Rupiah dan Kepercayaan Pasar
Poin Penting
|
Oleh: Anton Hendranata *)
INVESTORTRUST - Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS mengalami tekanan cukup besar sampai pertengahan Mei 2026. Rupiah terdepresiasi sekitar 5,8% ke level Rp 17.656/USD hingga 18 Mei 2026. Tekanan ini terutama dipicu meningkatnya ketidakpastian global, mulai dari perang di Timur Tengah, lonjakan harga minyak dunia, suku bunga global yang masih tinggi, dan keluarnya arus modal dari negara berkembang. Hal ini kemudian memunculkan kembali trauma lama. Apakah Indonesia sedang mengarah pada situasi seperti krisis ekonomi dan politik 1998?
Kekhawatiran itu bisa dimaklumi. Namun membandingkan kondisi hari ini dengan 1998 sebenarnya kurang tepat dan prematur, bahkan berlebihan.
Krisis 1998 merupakan krisis multidimensi. Pada saat itu Indonesia menghadapi tekanan ekonomi, keuangan, dan politik secara simultan. Sistem perbankan rapuh, utang luar negeri swasta sangat besar, inflasi melonjak signifikan, cadangan devisa minim, dan kepercayaan terhadap sistem ekonomi runtuh dalam waktu cepat. Kondisi politik yang tidak stabil memperbesar kepanikan pasar dan mempercepat depresiasi Rupiah.
Keadaan hari ini rasanya berbeda cukup jauh. Tekanan terhadap Rupiah saat ini lebih dominan berasal dari faktor global dan perubahan sentimen pasar internasional, bukan karena kerusakan fundamental ekonomi domestik. Namun demikian, bukan berarti ekonomi domestik tanpa celah dan tantangan. Ketidakpastian global yang meningkat memberi tekanan terhadap pasar keuangan dan persepsi investor.
Perang Timur Tengah menjadi salah satu sumber utama tekanan tersebut. Pasar melihat konflik ini sangat mengganggu distribusi energi dunia dan memicu lonjakan harga minyak global. Ketika risiko geopolitik meningkat, investor global biasanya langsung mencari aset aman, seperti Dolar AS dan emas. Akibatnya, mata uang negara-negara Emerging Markets ikut tertekan, termasuk Rupiah.
Lonjakan harga minyak kemudian menjadi beban berat bagi perekonomian dunia. Negara-negara importir energi menghadapi tekanan inflasi dan risiko fiskal yang lebih besar. Pada saat yang sama, bank sentral global menjadi semakin terbatas ruang kebijakan moneternya karena inflasi energi naik signifikan.
Dalam kondisi seperti ini, imbal hasil US Treasury naik. Kombinasi suku bunga AS yang masih tinggi, penguatan Dolar AS, dan meningkatnya risk aversion akhirnya mendorong arus modal keluar dari Emerging Markets, termasuk Indonesia.
Selain faktor eksternal, pelemahan Rupiah saat ini juga dipengaruhi faktor musiman. Periode April-Juni biasanya permintaan Dolar AS meningkat di dalam negeri, mulai dari repatriasi dividen, pembayaran utang luar negeri, impor energi, dan kebutuhan musim haji.
Oleh karena itu, tekanan Rupiah saat ini kemungkinan bersifat temporer dibandingkan struktural. Hal krusial lain yang perlu dipahami adalah pelemahan Rupiah tidak otomatis berarti Indonesia akan masuk ke jurang resesi.
Sampai saat ini, indikator domestik masih menunjukkan daya tahan yang baik. Konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama ekonomi nasional. Struktur ekonomi Indonesia juga relatif berbeda dibandingkan negara yang sangat bergantung pada ekspor. Ketika ekonomi global melambat, permintaan domestik masih mampu menjadi bantalan pertumbuhan.
Data pertumbuhan ekonomi juga masih menunjukkan ketahanan. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat 5,61%yoy pada triwulan I-2026. Aktivitas ekonomi domestik masih bergerak positif di tengah tekanan global yang meningkat.
Dari sisi sistem keuangan, kondisi perbankan juga jauh lebih sehat dibandingkan masa krisis 1998. Likuiditas relatif memadai, permodalan kuat, dan risiko kredit masih terkendali. Tekanan memang terjadi di pasar keuangan, tetapi belum menunjukkan tanda gangguan sistemik.
Bank Indonesia menilai Rupiah saat ini berada pada level undervalued dan berpotensi kembali stabil, bahkan cenderung menguat ke depan karena fundamental domestik relatif sehat.
Pandangan tersebut sejalan dengan pendekatan Real Effective Exchange Rate (REER) yang indeksnya jauh di bawah 100. Kemudian diperkuat dengan empat model ekonometrika internal BRI yang menunjukkan Rupiah saat ini berada sekitar 2-5 persen lebih lemah dari nilai fundamentalnya. Dengan kata lain, pelemahan yang terjadi saat ini lebih banyak dipengaruhi sentimen jangka pendek dibandingkan perubahan fundamental ekonomi.
