Penyebab Anjing Sering Mengejar Ekornya Sendiri, Salah Satu karena Bosan!
JAKARTA, investortrust.id - Pemandangan seekor anjing yang mengejar ekornya seringkali menarik perhatian, mulai dari permainan kejar-kejaran santai hingga perilaku yang lebih intens dan tampak obsesif seperti berputar-putar.
Biasanya, mengejar ekor secara sporadis adalah hal yang wajar dan merupakan bagian dari pola perilaku normal anjing. Namun, ketika pengejaran ekor menjadi terus-menerus dan obsesif, itu bisa menjadi tanda masalah kesehatan mendasar pada anjing yang membutuhkan perhatian dari dokter hewan.
Baca Juga
Pengejaran ekor pada anjing seringkali terlihat pada anakan anjing yang mungkin belum sepenuhnya menyadari bahwa ekor mereka adalah bagian integral dari tubuhnya.
Namun, ada juga penyebab lain di balik perilaku ini. Kebosanan bisa menjadi salah satu faktor, terutama ketika anjing mengalami kesendirian dalam jangka waktu yang lama tanpa stimulasi mental atau aktivitas fisik yang memadai.
Untuk mengatasi kebiasaan kejar-kejaran akibat kebosanan pada anjing, VCA Animal Hospitals di Los Angeles, dikutip dari Science Times, merekomendasikan melibatkan anjing dalam aktivitas yang melibatkan gerakan, seperti bermain lempar tangkap atau berjalan-jalan. Mereka juga menekankan bahwa sebagian besar anjing lebih suka mengejar bola daripada ekornya sendiri.
Baca Juga
Perilaku mencari perhatian juga diidentifikasi sebagai pemicu dari kegiatan mengejar ekor ini. Pemilik tanpa disadari 'mengizinkan' perilaku ini dengan memberikan tanggapan berupa tawa, pujian, atau teguran. Rumah Sakit Hewan Schertz merekomendasikan pendekatan mengatasi perilaku mengejar ekor dengan mengabaikan perilaku tersebut sambil tetap memastikan anjing menerima perhatian yang cukup melalui cara-cara lain.
Studi 2012 bertajuk Environmental Effects on Compulsive Tail Chasing in Dogs menyoroti kemungkinan hubungan antara perilaku mengejar ekor pada anjing dengan gangguan neurologis, khususnya gangguan kompulsif pada anjing yang serupa dengan gangguan obsesif-kompulsif pada manusia.
Para peneliti mempelajari 368 anjing dari ras yang memiliki kecenderungan untuk mengejar ekor, di mana perilaku ini umumnya dimulai antara usia 3 hingga 6 bulan. Ditemukan bahwa hampir setengah dari anjing yang mengejar ekor menunjukkan tingkat perilaku yang lebih intens, seperti mondar-mandir secara berulang-ulang, dibandingkan dengan anjing lainnya.
Tim peneliti juga mencatat bahwa suplemen makanan, terutama vitamin dan mineral, memiliki korelasi dengan penurunan aktivitas mengejar ekor. Selain itu, betina yang telah dikebiri juga menunjukkan tingkat pengejaran ekor yang lebih rendah, menunjukkan pengaruh dari hormon ovarium. Anjing yang mengejar ekor sering kali memiliki kecenderungan lebih pemalu dan terpisah lebih awal dari induknya dibandingkan dengan anjing yang tidak menunjukkan perilaku tersebut.
Namun jangan salah, perilaku mengejar ekor pada anjing juga bisa disebabkan oleh masalah fisik seperti cedera ekor, gatal-gatal karena parasit atau kutu, masalah pada kelenjar anal, atau reaksi alergi makanan. Jika terjadi perubahan tiba-tiba dalam perilaku mengejar ekor, disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter hewan untuk evaluasi lebih lanjut.

