Arsitek yang Tak Masuk Statistik
Poin Penting
|
Oleh: Herdy Harman dan Anton Hendranata *)
INVESTORTRUST - Indonesia saat ini berada dalam periode bonus demografi, yaitu ketika jumlah penduduk usia produktif jauh lebih besar dibandingkan penduduk usia nonproduktif. Namun peluang ini tidak berlangsung selamanya. Bonus demografi Indonesia diperkirakan hanya berlangsung sekitar 2020–2035. Peluang yang relatif singkat ini perlu dimanfaatkan sebaik mungkin untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Namun sesungguhnya yang menentukan bukanlah hanya banyaknya penduduk usia produktif, melainkan kualitas manusianya. Bonus demografi hanya menjadi berkah apabila generasi yang memasuki usia kerja tumbuh menjadi manusia yang sehat, terdidik, produktif, dan berkarakter.
Maka pertanyaan pentingnya bukan hanya berapa banyak penduduk usia produktif yang dimiliki Indonesia. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah siapa yang sedang mempersiapkan mereka hari ini?
Jawabannya mungkin tidak banyak muncul dalam statistik. Mereka adalah jutaan keluarga Indonesia. Dan di dalam keluarga itu, terdapat satu sosok yang sering bekerja paling awal sekaligus paling lama, yaitu ibu.
Ketika berbicara mengenai pembangunan nasional, kita biasanya membahas investasi, industri, infrastruktur, teknologi, atau pendidikan. Jarang sekali kita membicarakan ibu sebagai bagian dari strategi pembangunan bangsa.
Padahal hampir semua perjalanan hidup manusia berawal dari sana. Jauh sebelum seorang anak mengenal sekolah, ia terlebih dahulu mengenal rumah. Jauh sebelum bertemu guru, ia terlebih dahulu belajar dari keluarganya. Sebelum memahami matematika, sains, atau teknologi, ia terlebih dahulu belajar mengenai kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan kasih sayang.
Jika sekolah adalah tempat manusia belajar, maka rumah adalah tempat manusia dibentuk. Dan sebagaimana sebuah bangunan memerlukan arsitek yang merancang struktur dasarnya sejak awal, kualitas manusia juga dibangun melalui proses panjang yang dimulai dari keluarga.
Karena proses pembentukan manusia berlangsung jauh sebelum seseorang memasuki dunia kerja. Pembangunan sumber daya manusia (SDM) sesungguhnya harus dipahami sebagai proses yang dimulai dari keluarga dan berlangsung sepanjang kehidupan. Pemikiran inilah yang antara lain diangkat dalam buku “Indonesiaku 2045: Orkestrasi Pembangunan SDM Indonesia Berkelanjutan” karya Herdy Harman.
Orkestrasi Besar
Dalam buku tersebut, pembangunan manusia tidak dipandang sebagai tugas pemerintah semata. Pembangunan manusia merupakan sebuah orkestrasi besar yang melibatkan keluarga, sekolah, dunia usaha, komunitas, dan negara.
Menariknya, dari seluruh elemen tersebut, keluarga menempati posisi yang paling awal. Sebab sebelum seorang anak mengenal dunia luar, ia terlebih dahulu mengenal lingkungan keluarganya sendiri.
Di situlah dasar pembentukan manusia mulai dibangun. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa tahun-tahun awal kehidupan merupakan periode yang sangat menentukan. Pada masa tersebut, perkembangan otak berlangsung sangat cepat. Karakter mulai terbentuk. Kebiasaan belajar mulai berkembang. Rasa percaya diri mulai tumbuh. Apa yang terjadi pada fase ini sering kali meninggalkan jejak yang bertahan hingga dewasa.
Di sinilah peran seorang ibu menjadi sangat penting. Ia mungkin tidak memimpin perusahaan besar. Tidak memegang jabatan publik. Tidak tampil dalam laporan ekonomi. Namun dari tangannya, seorang anak sering kali pertama kali belajar tentang kerja keras, kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab.
Dalam banyak keluarga, ibu juga menjadi penolong yang menguatkan seluruh anggota keluarga ketika menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Ia menjadi tempat berbagi, sumber penghiburan, sekaligus penjaga harapan ketika keadaan tidak mudah. Tidak sedikit pula ibu yang menjalankan peran sebagai pendoa bagi keluarganya, membawa setiap pergumulan, kekhawatiran, dan cita-cita keluarga dalam doa yang mungkin tidak pernah diketahui orang lain. Peran-peran tersebut jarang terlihat, tetapi sering menjadi sumber kekuatan yang menjaga keluarga tetap bertahan dan bertumbuh.
Aktivitas itu terlihat biasa. Membangunkan anak untuk sekolah. Menyiapkan makanan keluarga. Menemani belajar. Menghibur ketika gagal. Menegur ketika salah. Namun justru dari hal-hal sederhana itulah karakter manusia dibentuk.
