Bagikan

Besok, 5 Mei 2026, BPS Umumkan PDB Kuartal I-2026

Poin Penting

BPS dijadwalkan merilis data PDB Kuartal I-2026 pada Selasa, 5 Mei 2026, yang menjadi acuan utama fundamental ekonomi domestik.
Pemerintah optimis pertumbuhan ekonomi mencapai 5,5%–6%, sementara LPEM FEB UI memproyeksi angka di kisaran 5,46% hingga 5,50%.
Fondasi ekonomi awal tahun ini ditopang oleh kuatnya konsumsi rumah tangga, investasi di sektor hilirisasi, serta percepatan proyek strategis nasional.

JAKARTA, Investortrust.id — Pemerintah dan pelaku pasar menanti rilis resmi data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 yang akan diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada Selasa, 5 Mei 2026. Pengumuman ini menjadi penentu arah awal kinerja ekonomi nasional di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian.

Secara historis, BPS memang merilis data Produk Domestik Bruto (PDB) triwulanan setiap tanggal 5 atau hari kerja pertama di bulan Mei untuk periode Januari–Maret. Dengan demikian, rilis besok akan menjadi acuan utama bagi pemerintah, investor, dan pelaku usaha dalam membaca kekuatan fundamental ekonomi domestik pada awal tahun ini.

Sejumlah proyeksi menunjukkan kinerja ekonomi Indonesia tetap solid. Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 berada di kisaran 5,48%. Sementara itu, pemerintah menunjukkan optimisme lebih tinggi dengan ekspektasi pertumbuhan mampu menembus di atas 5,5%.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bahkan menyampaikan proyeksi yang lebih agresif, yakni pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 dapat berada di kisaran 5,5% hingga 6%. “Kalau kata Pak Febrio, pertumbuhan ekonomi sekitar 5,5%-6% mungkin bisa,” ujar Purbaya dalam paparan APBN KiTa di Jakarta, Rabu, 11 Maret 2026.

Menurut dia, fondasi pertumbuhan ekonomi pada awal tahun ini masih ditopang oleh kuatnya konsumsi rumah tangga, percepatan proyek strategis nasional, serta geliat sektor perumahan dan manufaktur berbasis hilirisasi. Kombinasi faktor tersebut dinilai mampu menjaga momentum ekspansi ekonomi di tengah tekanan eksternal.

Baca Juga

Purbaya Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Tembus 5,5% di Kuartal I 2026

Dari sisi stabilitas, inflasi tetap berada dalam kendali, tercatat sebesar 4,76% secara tahunan. Sementara itu, sektor keuangan domestik juga menunjukkan ketahanan, dengan tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) masih dapat dikelola meski sentimen global cenderung risk-off.

Pemerintah juga terus menjaga kepercayaan pasar melalui stabilisasi kebijakan fiskal dan moneter. “Pemerintah ke depan akan menjaga stabilitas pasar keuangan dan membangun market confidence,” kata Purbaya.

Dari sektor energi, realisasi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) hingga Februari 2026 tercatat sebesar US$68,8 per barel, masih berada di bawah asumsi APBN sebesar US$70 per barel. Secara rata-rata hingga 11 Maret 2026, ICP diperkirakan berada di kisaran US$68,4 per barel, meskipun terdapat tekanan kenaikan harga global dalam beberapa waktu terakhir.

Dengan berbagai indikator tersebut, pelaku pasar kini menunggu apakah realisasi PDB yang akan diumumkan BPS mampu memenuhi ekspektasi atau justru memberikan kejutan. Jika pertumbuhan benar berada di kisaran 5,4%–5,5% atau bahkan lebih tinggi, maka hal ini akan memperkuat narasi bahwa ekonomi Indonesia tetap resilien di tengah gejolak global.

Sebaliknya, jika realisasi berada di bawah proyeksi, pasar berpotensi merespons dengan peningkatan volatilitas, terutama di sektor keuangan dan pasar saham. Oleh karena itu, rilis data pada 5 Mei 2026 tidak hanya menjadi agenda statistik rutin, tetapi juga menjadi barometer awal arah ekonomi Indonesia sepanjang tahun ini.

