itu, Prabowo menjelaskan alasan dirinya berkali-kali maju dalam pemilihan presiden. Ia mengatakan keinginannya menjadi presiden bukan karena sekadar ingin menduduki jabatan, tetapi karena sejak dekade 1990-an telah melihat Indonesia menuju arah yang salah.
“Saya ingin jadi presiden karena saya sudah melihat dari tahun 90-an Indonesia menuju arah yang salah. Saya bukan mau jadi presiden hanya untuk jadi presiden,” katanya. Presiden juga menekankan pentingnya politik luar negeri bebas aktif dan nonblok. Ia mengatakan Indonesia harus bersahabat dengan semua negara, tidak ingin memiliki musuh, dan tidak boleh terlibat dalam pakta militer mana pun. Prinsip “seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak” menjadi garis politik luar negeri yang terus dijalankan pemerintah.
Menurut Prabowo, Indonesia kini banyak dicari oleh negara-negara besar karena dikenal sebagai negara yang tidak ingin bermusuhan dengan siapa pun. Ia mengaku dalam beberapa hari terakhir menerima 18 duta besar yang menyampaikan undangan kunjungan dari kepala negara atau kepala pemerintahan masing-masing.
“Untuk membela kepentingan rakyat, kita harus memelihara hubungan baik dengan semua pemerintah,” kata Prabowo. Di hadapan para pengusaha muda, Presiden menekankan bahwa pengusaha merupakan kunci kebangkitan ekonomi bangsa karena merekalah yang menciptakan lapangan kerja. Karena itu, pemerintah berkewajiban menciptakan iklim usaha yang baik. Namun, iklim usaha yang sehat hanya dapat terbentuk jika hukum ditegakkan.
Prabowo menegaskan pemerintah tidak anti-investor asing. Ia menyebut banyak investor asing ingin masuk ke Indonesia. Namun, semua investasi harus tunduk pada hukum dan kepentingan nasional. “Kalau hukum tidak ditegakkan, yang terjadi adalah hukum rimba,” kata Presiden.
Baca Juga
IHSG Berpeluang Naik Menuju Level 6.000, Tiga Saham Dipimpin DSAA Layak Dilirik
Ia juga mengingatkan para pengusaha agar tidak bermain-main dengan hukum. Pada era teknologi dan kecerdasan buatan, kata Prabowo, berbagai dokumen dan kontrak dapat ditelusuri dengan cepat. “Sekarang jangan coba-coba melanggar hukum. Sekarang ada teknologi, ada AI. Semua dokumen setebal ini bisa dibaca dalam lima menit,” tegasnya.
Prabowo meminta para pengusaha muda menjadi pengusaha patriotik. Kekayaan yang diperoleh dengan cara baik, katanya, harus digunakan untuk tujuan baik, termasuk membantu masyarakat yang belum mampu. Ia mengingatkan bahwa masa depan bangsa tidak akan baik apabila pengusaha hanya menumpuk kekayaan lalu menyimpannya di luar negeri tanpa peduli terhadap rakyat di sekitarnya.
Presiden juga menyampaikan sejumlah capaian dan arah pembangunan pemerintah. Ia menyebut Indonesia kini telah mencapai swasembada pangan dan sedang bekerja keras menuju swasembada energi. Dalam tiga tahun ke depan, pemerintah memperkirakan Indonesia akan semakin kuat di sektor energi.
Selain itu, pemerintah akan mempercepat industrialisasi melalui hilirisasi seluruh komoditas nasional. Semua komoditas Indonesia, kata Presiden, harus diolah di dalam negeri agar menciptakan industri, nilai tambah, lapangan kerja, dan pengusaha baru.
“Semua komoditas kita akan kita olah dan akan menjadi industri-industri di Indonesia. Ini kesempatan untuk pengusaha-pengusaha muda bangkit. Kita tidak mau hanya menjadi pasar bangsa lain,” ujar Prabowo.
Baca Juga
Prabowo Kembali Gaungkan Indonesia Incorporated di Munas Hipmi
Presiden juga menekankan pentingnya kemandirian industri nasional. Ia menyatakan setelah 81 tahun merdeka, Indonesia harus memiliki mobil buatan sendiri. Ia mencontohkan penggunaan kendaraan Maung buatan Pindad sebagai kendaraan yang ia pakai untuk memberi teladan keberpihakan kepada produk nasional.
Prabowo mengakui produk dalam negeri yang baru dirintis mungkin belum sempurna dibandingkan produk asing. Namun, menurut dia, nasionalisme menuntut keberanian untuk mendukung karya anak bangsa. “Suka tidak suka, karena saya presiden, saya harus kasih contoh. Saya harus pakai mobil buatan anak-anak Indonesia,” katanya.
Dalam pidatonya, Prabowo juga kembali menegaskan gagasan Indonesia Incorporated, yakni Indonesia sebagai satu kesatuan ekonomi. Menurut dia, dunia usaha boleh bersaing, tetapi persaingan tidak boleh dimaknai sebagai upaya saling menghancurkan. Persaingan harus menjadi sarana untuk saling memperkuat dan mengangkat. “Kita bersaing bukan untuk saling membunuh. Kita bersaing untuk saling mengangkat, saling memperkuat,” ujar Presiden.
Prabowo mengingatkan bahwa banyak negara kaya sumber daya alam hancur karena konflik internal. Ia menyebut Sudan, Libya, Irak, dan Suriah sebagai contoh negara kaya yang mengalami perang berkepanjangan. Karena itu, ia meminta para pemimpin muda menjaga persatuan, menghindari kebencian, dan tidak terjebak dendam politik maupun bisnis.
Baca Juga
Astra (ASII) Siapkan Buyback Saham Rp 8 Triliun, Tujuan Ini Diungkap
Presiden optimistis Indonesia memiliki masa depan luar biasa apabila bangsa ini bersatu, rukun, dan kembali pada Pancasila serta UUD 1945. Ia meyakini Indonesia dapat menjadi ekonomi terbesar keempat dunia pada 2045 setelah Tiongkok, Amerika Serikat, dan India.
Menurut Prabowo, pada 2045 para pengusaha muda HIPMI akan berada di puncak karier. Karena itu, mereka harus mempersiapkan diri sejak sekarang sebagai pengusaha yang militan, cerdas, tidak mudah menyerah, dan memiliki semangat kebangsaan yang kuat. “Jatuh, bangkit lagi. Jatuh, bangkit lagi. Dan selalu saya titip, kita harus bersatu. Gotong royong,” ujar Prabowo.
Presiden menutup pidatonya dengan pesan agar HIPMI terus menjaga semangat nasionalisme, mencintai tanah air, dan berdiri di jalan Merah Putih. Ia menegaskan dirinya tidak akan mengkhianati bangsa Indonesia dan akan terus berjuang membela rakyat.
“Percaya kepada pemimpinmu. Kami tidak akan berkhianat kepada bangsa Indonesia. Dari waktu muda pun kami siap mati untuk bangsa ini. Saya ingin mati di atas jalan yang benar, saya ingin mati di atas jalan Merah Putih, saya ingin mati membela rakyat saya,” pungkas Presiden.
