PDB Kuartal I Diumumkan Besok, Ekonomi Indonesia Diperkirakan Tumbuh Segini…
JAKARTA, investortrust.id – Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan data pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kuartal I-2024 pada Senin (6/5/2-24) besok. Kira-kira tumbuh berapa persen perekonomian Indonesia pada periode tersebut?
Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) memperkirakan PDB Indonesia pada kuartal I-2024 tumbuh 5,15% dengan kisaran proyeksi 5,12% hingga 5,17%. Sedangkan dalam setahun penuh (full year), PDB diprediksi tumbuh 5,1% dengan kisaran proyeksi 5,0% hingga 5,1%.
“Pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I-2024 didukung konsumsi domestik dan realisasi penanaman modal,” kata Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky dalam keterangan resmi yang diterima investortrust.id di Jakarta, Sabtu (4/5/2024).
Baca Juga
Dihajar Sentimen Global, KSSK Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Tembus 5% Triwulan I
Riefky menjelaskan, perekonomian Indonesia tumbuh5,04% secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal IV-2023 setelah melambat ke level 4,94% (yoy) pada kuartal sebelumnya.
“Pertumbuhan yang kuat pada kuartal akhir tahun lalumenyebabkan total pertumbuhan PDB full year 2023 mencapai 5,05% (yoy), melampaui ambang 5%,” tutur dia.
Meski demikian, menurut Teuku Riefky, muncul tanda-tanda yang mengkhawatirkan. Soalnya, tiga sektor terbesar, yaitu pertanian, manufaktur, dan perdagangan, yang berkontribusi 40% lebih terhadap ekonomi, menunjukkan tanda-tanda perlambatan pada kuartal IV-2024.
“Sektor-sektor yang lebih kecil, seperti transportasi, pertambangan, dan listrik tumbuh pesat, mengimbangi sebagian penurunan dari sektor-sektor utama,” ujar dia.
Riefky mengungkapkan, faktor-faktor eksternal, seperti ketegangan geopolitik, perlambatan ekonomi China, dan dampak El Nino pada produktivitas pertanian telah meningkatkan risiko yang dihadapi perekonomian Indonesia.
Dari dalam negeri, kata Riefky, sejumlah hal yang mengkhawatirkan juga meuncul, seperti menurunnya produktivitas struktural dalam pertanian, melemahnya daya beli di sektor perdagangan grosir dan eceran, serta lesunya sektor manufaktur.
“Meskipun menghadapi berbagai tantangan, ekonomi Indonesia tetap rebound. Ini menunjukkan ketahanan ekonomi kita, sekaligus menegaskan perlunya Indonesia mempercepat transformasi struktural dan meningkatkan produktivitas secara keseluruhan,” papar dia.
Tren Positif dan Tantangan
Teuku Riefky mengakui, kondisi eksternal yang memengaruhi ekonomi Indonesia pada awal 2024 menunjukkan kombinasi antara tren positif dan tantangan yang muncul.
Dia mengemukakan, investasi tumbuh kuat pada awal tahun ini. Realisasi investasi langsung (direct investment) mencapai Rp 401,5 triliun pada kuartal I-2024, tumbuh 22,1% (yoy). Di sisi lain, neraca perdagangan menurun.
“Surplus perdagangan turun menjadi US$ 7,34 miliar pada kuartal I-2024, anjlok 39,40% (yoy), terutama akibat penurunan ekspor yang lebih signifikan dibandingkan impor,” ucap dia.
Menurut Riefky, perlambatan ekspor dapat dikaitkan beberapa faktor, seperti perlambatan ekonomi China dan harga komoditas yang lebih rendah. Dalam waktu bersamaan, terjadi aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar obligasi domestik senilai US$ 1,89 miliar pada kuartal I-2024.
“Capital outflow terjadi kemungkinan karena perubahan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed dan ketidakpastian geopolitik global,” tutur dia.
Riefky menambahkan, seiring terjadinya capital outflow, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah 2,96% selama tahun berjalan (year to date/ytd) per akhir Maret 2024. Itu menunjukkan tekanan pada stabilitas eksternal, terutama dari sisi nilai tukar. Apalagi cadangan devisa turun hampir US$ 6 miliar sejak Desember 2023.
“Melihat ke depan, Indonesia menghadapi tantangan mengelola risiko dari pasar global yang tidak stabil. Juga perlunya manajemen kebijakan ekonomi dan moneter yang hati-hati untuk menghadapi tekanan eksternal ini,” tegas dia.
Baca Juga
Menko Airlangga Masih Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Tembus 5% di Kuartal I-2024
Riefky mengemukakan, kondisi perekonomian domestik dipenuhi berbagai peristiwa selama tiga bulan pertama 2024. Penyelenggaraan pemilu yang diikuti beberapa periode libur panjang berpotensi mendorong tingkat konsumsi secara umum.
Ramadan dan Idulfitri, kata Teuku Riefky, dapat memacu pertumbuhan ekonomi musiman lebih lanjut. Di pihak lain, realisasi investasi yang jauh melampaui target mencerminkan tingkat kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia saat ini.
“Itu sebabnya, kami memproyeksikan PDB tumbuh 5,15% (yoy) pada kuartal I-2024 dengan kisaran proyeksi 5,12% hingga 5,17%. Adapun untuk full year sekitar 5,1% dengan kisaran proyeksi 5,0% hingga 5,1%,” papar Riefky.
Dengan demikian, proyeksi pertumbuhan LPEM FEB UI lebih rendah dari asumsi makro APBN tahun ini. Asumsi pertumbuhan ekonomi dalam APBN 2024 dipatok 5,2%.