Apa yang terlihat sederhana di tingkat keluarga ternyata memiliki dampak yang sangat besar terhadap kualitas SDM suatu bangsa. Negara-negara yang berhasil membangun SDM unggul memahami kenyataan tersebut.
Tidak Mudah Diukur
Finlandia, Singapura, Jepang, dan Korea Selatan memang memiliki sistem pendidikan yang baik. Namun keberhasilan mereka tidak hanya bertumpu pada sekolah. Mereka juga memberi perhatian besar pada kesehatan ibu, perkembangan anak usia dini, dan penguatan keluarga.
Mereka memahami bahwa kualitas manusia tidak dibangun dalam hitungan bulan atau tahun. Ia dibangun dalam hitungan generasi.
Pelajaran tersebut juga sangat relevan bagi Indonesia yang saat ini sedang menikmati bonus demografi. Kita sering berbicara mengenai pentingnya meningkatkan kualitas SDM. Namun pembahasan tersebut sering dimulai dari sekolah, kampus, atau pelatihan kerja. Padahal proses pembentukannya telah dimulai jauh sebelumnya, yaitu di lingkungan keluarga.
Sayangnya, kontribusi keluarga sering kali sulit terlihat karena tidak mudah diukur. Kita dapat menghitung panjang jalan yang dibangun, jumlah investasi yang masuk, atau tingkat pertumbuhan ekonomi yang dicapai. Kita dapat menghitung ekspor, inflasi, dan cadangan devisa. Namun tidak ada angka yang mampu mengukur secara utuh berapa besar kontribusi seorang ibu dalam membentuk karakter generasi masa depan.
Padahal pengaruhnya sangat nyata. Integritas tidak lahir ketika seseorang menjadi pejabat atau pemimpin perusahaan. Integritas tumbuh ketika seorang anak diajarkan untuk berkata jujur. Disiplin tidak muncul ketika seseorang mulai bekerja. Disiplin tumbuh dari kebiasaan yang dibangun bertahun-tahun sebelumnya.
Begitu pula etos kerja, kemampuan mengelola emosi, kepedulian sosial, dan semangat belajar. Sebagian besar berawal dari rumah.
Dalam konteks itulah, perhatian terhadap kesehatan ibu, pemenuhan gizi keluarga, pendidikan anak usia dini, literasi keluarga, dan penguatan kapasitas orang tua tidak seharusnya dipandang sebagai program sosial semata.
Ini adalah investasi pembangunan. Investasi yang hasilnya mungkin tidak terlihat hari ini, tetapi sangat menentukan kualitas bangsa pada masa depan.
Sebuah negara dapat memiliki sumber daya alam yang melimpah. Namun tanpa manusia yang unggul, seluruh potensi tersebut sulit diubah menjadi kekuatan ekonomi maupun kekuatan nasional.
Jika demikian, maka pembahasan mengenai ibu sesungguhnya bukan sekadar pembahasan mengenai keluarga. Ini adalah pembahasan mengenai akar kekuatan bangsa.
Mungkin sepuluh atau dua puluh tahun lagi kita akan melihat dokter terbaik, ilmuwan terbaik, pengusaha terbaik, atau pemimpin terbaik Indonesia lahir dari generasi yang saat ini masih duduk di bangku sekolah dasar.
Ketika hari itu tiba, publik akan melihat prestasi mereka. Namun jauh sebelumnya, ada jutaan ibu yang bekerja dalam senyap. Tidak masuk berita. Tidak masuk laporan ekonomi. Tidak masuk statistik pembangunan. Tetapi dari tangan merekalah karakter, nilai, dan harapan generasi masa depan mulai dibentuk.
Pada akhirnya, keberhasilan Indonesia memanfaatkan bonus demografi tidak hanya ditentukan oleh banyaknya penduduk usia produktif. Keberhasilannya ditentukan oleh kualitas manusia yang berhasil dibangun. Dan pembangunan manusia selalu dimulai dari keluarga.
Karena itu, ketika kita berbicara tentang Indonesia Emas 2045, sesungguhnya kita juga sedang berbicara tentang jutaan ibu, yang setiap hari menyiapkan masa depan bangsa dari rumah mereka masing-masing. Mereka bukan hanya membesarkan anak-anak Indonesia, tetapi juga menjaga ketahanan keluarga sebagai unit terkecil bangsa. Mereka menjadi penolong yang menguatkan keluarga, sekaligus pendoa yang setia mengiringi perjalanan hidup anggota keluarganya.
Mereka mungkin tidak tercatat dalam statistik pembangunan. Namun tanpa mereka, pembangunan itu sendiri tidak akan pernah berhasil. Merekalah arsitek yang tak masuk statistik, tetapi dari tangan merekalah fondasi Indonesia Emas sedang dibangun.
*) Herdy Harman, Human Capital Enthusiast.
Anton Hendranata, Chief Economist PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (Pandangan pribadi penulis)
