Kisah Sukses Mathieu Flamini Berbisnis Biokimia, Kekayaannya Ditaksir Rp 216,2 Triliun
JAKARTA, investortrust.id – Faiq Bolkiah boleh saja menjadi pesepak bola terkaya dunia dari jalur keturunan. Tapi, untuk urusan pemain paling tajir lewat keringat sendiri adalah Mathieu Flamini. Eks gelandang Arsenal dan AC Milan itu sukses berbisnis biokimia. Menurut Forbes, kekayaannya ditaksir US$ 14 miliar (Rp 216,2 triliun).
Mathieu Flamini sebagai pemain pada 2019 setelah membela Getafe sepanjang musim 2018/2019. Sebelumnya, orang lebih mengenalnya sebagai salah satu legenda Arsenal. Pemain Prancis itu bergabung dengan Arsenal pada 23 Juli 2004.
Selama bermain untuk The Gunners, Mathieu Flamini dikenal sebagai tandem sehati Cesc Fabregas di lini tengah. Dia adalah orang yang membuat Gilberto Silva terlempar dari starting line-up. Flamini juga membantu Arsenal menjuarai Piala FA dua kali, Community Shield satu kali, serta runner-up Liga Champions 2005/2006.
Pada musim panas 2008, Mathieu Flamini bergabung dengan AC Milan. Selama lima tahun, dia menjadi pemain penting di lini tengah. Dia bermain ketika I Rossoneri diperkuat David Beckham dan Filippo Inzaghi. Dia membantu mendapatkan Scudetto 2010/2011.
Baca Juga
Gagal Penalti Lawan Makedonia Utara, Bagaimana Nasib Jorginho di Timnas Italia?
Ternyata, keputusan Mathieu Flamini ke Serie A mengubah jalan hidup selamanya. Di Italia, dia bertemu Pasquale Granata. Bekerjasama dengan University of Pisa, Pasquale Granata dan Mathieu Flamini mendirikan GF Biochemicals. Nama perusahaan itu diambil dari "Granata" dan "Flamini".
GF Biochemicals adalah perusahaan biokimia. Itu adalah organisasi pertama di dunia yang mampu memproduksi Asam Levulinat secara massal. Asam Levulinat (4-oxopentanoic) adalah senyawa organik dengan rumus kimia CH3C(O)CH2CH2CO2H.
Asam Levulinat diklasifikasikan sebagai asam keto. Padatan kristal putih ini larut dalam air dan pelarut organik polar. Ini berasal dari degradasi selulosa dan merupakan prekursor potensial untuk biofuel, seperti etil levulinat.
Senyawa ini pertama kali dibuat oleh ahli kimia Belanda Gerardus Johannes Mulder dengan memanaskan fruktosa dan asam klorida. Tapi, Asam Levulinat belum mencapai penggunaan komersial dalam volume yang signifikan.
Produksi komersial pertama Asam Levulinat dimulai oleh A.E. Statey pada 1940-an. Lalu, pada 1953, Quaker Oats mengembangkan proses berkelanjutan untuk produksi Asam Levulinat. Selanjutnya, pada 1956 diidentifikasi sebagai bahan kimia platform dengan potensi tinggi.
Kemudian, pada 2004, Departemen Energi AS (US DoE) mengidentifikasi Asam Levulinat sebagai salah satu dari 12 bahan kimia platform potensial dalam konsep biorefinery. Banyak konsep untuk produksi Asam Levulinat secara komersial didasarkan pada teknologi asam kuat. Proses dilakukan secara terus menerus pada tekanan dan suhu tinggi.
Lignoselulosa adalah bahan awal yang murah. Asam levulinat dipisahkan dari katalis asam mineral dengan ekstraksi. Asam levulinat dimurnikan dengan destilasi. Dan, GF Biochemicals memulai produksi komersial Asam Levulinat pada 2015 dengan skala produksi 2.000 MT/a di Caserta, Italia.
Asam Levulinat produksi GF Biochemicals digunakan sebagai prekursor untuk obat-obatan, plasticizer, dan berbagai zat aditif lainnya. Asam Levulinat juga digunakan di industri kosmetik dan parfum. Senyawa ini juga mulai banyak digunakan di industri rokok untuk mengurangi kadang nikotin dalam tembakau.
Baca Juga
Inilah Rekor Baru Romelu Lukaku Saat Membantu Belgia Mengalahkan Azerbaijan
Menggunakan Asam Levulinat, industri akan semakin ramah lingkungan karena mengurangi penggunaan bahan bakar fosil.
Kemudian, pada 2017, GF Biochemicals mengumumkan membangun penyulingan bioteknologi selulosa di Amerika Serikat. Mereka bekerja sama dengan perusahaan bioteknologi lokal, American Process.
Mathieu Flamini sendiri merupakan bagian dari tim pencipta BIOCIRCE (Bioeconomy in the Circular economy). Itu gelar master pertama di Eropa yang didedikasikan untuk mempromosikan pendidikan bioekonomi. Ini diluncurkan bekerja sama dengan salah satu bank di Italia Intesa Sanpaolo, Novamont (produsen bioplastik), dan University of Napoli.
Mathieu Flamini juga ikut mendirikan The BioJournal. Itu adalah majalah digital pertama di dunia yang didedikasikan sepenuhnya untuk dunia bioteknologi dan kelestarian lingkungan. Jurnal itu dikelola oleh jurnalis lingkungan Italia Mario Bonaccorso.
Analis menyebut 20 miliar Poundsterling (Rp 384,9 triliun) sebagai pendapatan GF Biochemicals. Sementara menurut Forbes pada 2020, kekayaan bersih Mathieu Flamini sekitar USD 14 miliar atau sekitar Rp 216,2 triliun. Ada juga yang menyebut Mathieu Flamini dkk layaknya Mark Zuckerberg, Jack Ma, atau Bill Gates di dunia bioteknologi.
Baca Juga
Daftar Negara Lolos Euro 2024 di Jerman, Serbia yang Paling Baru