Tumbuh 5,46% hingga 5,50%

Sementara itu, ekonom makroekonomi dan pasar keuangan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), Teuku Riefky memperkirakan PDB kuartal I-2026 tumbuh 5,48% (yoy) dengan rentang estimasi 5,46% hingga 5,50%.

“Adapun pertumbuhan sepanjang tahun ini diperkirakan mencapai 5,15% (yoy) dengan kisaran 5,1% sampai 5,2%,” ujar Riefky dalam keterangan resmi yang diterima investortrust.id.

Berdasarkan data BPS, ekonomi Indonesia tumbuh 5,39% (yoy) pada kuartal IV-2025, meningkat dari 5,04% (yoy) pada kuartal III-2025 dan membawa pertumbuhan tahunan menjadi 5,11% (yoy).

Pertumbuhan yang lebih kuat ini sebagian besar didorong permintaan musiman akhir tahun dan berbagai langkah stimulus pemerintah, termasuk diskon transportasi, transfer tunai, bantuan Pajak Pertambahan Nilai (PPN), dan subsidi kredit untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Riefky menjelaskan, aktivitas manufaktur tetap menjadi mesin utama pertumbuhan pada kuartal IV-2025, berkontribusi 20,4% terhadap PDB dan tumbuh 5,40% (yoy) meskipun sedikit melambat dari 5,54% (yoy) pada kuartal sebelumnya.

Menurut Riefky, konsumsi rumah tangga tetap menjadi pilar utama pertumbuhan pada kuartal IV-2025, menyumbang 52,38% dari PDB dan tumbuh 5,11% (yoy), naik dari 4,90% (yoy) pada kuartal sebelumnya, kendati masih di bawah pertumbuhan PDB keseluruhan.

“Peningkatan ini sebagian besar didorong oleh faktor musiman akhir tahun, terutama Natal dan Tahun Baru, serta langkah-langkah dukungan pemerintah,” tutur dia.

Tekanan harga, kata Riefky, meningkat signifikan pada kuartal I-2026 dengan inflasi umum naik melampaui kisaran target Bank Indonesia (BI) untuk pertama kalinya sejak April 2024, mencapai 3,55% (yoy) pada Januari dan memuncak di 4,76% (yoy) pada Februari, sebelum mereda menjadi 3,47% (yoy) pada Maret.

Baca Juga

BI Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2026 Sebesar 5,2%

“Lonjakan tersebut terutama didorong oleh efek basis rendah dari subsidi tarif listrik pada kuartal pertama 2025 yang memperbesar perbandingan tahun ke tahun, bersamaan dengan volatilitas harga pangan,” papar dia.

Riefky mengungkapkan, aktivitas investasi pada kuartal I-2026 mencapai Rp 498,7 triliun, setara dengan 24,4% dari target tahunan, mencerminkan kenaikan 7,2% (yoy). Investasi asing tetap tangguh, namun menunjukkan tanda-tanda melambat secara kuartalan, dengan realisasi Rp 248,8 triliun pada kuartal I-2026, naik 8,0% (yoy) namun sedikit lebih rendah dibandingkan kuartal IV-2025.

“Komposisinya tetap didominasi oleh industri hilir, terutama logam dasar, meskipun terdapat pergeseran yang signifikan ke sektor jasa, termasuk pengembangan pusat data, yang mencatat pangsa historis tertinggi,” tutur dia.

Indonesia, menurut Teuku Riefky, terus mencatat surplus perdagangan pada dua bulan pertama 2026, menandai bulan ke-69 dan ke-70 berturut-turut neraca positif, dengan surplus kumulatif sebesar US$ 2,2 miliar. Namun, surplus tersebut anjlok 66,18% (yoy) dibandingkan periode sama 2025.

“Hal itu mencerminkan semakin melebarnya kesenjangan antara impor dan ekspor,” kata Riefky.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024