Menilik Potensi Pergerakan Uang B2B di Indonesia
JAKARTA, Investortrust.id - B2B (Business-to-Business) money movement merujuk pada proses pembayaran antara dua bisnis atau entitas bisnis. Ini mencakup semua transaksi keuangan yang terjadi antara perusahaan, seperti pembayaran tagihan, pembelian barang atau layanan, pembayaran gaji karyawan, dan transfer dana antar perusahaan.
Dalam konteks ini, money movement mengacu pada aliran dana dari satu bisnis ke bisnis lainnya. Ini bisa melibatkan transfer dana melalui berbagai saluran seperti transfer bank, pembayaran kartu kredit, pembayaran digital, dan lainnya. Tujuannya adalah untuk mengelola keuangan perusahaan dengan efisien, aman, dan transparan.
B2B money movement menjadi sangat penting dalam aktivitas bisnis karena akan memengaruhi likuiditas perusahaan, kemampuan untuk membayar tagihan tepat waktu, dan kemampuan untuk menjalankan operasi sehari-hari dengan lancar. Maka pengembangan solusi dan layanan yang memudahkan proses money movement antar bisnis menjadi fokus utama bagi banyak lembaga keuangan dan penyedia layanan pembayaran seperti halnya Visa.
Mengacu pada hasil studi McKinsey dan Ernst & Young, Gareth Parrington, Head of Commercial Money Movement: Regional South East Asia (IPVMC)Visa menyebutkan bahwa di Indonesiaterdapat dana sebesar US$ 4,2 triliun dalam pembayaran, atau pergerakan uang termasuk di ruang komersial.
“Sebagian besaradalah pembayaran B2B, sekitar hampir 3 triliun dolar. Lainnya adalah hal-hal seperti pembayaran yang dilakukan pemerintah, termasuk bentuk-bentuk baru pergerakan uang seperti gig economy (semacam kerja paruh waktu), dan kemudian bisnis kecil. Nilai yang sangat besar,” kata Gareth.
Bahkan ia menyebut jika dilihat dari sisi pembayaran pada konsumen dan pengeluaran konsumsi, maka pergerakan uang yang terjadi bisa mencapai enam kali lipat.
Menurut pria yang sehari-harinya berkantor di Singapura ini, layanan solusi pergerakan uang B2B sejatinya membutuhkan fondasi. Layaknya teori piramida hierarki kebutuhan manusia, solusi pergerakan uang secara B2B merupakan kebutuhan yang berada di puncak piramida hierarki, sehingga solusi pembayaran B2B baru bisa dicapai setelah kondisi dan kriteria lainnya terpenuhi.
“Layanan ini harus dimulai dari kebutuhan dasar dari sebuah sistem pembayaran, baik berupa digitalisasi alur kerja, persetujuan pembayaran yang efektif, didukung kebijakan, keamanan, kepatuhan, hingga validasi. Kemudian barulah pembayaran B2B bisa diselenggarakan,” ujarnya.
Bagaimana sebuah layanan dan solusi pergerakan uang secara B2B bisa terselenggara, serta apa saja keuntungan hingga tantangan yang dihadapi untuk merealisasikannya, Fajar Widhiyanto dan pewarta foto Mohammad Defrizal berkesempatan mengupasnya saat berbincang-bincang dengan Gareth Parrington baru-baru ini. Simak perbincangannya.
Apa yang menjadi concern Visa terkait pergerakan uang?
Kami bekerjamengembangkan ekosistem pembayaran, terutama dalam pembayaran B2B. membantu bisnis skala kecil membayar bisnis kecil lainnya. Membantu bisnis kecil membayar bisnis besar, termasuk untuk solusi pembayaran B2B dengan nilai besar. Kami mencoba memberikan solusi terbaru dalam pergerakan uang.
