Gol! Menilik Potensi Ekonomi dari Olahraga Terpopuler di Dunia
JAKARTA, investortrust.id - Di tengah gemuruh stadion sepak bola ada denyut ekonomi yang ikut bergerak. Para pelaku UMKM mulai dari pedagang makanan, penjual merchandise, bahkan tukang parkir mendapat manfaat langsung dari olahraga terpopuler dunia tersebut.
“Kalau bicara soal ekonomi, pada dasarnya kita bicara soal pengeluaran. Ada penjualan tiket, merchandise, kaos, sampai transportasi,” ujar Direktur Kebijakan Publik Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Media Wahyu Askar kepada Investortrust, belum lama ini.
Menurutnya, pertandingan Timnas memang membawa dampak ekonomi, terutama saat berlangsung di Gelora Bung Karno (GBK), namun perputaran ekonominya tidak berlangsung rutin. “UMKM yang diuntungkan pun terbatas, biasanya hanya pedagang musiman di sekitar GBK. Jadi sifatnya temporer,” tambahnya.
Beda cerita jika bicara soal Liga 1. Kompetisi ini berlangsung sepanjang musim, dengan klub-klub yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. “Liga 1 itu lebih berdampak secara agregat. Karena kompetisinya tersebar ke berbagai daerah, maka perputaran ekonominya lebih luas. Ini menyentuh masyarakat menengah ke bawah yang mayoritas ada di daerah,” ucap Wahyu yang juga menyukai olahraga sepak bola sejak usia 4 tahun tersebut.
Terkait jumlah penikmat sepak bola yang besar, bahkan disebut salah satu yang tertinggi di dunia, pria yang sempat mengambil kursus pelatih dan mengantongi sertifikat FA Coaching Level 1 dari Inggris ini melihat sepak bola di Indonesia seharusnya bisa menjadi industri yang menjanjikan.
“Kalau ditata dengan baik, dampaknya akan luar biasa,” katanya yakin.
Baca Juga
Kembali Jadi Sponsor BRI Liga 1, BRI Bantu Ciptakan Perputaran Ekonomi hingga Rp 10,4 Triliun
Dengan kemenangan Indonesia di pertandingan terakhir, harapan kembali menyala. Timnas masih berpeluang lolos ke Piala Dunia jika mampu melanjutkan tren positif di babak ketiga.
“Setelah ini lawan China. Kalau melihat permainan terakhir, kita harusnya bisa menang,” katanya optimistis.
Pertandingan melawan China dijadwalkan berlangsung pada Juni mendatang di GBK. Satu momen lagi di mana bola tidak hanya menyatukan supporter, tapi juga menggerakkan roda ekonomi.
Foto: Dok: BRI
Pekerjaan Rumah
Pengamat sepak bola nasional Estu Santoso menambahkan, kemenangan Timnas Indonesia atas Bahrain dalam laga terakhir kembali membangkitkan optimisme publik terhadap masa depan sepak bola nasional. Namun di balik euforia tersebut, pekerjaan rumah besar masih membayangi dunia si kulit bundar itu.
Estu mengakui, potensi Indonesia sebenarnya sangat besar. Namun persoalannya, potensi itu belum diiringi dengan sistem pembinaan dan kompetisi yang memadai.
Dari sisi kuantitas, Indonesia tidak kekurangan pemain muda. Sayangnya, pemain kurang diimbangi dengan kualitas pembinaan yang serentak. Sistem pelatihan yang berbeda-beda antar daerah, serta minimnya kompetisi usia muda yang terstruktur membuat proses pengembangan pemain menjadi kurang optimal.
“Sepak bola itu olahraga unit dan harus ada sistem yang sama di seluruh Tanah Air. Standar kualitas itu yang belum merata,” lanjut Estu.
Di sisi lain, perbaikan di level kompetisi profesional seperti Liga 1 menurutnya mulai terlihat. Hadirnya sponsor besar seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) pun menjadi angin segar.
