Kunci Perbaiki Daya Saing, RI Optimistis Kejar Target High-Income Country
Oleh Adi Budiarso,
Kepala Pusat Kebijakan Sektor Keuangan, Badan Kebijakan Fiskal, Kemenkeu
INVESTORTRUST.ID - Di tengah upaya keluar dari jerat middle income trap, Indonesia kini berhadapan dengan risiko perlambatan ekonomi global. Namun demikian, kami tetap optimistis untuk mengejar target mencapai level high-income country.
Saat ini, Indonesia sudah berhasil naik dari lower middle-income country menjadi upper middle income country. Target selanjutnya, tentu, naik dari upper-middle income country menjadi high-income country.
Tingkatkan Saya Saing
Perlu kita perhatikan, negara-negara yang mampu keluar dari middle-income trap dan menjadi negara berpenghasilan tinggi ialah yang mampu meningkatkan daya saing serta produktivitas. Tanpa memiliki daya saing dan produktivitas tinggi, Indonesia akan terus terjebak dalam middle income trap.
Pada tahun 2021, menurut klasifikasi Bank Dunia, negara dengan pendapatan per kapita antara US$ 1.036 hingga US$ 12.535 dianggap masuk ke dalam middle-income country. Klasifikasi ini mencakup dua kategori, pertama, lower middle-income country dengan pendapatan per kapita antara US$ 1.036 hingga US$ 4.045. Sedangkan upper-middle income country berpendapatan per kapita antara US$ 4.046 hingga US$ 12.535.
Sementara berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik(BPS) pada 5 Februari 2024, perekonomian Indonesia 2023 yang diukur berdasarkan produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp 20.892,4 triliun. Sedangkan PDB per kapita mencapai Rp 75,0 juta atau US$ 4.919,7.
Kebijakan Reformasi Struktural
Pemerintah tentu saja terus mengoptimalkan kebijakan reformasi struktural, sebagai upaya untuk tetap on track menuju cita-cita mencapai high-income country. Berbagai kebijakan reformasi struktural telah dijalankan oleh pemerintah, yang diharapkan mendorong daya saing dan produktivitas dalam negeri.
Langkah Indonesia dalam melakukan reformasi struktural ini, antara lain, lewat reformasi sektor riil melalui Undang-Undang Cipta Kerja, serta reformasi fiskal melalui UU Harmonisasi Peraturan Perpajakan plus UU Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. Selain itu, terbaru, adalah reformasi sektor keuangan melalui UU Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan.
Namun demikian, pemerintah menyadari kebijakan reformasi struktural tidak serta-merta memberikan dampak signifikan dalam waktu dekat. Reformasi struktural ini tentu membutuhkan waktu agar dampaknya benar-benar terasa, dan ketika semua inisiatif reformasi struktural sudah berjalan, tentu akan berdampak besar terhadap sektor riil, fiskal, dan sektor keuangan.
Pemerintah akan terus melanjutkan reformasi struktural hingga ke berbagai aspek, termasuk kesehatan, pendidikan, dan lainnya, dalam rangka meningkatkan daya saing dan produktivitas Indonesia. Di samping itu, pemerintah akan terus mendorong kebijakan-kebijakan yang diharapkan dapat mengakselerasi pertumbuhan, antara lain hilirisasi, penguatan industri, digitalisasi, dan pembiayaan berkelanjutan.
Fundamental Perekonomian Indonesia
Meski berada di tengah perlambatan ekonomi global, kami tetap optimistis Indonesia akan mencapai kategori high-income country. Optimisme tersebut didasari atas fundamental perekonomian Indonesia yang terbukti cukup kuat. Hal ini antara lain ditunjukkan oleh tingkat pertumbuhan ekonomi yang masih cukup tinggi, dibandingkan dengan negara-negara lain.
Contohnya, setidaknya pada tahun 2023, Indonesia berhasil mempertahankan tren dengan mencatat pertumbuhan ekonomi 5,05% (year on year). Indonesia juga dikatakan berhasil mengendalikan inflasi pada level 2,61%.
Meski berada di tengah perlambatan ekonomi global, kami tetap optimistis Indonesia akan mencapai kategori high-income country. Optimisme tersebut didasari atas fundamental perekonomian Indonesia yang terbukti cukup kuat. Hal ini antara lain ditunjukkan oleh tingkat pertumbuhan ekonomi yang masih cukup tinggi, dibandingkan dengan negara-negara lain.
Contohnya, setidaknya pada tahun 2023, Indonesia berhasil mempertahankan tren dengan mencatat pertumbuhan ekonomi 5,05% (year on year). Indonesia juga dikatakan berhasil mengendalikan inflasi pada level 2,61%.
Pertumbuhan ekonomi yang relatif kuat ini berdampak positif terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Terdapat dua faktor utama yang menunjukkan dampak positif terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat, yakni tingkat pengangguran terbuka dan tingkat kemiskinan menurun.
Penciptaan lapangan kerja yang tinggi mampu menurunkan tingkat pengangguran terbuka ke 5,82% pada Agustus 2023, dari sebelumnya 5,86% pada Agustus 2022. Kemudian, aktivitas ekonomi yang kuat telah mendorong penurunan tingkat kemiskinan dari 9,54% pada Maret 2022, menjadi 9,36% di tahun 2023. ***

