Rupiah Menguat ke Bawah Rp 18.000, Pelemahan DXY dan Kenaikan BI Rate Jadi Penopang
JAKARTA, investortrust.id –Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (10/6/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah menguat 0,55% ke level Rp 17.958 per dolar AS pada pukul 09.22 WIB, sekaligus kembali bergerak di bawah level psikologis Rp 18.000 per dolar AS.
Penguatan rupiah sejalan dengan pergerakan sejumlah mata uang Asia lainnya. Rupee India menguat 0,37%, won Korea Selatan naik 0,47%, yen Jepang menguat 0,01%, dan peso Filipina bertambah 0,05% terhadap dolar AS. Sebaliknya, yuan China, dolar Singapura, dan baht Thailand tercatat melemah terhadap dolar AS.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan penguatan rupiah terjadi di tengah pelemahan indeks dolar AS (DXY) yang berada di level 99,95. Penurunan DXY dipicu oleh meredanya ketegangan antara Iran dan Israel. Penghentian serangan mendorong investor mengurangi kepemilikan aset safe haven, termasuk dolar AS.
Baca Juga
Meski demikian, dolar AS masih bertahan di dekat level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir terhadap mata uang utama dunia. Kondisi tersebut dipengaruhi data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari ekspektasi sehingga memperkuat perkiraan bahwa Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun.
Saat ini, pasar memperkirakan peluang sekitar 70% untuk kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada Desember mendatang.
Investor juga menantikan rilis data inflasi AS yang dinilai dapat memberikan sinyal baru terkait arah kebijakan suku bunga The Fed setelah data ketenagakerjaan pekan lalu menunjukkan hasil yang lebih kuat dari perkiraan. “Sementara itu, Bank Sentral Eropa (ECB) secara luas diperkirakan akan menaikkan suku bunga pada pekan ini,” kata Andry.
Baca Juga
Dari dalam negeri, pasar turut merespons keputusan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%. BI juga menaikkan suku bunga fasilitas simpanan atau deposit facility overnight menjadi 4,50% dari sebelumnya 4,25%, serta menaikkan suku bunga lending facility menjadi 6,25% dari 6,00%.
Selain itu, para pembuat kebijakan mengumumkan sejumlah langkah untuk memperkuat nilai tukar rupiah, termasuk pemberian insentif guna menarik investasi asing. Paket kebijakan tersebut ditujukan untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah volatilitas pasar akibat situasi Timur Tengah serta memastikan inflasi tetap berada dalam kisaran target.
Pejabat pemerintah menyatakan langkah tersebut mencerminkan upaya menjaga stabilitas sistem keuangan dan mempertahankan kepercayaan terhadap perekonomian nasional di tengah meningkatnya risiko eksternal.