Orang beranggapan bahwa Visa hanyalah penyedia layanan jaringan kartuuntuk pembayaran. Mereka harus paham bahwa Visa juga menawarkan solusi untuk membantu mengembangkan bisnis kecil. Membantu bisnis membayar dan dibayar. Dan bahkan membantu individu mengirim uang lintas batas. Atau mengirim uang satu sama lain. Dan itu sangat menarik karena itu adalah area pertumbuhan yang sangat tinggi dalam hal digitalisasi. Termasuk peluang dan efisiensi. Banyak mitra kami yang berusaha meningkatkan hal itu. Jadi itu adalah peran saya.
Apa saja yang mendorong pergerakan uang di sisi B2B?
Ada enam tren utama secara global, termasuk di kawasan Asia, yang mendorong pergerakan uang, pertamakonsumerisasi dan digitalisasi pembayaran B2B. Sekarang semua orang terbiasa denganponsel dan aplikasinya. Mereka bisa punya pengalaman yang sangat menyenangkan saat membayar. Tetapi secara tradisional di sisi B2B, mereka tertinggal.
Anda tahu seberapa besar investasi yang tersedia. Agak tertinggal. Dan mereka tidak mendapatkan akses ke sumber daya. Sementara itu kami melihat pelaku bisnis mulai menuntut adanya pengalaman yang lebih smooth. Dan itu membentuk lanskap. Terutama di Indonesia dengan komunitas Fintech yang besar. Itu tren pertama.
Berikutnya tentang kebutuhandata real-time, visibilitas real-time. Tren ini mendorong permintaan dunia bisnis untuk bisa melihat posisi keuangan mereka. Apa yang mereka belanjakan dan apa yang akan mereka belanjakan, juga soal forecasting.
Kita juga akan bicara tentang gangguan rantai pasok, yang terjadi sejak merebaknya Covid. Banyak bisnis mengalami kendala dalam mendapatkanbarangke sistem manufakturmereka. Mereka harus mencari pemasok baru, membuat hubungan baru. Itu berarti tidak cuma membangun hubungan baru, tapi juga sistem pembayaran baru.
Berikutnya di iklim suku bunga tinggi, banyak pelaku usaha berpikir bagaimana mereka bisa membayarlebih efektif, bisa menggunakan produk modal kerjaberupa kartu? Kami mulai melihat permintaan ini berubah.
Dua tren terakhir yakni munculnya layanan industri tertentu terkait B2Bseperti pada bisnis konstruksi, FMCG, dan logistik. Mereka mulai ditangani dengan sangat spesifik oleh mitra keuangan, dan mereka bekerja sama dengan fintechuntuk memecahkan masalah ini.
Dan kemudian tren yang semua orang bicarakan adalah keuangan yang tersemat (embedded financing). Bagaimana pembayaran bisa menjadi bagian dari proses bisnis dengan sangat seamless, dapat terjadi secara otomatis dan bisa disederhanakan. Bagaimana (pengalaman ini, red) bisa disematkan ke dalam proses. Demikian enam tren tersebut.
Apa yang bisa didapat dari tren yang berkembang tersebut?
Dengan memahami tren-tren ini, kami dapat mulai memenuhi kebutuhan klien dengan lebih efektif terkait jenis pembayaran, dan seberapa cepat kami menyediakan data.
Seberapa besar potensi di layanan pergerakan uang di Indonesia?
Informasi dari McKinsey dan Ernst & Young, di Indonesia ada US$ 4,2 triliun dalam pembayaran, di ruang komersial dan pergerakan uang. Sebagian besaradalah pembayaran B2B, sekitar hampir 3 triliun dolar. Dan bagian lain dari itu adalah hal-hal seperti pembayaran yang dilakukan pemerintah, termasuk bentuk-bentuk baru pergerakan uang seperti gig economy (semacam kerja paruh waktu), dan kemudian bisnis kecil. Nilai yang sangat besar. Jika kita melihat pembayaran pada konsumen, pengeluaran konsumsi, sekitar enam kali lipat.
Apa yang akan VISA lakukan dengan potensi tersebut?
Kami berusaha membantu, menyediakan cara pembayaran yang lebih efektif, cara pembayaran yang smooth, aman, untuk membantu bisnis Indonesia tumbuh dalam ekonomi internasional.
