Cerita Pengusaha Palembang yang Sukses Berbisnis Kuliner di Korea Berkat Diaspora Loan BNI
JAKARTA, investortrust.id – Mau berwisata ke Korea Selatan, khususnya Seoul? Jangan lupa mampir ke Ittaewon dan Hongdae. Di sana ada restoran Bakso Rindu Kampung dan Halo Indonesia milik Feriansyah, pengusaha asal Palembang yang sukses menjalankan bisnis kuliner berkat fasilitas Diaspora Loan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI).
Feriansyah, yang telah menetap di Seoul, Korea Selatan sejak 2011, memulai bisnis kuliner Bakso Rindu Kampung di kawasan Ittaewon, Seoul pada 2020. Restoran ini menawarkan menu khas Indonesia, seperti bakso dan nasi goreng.
Menghadirkan cita rasa yang berbeda dengan khas Indonesia yang kental, Bakso Rindu Kampung cepat dikenal dan menjadi restoran favorit di kawasan tersebut.
Baca Juga
Berkat dedikasi dan kerja kerasnya, Feriansyah berhasil mengembangkan bisnisnya. Ia kemudian membuka restoran baru bernama Halo Indonesia di daerah Hongdae, Seoul pada 2024. Kesuksesan Feriansyah berbisnis kuliner di Negeri Ginseng tak lepas dari dukungan BNI Seoul.
Sebagai satu-satunya bank asal Indonesia yang memiliki izin usaha full branch di Korea Selatan, BNI Seoul memberikan fasilitas Diaspora Loan senilai 25 juta won atau setara Rp 276,79 juta kepada Bakso Rindu Kampung pada akhir 2024.
Dana inilah yang digunakan Feriansyah untuk memenuhi kebutuhan modal kerja dan pengembangan usahanya di Korea Selatan.
“Melalui kantor luar negeri (KLN) BNI di Seoul, kami dapat memberikan fasilitas kredit untuk mendorong pertumbuhan usaha diaspora dengan fokus bisnis yang berhubungan dengan Indonesia,” tutur Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo dalam keterangan pers, Sabtu (11/1/2025).
Baca Juga
Fasilitas Diaspora Loan ini merupakan yang ketiga disalurkan BNI Seoul sejak program tersebut digulirkan pada 2022. Sebelumnya, dua diaspora Indonesia lainnya juga mendapatkan fasilitas serupa untuk mengembangkan bisnis mereka di Korea Selatan.
“BNI berkomitmen akan melanjutkan penguatan peran KLN agar dapat memberikan manfaat bagi diaspora dan pekerja migran Indonesia (PMI) sehingga berdampak terhadap perekonomian nasional,” tegas Okki.