Proyeksi internal BRI dengan menggunakan model N-HITS (Neural Hierarchical Interpolation for Time Series), juga menunjukkan Rupiah berpotensi bergerak lebih stabil pada Semester II-2026 dan dapat kembali menuju kisaran Rp16.900-an per Dolar AS pada akhir tahun, jika tekanan global mulai mereda pada Juli 2026, disertai dengan respons kebijakan moneter dan fiskal yang presisi.
Namun pasar keuangan selalu bergerak random, bukan kepastian tunggal. Karena itu, skenario risiko tetap perlu diperhatikan dan tak dapat diabaikan.
Dalam skenario global yang sangat ekstrem, ruang tekanan terhadap Rupiah tentu masih mungkin. Risiko tersebut terutama jika perang Timur Tengah mengalami eskalasi lebih besar dan mengganggu distribusi energi global secara signifikan. Jika rata-rata harga minyak bertahan tinggi di atas USD 100 per barel, tekanan inflasi global dan volatilitas pasar keuangan akan meningkat jauh lebih besar.
Dalam kondisi seperti itu, The Fed kemungkinan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan bisa menaikkan suku bunganya. Imbal hasil US Treasury dapat naik signifikan, Dolar AS menguat lebih agresif, dan arus modal keluar dari Emerging Markets semakin masif. Akibatnya, tekanan terhadap Rupiah berisiko bertahan lebih lama, disertai volatilitas pasar keuangan yang lebih tinggi.
Dari sisi domestik, risiko juga dapat meningkat apabila persepsi investor terhadap aset Indonesia memburuk. Pasar saat ini sangat sensitif terhadap isu kredibilitas kebijakan, kualitas fiskal, dan stabilitas pasar keuangan.
Keputusan MSCI sebelumnya yang memberikan interim treatment terhadap pasar saham Indonesia menunjukkan bahwa investor global semakin memperhatikan aspek likuiditas pasar dan aksesibilitas investasi domestik. Sementara itu, perubahan outlook Moody’s menjadi negatif menunjukkan pasar mulai lebih sensitif terhadap persepsi kualitas tata kelola, arah fiskal, dan konsistensi kebijakan.
Apabila sentimen tersebut memburuk secara bersamaan, tekanan terhadap Rupiah dapat menjadi lebih besar karena memicu additional portfolio outflows.
Persepsi dan Kredibilitas
Dalam kondisi seperti ini, komunikasi dan regulasi pemerintah menjadi sangat penting. Pasar keuangan sekarang tidak hanya bergerak berdasarkan data ekonomi, tetapi juga persepsi terhadap arah kebijakan. Konsistensi komunikasi fiskal, kepastian regulasi, dan koordinasi kebijakan menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas Rupiah.
Pasar pada dasarnya menyukai kepastian. Ketika arah kebijakan terlihat jelas, konsisten, dan kredibel, tekanan terhadap aset domestik biasanya ikut mereda. Sebaliknya, perubahan kebijakan yang terlalu cepat, komunikasi yang tidak sinkron, atau munculnya ketidakpastian regulasi dapat memperbesar persepsi risiko investor.
Oleh karena itu, menjaga kredibilitas kebijakan menjadi sama pentingnya dengan menjaga stabilitas fundamental ekonomi itu sendiri.
Dalam menjaga stabilitas Rupiah, Bank Indonesia juga telah menyiapkan berbagai langkah stabilisasi. Intervensi dilakukan di pasar spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), hingga pasar offshore melalui NDF. Bank Indonesia juga menjaga daya tarik instrumen SRBI, membeli SBN di pasar sekunder, serta memastikan likuiditas pasar tetap memadai.
Selain itu, Bank Indonesia juga memperketat pembelian Dolar AS tanpa underlying dan mulai mendorong diversifikasi transaksi melalui pengembangan pasar Yuan-Rupiah untuk mengurangi ketergantungan terhadap Dolar AS.
Ke depan, ada beberapa faktor yang dapat menjadi dasar penguatan kembali Rupiah. Tekanan musiman permintaan Dolar AS diperkirakan mulai mereda pada semester II-2026. Pasar juga mulai berharap adanya de-eskalasi geopolitik global, khususnya di Timur Tengah. Di sisi lain, fundamental ekonomi Indonesia masih relatif menarik dibandingkan banyak negara berkembang lainnya.
Di titik inilah penting menjaga perspektif secara lebih jernih dan tenang. Nilai tukar memang penting, tetapi pergerakan Rupiah dalam jangka pendek tidak selalu mencerminkan kondisi fundamental ekonomi secara keseluruhan.
Pada akhirnya, pasar tidak hanya melihat pertumbuhan, tetapi juga stabilitas, dan konsistensi kebijakan. Selama fondasi ekonomi tetap kuat dan kredibilitas kebijakan terjaga, maka Rupiah akan nyaman tinggal di rumahnya sendiri.
*) Dr Anton Hendranata, Chief Economist PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.
(Pandangan pribadi penulis)