Seberapa urgent sebuah layanan B2B payment untuk korporasi, khususnya di Asia?
Anda tentu mengetahui teori Maslow soal aktualisasi diri. Teori ini membahas aktualisasi diri yang terjadi secara bertahap dimulai dari langkah pemenuhan kebutuhan individu. Kami berpendapat, solusi pembayaran B2B memiliki kesamaan, karena pergerakan uang berada di puncak piramida. Jadi solusi pembayaran B2B baru bisa dicapai setelah kondisi dan kriteria lainnya terpenuhi.
Dalam bisnis, digitalisasi mampu menciptakan pengalaman seputar alur kerja. Setelah digitalisasi di berbagai jenis alur kerja terpenuhi, dan persetujuan atas pembayaran terjadi secara efektif, didukung kebijakan, dilengkapi pemeriksaan, keamanan, kepatuhan, validasi, kemudian barulah pembayaran B2B bisa diselenggarakan. Dan kami bekerja sama dengan banyak mitra, untuk dapat melayani keseluruhan piramida ini.
Apakah publik di posisi terbawah piramida tidak membutuhkan solusi B2B yang ditawarkan Visa?
Bicara tentang pembayaran B2B secara khusus, maka kita bicara tentang bisnis skala besar. Jadi, sebelum proses solusi B2B, Anda perlu memikirkan proses bisnis, apa yang terjadi sebelum uang bergerak. Kami menyiapkan solusi kejelasan pengeluaran, solusi yang memungkinkan pelaku usaha untuk memasukkan kartu pembayaran di sistem. Permintaan itu dapat diajukan ke manajer untuk persetujuan. Kemudian pemilik bisnis diminta menjelaskan untuk apa pengeluaran ini? Dan kemudian kami dapat menerapkan kontrol pada produk tersebut. Ini ada di salah satu solusi kartu virtual kami. Itu disebut Visa Spend Clarity for Enterprise, dan memungkinkan pelaku usaha untuk mengajukan permintaan kartu kredit dengan kartu virtual.
Apa itu kartu virtual?
Kartu virtual adalah kartu kredit satu kali pakai. Ini adalah token aman yang hanya bisa digunakan sekali. Dan diterapkan dengan kontrol pada jenis pengeluaran, kapan itu bisa terjadi, jumlah yang bisa digunakan.Berikutnya jika pembayaran harus dilakukan lewat tangan orang lain, dimungkinkan juga terjadi secara digitalmelalui persetujuan, yang berikutnya bisa dilaksanakan secara aman.Semua ini adalah kebutuhan sebelum pembayaran bahkan terjadi.
Baca Juga
Visa Foundation Siapkan Pendanaan US$ 100 Juta untuk UKM APEC
Apakah bisnis skala kecil tidak membutuhkan solusi B2B payment seperti yang disiapkan Visa?
Di bisnis skala kecil, yang terjadi biasanya manajer keuangan adalah orang yang sama dengan pemilik usaha, orang yang sama pula di urusan SDM. Pelaku usaha skala kecil biasanya menjalankan semua fungsi tersebut. Mereka tidak membutuhkan tingkat otomatisasi proses. Mereka tidak membutuhkan tingkat persetujuan, karena yang mengontrolnya adalah orang yang sama.
Yang mereka butuhkan adalah akses ke modal kerja. Mereka membutuhkan efisiensi. Dan mereka perlu lebih banyak waktu untuk menjalankan bisnis mereka. Menggaet pelanggan baru. Membuka pasar.
Jadi, mereka tidak membutuhkan layanan yang terkait dengan pembayaran B2B?
Mereka membutuhkan layanan. Tetapi mereka berbeda. Yang kami temukan adalah, bisnis skala kecil menginginkan proses yang mudah dan sederhana. Bisa spending secara lintas batas, terutama. Dan dengan cara yang aman. Mereka memang menginginkan elemen data, pelaporan, dan visibilitas. Visa menyediakan semua itu melalui solusi komersial kami.Jadi, kami menyediakan solusi yang cocok untuk bisnis kecil, sampai ke perusahaan besar.