Baca Juga
BRI Liga 1 Bergulir, Omzet UMKM Penjual Gorengan ini Meningkat hingga Dua Kali Lipat
Foto: Tangkapan layar Indosiar.
Sponsor Utama
Sebagai komitmen dalam mendukung perkembangan olahraga nasional, emiten kode saham BBRI itu kembali menjadi sponsor utama dalam BRI Liga 1 musim 2024-2025. Kontribusi tersebut berpotensi menciptakan perputaran yang mencapai Rp 10,42 triliun.
“Alasan utama BRI kembali menjadi sponsor untuk empat tahun berturut-turut tak lepas dari komitmen untuk terus menciptakan economic value dan menyampaikan deliver social value di masyarakat,” ujar Direktur Utama BRI Sunarso dalam siaran pers.
Sebagai sponsor utama BRI sejak musim 2021, BRI terus mendorong perbaikan mutu di BRI Liga 1 agar naik level di Asia dan ASEAN. Apalagi sepak bola, masih menjadi olahraga rakyat yang paling digemari di Indonesia, bahkan dunia. Hal ini sesuai dengan profil BRI yang memiliki keinginan untuk melayani masyarakat luas dari berbagai segmen yang tersebar di seluruh Indonesia.
Selain itu, faktor lain yang menjadi alasan BRI tetap mendukung perhelatan musim 2024-2025 tak lepas dari faktor ekonomi yang diciptakan dengan bergulirnya kompetisi.
Menurut Survei dari LPEM Universitas Indonesia tahun 2020, kompetisi Liga 1 diproyeksikan menciptakan perputaran uang mulai Rp 2,7 triliun hingga Rp 3 triliun dalam setahun.
Sementara, berdasarkan hasil riset terbaru yang dilakukan oleh BRI Research Institute yang dirilis pada Juli 2024, penyelenggaran BRI Liga 1 berpotensi menciptakan perputaran uang jauh lebih besar lagi, mencapai Rp 10,42 triliun.
Dari perputaran uang tersebut, dapat tercipta nilai tambah ekonomi (PDB) sebesar Rp 2,27 triliun, potensi pendapatan pajak tidak langsung bagi pemerintah sebesar Rp 866 miliar, serta penciptaan kesempatan kerja sekitar 45.000 orang.
Foto: BRI
“BRI tentu berharap jalannya kompetisi BRI Liga 1 ini dapat memberi dampak positif terhadap iklim kompetisi sepakbola nasional, sehingga liga ini dapat mencetak talenta-talenta muda berbakat yang akan mendorong prestasi sepakbola Indonesia di panggung global,” ucap Sunarso.
Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Erick Thohir mengapresiasi komitmen BRI yang menjadi sponsor BRI Liga 1 untuk tahun ke empat secara berturut turut.
”Karena pertama kali BRI menjadi sponsor Liga pada saat Covid, di mana liga sepak bola di seluruh dunia berhenti tapi BRI berani mengambil posisi bahwa sepak bola di Indonesia tidak boleh mati,” ujarnya.
Erick juga mengharapkan musim BRI Liga 1 2024/2025 makin mengangkat sepak bola Indonesia secara keseluruhan yang sudah menjadi perbincangan di level Asia.
Menurutnya, sejumlah aturan baru Liga yang siap diterapkan di musim baru harus mampu meningkatkan kualitas liga dan mutu klub-klub peserta sehingga bisa lebih bersaing di kompetisi liga Asia.
"Target utamanya menaikkan mutu Liga kita agar levelnya naik di Asia dan ASEAN. Tak hanya itu, kompetisi yang aman dan nyaman bagi penonton tetap menjadi prioritas di setiap musim baru liga. Setelah setahun lebih membenahi tim nasional kini saatnya PSSI membenahi liga," ungkap Erick yang juga Menteri BUMN tersebut.

