Surplus Neraca Dagang April 2026 Menyusut Tajam, Impor Energi Melonjak
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 masih mencatatkan surplus, namun nilainya menyusut tajam menjadi hanya US$ 90 juta, jauh lebih rendah dibandingkan surplus US$ 200 juta pada April 2025. Angka ini juga berada di bawah ekspektasi pasar sebesar US$ 1,5 miliar dan proyeksi Samuel Sekuritas Indonesia (SSI Research) sebesar US$ 170 juta.
Dalam laporan Samuel Economic Update: Balance of Trade yang diterbitkan pada Selasa (02/03/2026), tim riset SSI menilai surplus April 2026 merupakan yang terkecil sejak Indonesia sempat mengalami defisit perdagangan pada awal pandemi Covid-19 pada April 2020. Kondisi ini menunjukkan meningkatnya tekanan terhadap keseimbangan eksternal Indonesia meskipun ekspor mengalami lonjakan yang cukup kuat.
Menurut SSI Research, kinerja perdagangan April memperlihatkan dua sisi yang kontras. Di satu sisi, ekspor tumbuh sangat kuat. Di sisi lain, impor melonjak lebih tinggi sehingga menggerus surplus perdagangan.
Ekspor Indonesia pada April 2026 tercatat meningkat 21,98% secara tahunan (year-on-year/YoY). Kenaikan ini berbalik arah dari kontraksi 3,10% YoY pada Maret 2026 dan menjadi laju pertumbuhan ekspor tercepat sejak Agustus 2022.
Peningkatan ekspor terutama didorong oleh ekspor nonmigas yang tumbuh 23,36% YoY. Pengiriman barang ke sejumlah mitra dagang utama menunjukkan kenaikan signifikan, antara lain ke Amerika Serikat sebesar 38,72%, China 29,56%, Jepang 10,03%, dan negara-negara ASEAN 13,26%.
SSI menilai kinerja tersebut menunjukkan permintaan global terhadap produk manufaktur dan komoditas Indonesia masih cukup tangguh di tengah ketidakpastian geopolitik dan perlambatan ekonomi di sejumlah negara maju. Namun, lonjakan ekspor tersebut tidak mampu mengimbangi peningkatan impor yang lebih agresif.
Total impor Indonesia pada April 2026 melonjak 22,49% YoY, jauh lebih tinggi dibanding pertumbuhan hanya 1,51% YoY pada Maret 2026 dan melampaui perkiraan pasar. Yang paling menonjol adalah kenaikan impor migas sebesar 85,52% YoY. Kenaikan tersebut mencerminkan meningkatnya kebutuhan energi domestik, pengisian kembali cadangan energi, serta bertambahnya kebutuhan impor bahan bakar dan produk minyak olahan di tengah konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah.
Sementara itu, impor nonmigas naik 14,11% YoY, yang menurut SSI mengindikasikan adanya percepatan pembelian bahan baku, barang antara, dan barang modal oleh pelaku usaha. Langkah ini diduga dilakukan sebagai antisipasi terhadap pelemahan nilai tukar rupiah yang berlanjut dalam beberapa bulan terakhir. Dari perspektif makroekonomi, SSI memperkirakan tren kenaikan impor masih akan berlanjut apabila depresiasi rupiah tidak dapat dikendalikan.
Baca Juga
Tekanan terhadap Neraca Eksternal
SSI Research mengingatkan bahwa surplus perdagangan yang semakin tipis memperkuat kekhawatiran terhadap posisi eksternal Indonesia.
Setelah Indonesia mencatat defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) kuartal I-2026 yang lebih besar dari perkiraan, data perdagangan April menunjukkan tekanan eksternal masih berlanjut akibat kombinasi pelemahan rupiah, tingginya impor energi, dan ketidakpastian global yang belum mereda.
Kondisi tersebut diperkirakan akan membuat pemerintah dan Bank Indonesia tetap waspada terhadap risiko stabilitas ekonomi, khususnya terkait volatilitas nilai tukar rupiah dan gejolak pasar keuangan global.
Menurut SSI, neraca perdagangan Indonesia masih berpeluang mempertahankan surplus sepanjang 2026. Namun, besarnya surplus diperkirakan jauh lebih kecil dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. “Surplus yang semakin sempit berpotensi menyulitkan upaya Bank Indonesia dalam menopang stabilitas rupiah,” tulis SSI dalam laporannya.
Ke depan, volume ekspor masih berpeluang bertahan karena adanya percepatan penempatan pesanan (front loading orders) oleh eksportir dan importir global sebelum potensi gangguan perdagangan internasional terjadi.
Di sisi lain, impor diperkirakan tetap tinggi karena dunia usaha masih melakukan pembelian lebih awal terhadap barang modal, bahan baku, dan barang antara sebagai antisipasi terhadap pelemahan rupiah yang berlanjut.
Data ini menunjukkan bahwa meskipun sektor ekspor Indonesia masih menunjukkan ketahanan, ketergantungan pada impor energi dan tekanan nilai tukar menjadi tantangan utama yang perlu diwaspadai dalam menjaga keseimbangan eksternal nasional sepanjang 2026.
