Remiges dan APEI Gelar Diskusi Pengawasan Pasar Modal untuk Perkuat Keamanan dan Kepercayaan Investor
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Perusahaan perangkat lunak Remiges Technologies bersama Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) menggelar diskusi bertajuk “Modern Market Surveillance: From Alerts to Intelligence”. Diskusi ini bertujuan memperkuat sistem pengawasan transaksi serta meningkatkan keamanan dan kepercayaan investor di pasar modal Indonesia.
Managing Director & CEO Remiges Technologies Shraddha Thanawala menyampaikan bahwa tantangan utama yang dihadapi pasar modal saat ini, termasuk di Indonesia, meliputi transaksi terkoordinasi, manipulasi harga, hingga perubahan rekening dana nasabah (RDN) yang berpotensi disalahgunakan.
Baca Juga
CEO Remiges Sebut Indonesia Punya Potensi Samai Pasar Modal India, Kenapa?
Guna menjawab tantangan tersebut, Remiges menghadirkan sistem pengawasan berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan machine learning (ML). “Sistem pengawasan ini setara dengan CCTV di dunia fisik. Bedanya, kami mengawasi pola transaksi di berbagai sistem dan mengidentifikasi anomali secara real time,” ujar Shraddha di Artotel Mangkuluhur Hotel Jakarta, Kamis (29/1/2026).
Ia menjelaskan, sistem tersebut bekerja dengan memberikan tingkat probabilitas risiko pada setiap transaksi. Transaksi berisiko rendah akan ditandai aman, sementara transaksi dengan risiko menengah akan memicu peringatan kepada pialang untuk melakukan pemeriksaan lanjutan. Adapun transaksi berisiko tinggi akan direkomendasikan untuk ditahan sementara karena dinilai sangat mencurigakan.
Remiges menawarkan dua produk utama, yakni Remiges Serversage dan Remiges Crux. Serversage berfungsi sebagai alat observabilitas untuk memantau pola dalam aplikasi dan sistem perdagangan, sedangkan Crux merupakan mesin pencocokan pola yang dilengkapi fitur anti-money laundering (AML) berbasis aturan.
Baca Juga
OJK Ajukan Agenda Jangka Pendek dan Menengah ke MSCI, Target Tuntas Mei 2026
Menurut Shraddha, kombinasi kedua produk tersebut mampu membentuk sistem pengawasan menyeluruh yang dapat mendeteksi dan mencegah potensi kecurangan sejak dini.
Lebih lanjut, Remiges menegaskan bahwa penguatan sistem pengawasan tidak hanya berfokus pada aspek keamanan, tetapi juga pada pembangunan kepercayaan investor.
“Ketika pialang memiliki kendali dan transparansi atas apa yang terjadi di pasar, investor akan melihat bahwa transaksi mereka aman. Dari situlah kepercayaan pasar tumbuh,” tegasnya.
Sementara itu, Executive Director APEI, Lily Widjaja, menyampaikan bahwa APEI ingin belajar dari pengalaman India yang dinilai lebih maju dalam pengawasan pasar modal. Ia menilai Remiges sebagai penyedia solusi teknologi yang relevan untuk membantu industri pasar modal Indonesia dalam mengantisipasi dan mendeteksi potensi kecurangan.
“Surveillance system ini memungkinkan deteksi dini, antisipasi, dan mitigasi risiko. Itu yang ingin kami pelajari dan lihat relevansinya untuk pasar modal Indonesia,” kata Lily.
Belajar dari India
Sementara itu, Direktur APEI Darma Lantap menambahkan bahwa meskipun sejumlah anggota bursa di Indonesia telah menggunakan teknologi pengawasan serupa, kemampuannya masih terbatas. Kehadiran solusi dari Remiges dinilai menawarkan cakupan dan fitur yang lebih komprehensif.
Baca Juga
OJK Dorong Direksi BEI Perkuat Tata Kelola dan Agenda Strategis Pasar Modal
“Kalau yang lokal fiturnya masih sederhana. Sementara ini jauh lebih komprehensif. Pasar modal India sudah 10 tahun lebih maju dari kita. Apa yang Indonesia alami sekarang, itu yang dialami India satu dekade lalu,” ujar Darma.
Ia juga menyoroti perbedaan skala antara pasar modal Indonesia dan India, baik dari sisi kapitalisasi maupun nilai transaksi harian yang disebut telah mencapai sekitar sepuluh kali lipat lebih besar.
Melalui diskusi ini, Remiges dan APEI berharap kesadaran akan pentingnya sistem pengawasan pasar modal modern semakin meningkat di kalangan pialang. Dengan sistem yang transparan dan andal, keamanan transaksi dapat diperkuat sekaligus meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.

