Penyaluran Kredit Baru Q1-2026 Melorot, Ketidakpastian Global Tekan Investasi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Survei Perbankan yang digelar Bank Indonesia (BI) mengindikasikan penyaluran kredit baru pada kuartal I-2026 lebih rendah dibanding kuartal IV-2026. Pada kuartal I-2026 ini, penyaluran kredit baru tercatat sebesar 38,74% atau lebih rendah dibandingkan pertumbuhan kuartal sebelumnya yang mencapai 88,92%.
Pelemahan terjadi pada kredit modal kerja dan kredit investasi. Kredit modal kerja pada kuartal I-2026 sebesar 36,4% sementara kuartal sebelumnya 88,64%. Adapun kredit investasi pada kuartal I-2026 mencapai 37,33% turun dari pertumbuhan kuartal IV-2026 yang mencapai 87,32%.
“Pertumbuhan penyaluran kredit baru pada kuartal I-2026 terindikasi bersumber dari peningkatan kredit konsumsi sebesar 51,97%” bunyi laporan tersebut.
Peningkatan kredit konsumsi ini bersumber dari peningkatan permintaan kredit multiguna sebesar 51,9%, kredit tanpa agunan sebesar 37,23%, dan kredit kendaraan bermotor sebesar 13,38%.
Direktur Insight Kadin Indonesia Institute, Fakhrul Fulvian menyebut rendahnya kredit baru pada kuartal I-2026 berkorelasi dengan sentimen dunia usaha.
Baca Juga
Survei Kadin Ungkap Ketegangan Geopolitik Tekan Sentimen Bisnis Nasional di Kuartal I-2026
“Karena memang di tengah kuartal I-2026, mulai dari Februari mulai ada kekhawatiran terkait dengan peperangan,” kata Fakhrul, saat menyampaikan survei persepsi dunia usaha, di Menara Kadin, Jakarta, Jumat (24/4/2026).
Fakhrul menyebut kekhawatiran terhadap perang di Timur Tengah membuat ketidakpastian terkait ekspektasi ekonomi dan investasi. “Sehingga memang kondisinya itu ada penyesuaian ekspektasi,” ujar dia.
Dalam Survei Kadin Indonesia Business Pulse Q1-2026, menunjukkan sentimen pelaku bisnis mengarah ke penurunan. Sebanyak 40,5% pelaku bisnis tak setuju bahwa kondisi kuartal I-2026 membaik jika dibandingkan kuartal IV-2025.
“Jadi ada kenaikan yang harus kita perhatikan dengan kondisi bisnis,” kata dia.
Fakhrul menjelaskan sentimen tak membaiknya kondisi usaha ini mencerminkan pelaku usaha mulai menghadapi tekanan dari permintaan, biaya, dan daya beli masyarakat yang belum pulih.
“Dan menunjukkan sebenarnya ada isu permintaan yang belum stabil,” ujar dia.
Untuk itu, di tengah periode penuh tekanan ini, para pelaku usaha berharap pemerintah memberikan lebih banyak kelonggaran sehingga meski perusahaan melakukan efisiensi, para pekerja tetap dapat dipertahankan dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