Bagaimana kartu virtual bisa digunakan secara berkelanjutan?
Jadi kartu virtual bisa dikendalikan agar hanya digunakan satu kali. Kami juga dapat menyediakan kartu virtual dengan penggunaan beberapa kali. Kami berikan fleksibilitas kepada pemilik usaha. Misalnya, Anda memiliki beberapa staf, memiliki karyawan baru, dan mereka ingin membeli laptop. Itu pembelian satu kali.
Untuk kasus penggunaan lain. Mereka ingin membayar tagihan beberapa nomor seluler bulanan secara berulang. Anda bisa memberikan kartu virtual ke operator telekomunikasi itu dan mereka bisa mengenakan biaya yang sama setiap bulannya. Tetapi itu tidak bisa digunakan di tempat lain. Jadi, kami dapat menciptakan banyak kasus penggunaan yang berbeda. Dan ini adalah jenis solusi yang mulai muncul di pasar di Indonesia.
Virtual Card sudah tersedia layanannya di Indonesia?
Baru mulai melihat mereka muncul dalam ruang B2B sekarang. Kami berencana untuk meluncurkannya. Layanan ini akan datang ke Indonesia, tapi kami tidak dapat menyebutkan nama (bank) penerbitnya. (Tapi memang) ada permintaan.
Seberapa besar permintaan terhadap layanan virtual card?
Ya, kami sedang melihat seluruh mitra-mitra kami. Ada minat yang besar, Anda tahu, pelaku usaha mencari cara bagaimana bisa membayar dengan aman, kembali ke tren-tren itu, bagaimana bisa meningkatkan modal kerja, bisa mendapatkan akses data secara real-time, membuat pengalaman lebih smooth dan terdigitalisasi, ini adalah jenis layanan yang benar-benar sejalan dengan tren-tren itu.
Bagaimana solusi dari Visa bagi Fintech?
Dari pasar yang saya awasi, Indonesia, Vietnam, Filipina, lanskap FinTech Indonesia yang paling aktif dan inovatif. Jadi kami melihat jumlah investasi yang semakin besar masuk ke ruang B2B FinTech, dan itu sejalan dengan consumerization B2B, dan ada kesadaran di antara komunitas FinTech bahwa pengalaman pengguna di B2B dapat dibuat jauh lebih efisien dan bisa ditingkatkan.
Jadi kami punya sejumlah mitra FinTech. Kami meluncurkan program kartu co-brand tahun ini dengan salah satu FinTech, Paper.ID dengan BRI, dengan segmen bisnis kecil, kami membantu mendigitalkan proses akun pembayaran mereka. Dan juga menyediakan mekanisme kartu, sebagai cara untuk membayar modal kerja.
FinTech bisa langsung bekerja sama dengan Visa untuk penerbitan kartu?
Jadi FinTech perlu bekerja sama dengan mitra perbankan mereka untuk penerbitan kartu, dan Visa akan menyediakan infrastruktur, keamanan, produk, dan solusi yang dapat membangun produk untuk bisnis. Jadi masih perlu kerjasama antara FinTech, bank penerbit.
Ada kemitraan baru yang dijalin di tahun ini?
Kami memiliki kemitraan yang sedang kami kerjakan dan kami tidak dapat mengumumkannya sekarang. Jadi pesan yang ingin saya sampaikan adalah banyak bank juga sangat tertarik dengan bagaimana mereka dapat bekerja dengan mitra FinTech. Bagaimana mereka bisa melakukannya dengan cara yang kolaboratif. Dan itu tentang memilih mitra dan bank yang tepat dan itu adalah peran kami untuk mencoba dan membawa komunitas itu bersama-sama dan membantu. Anda tahu, seluruh ekosistem mendigitalisasi pengalaman pembayaran itu.
Ada potensi membuka kerja sama dengan BPR atau Bank Daerah?
Saya akan lanjutkan pertanyaan ini ke tim Visa Indonesia. Tapi menurut saya, ini tentang memahami apa kebutuhan dari bank-bank tersebut, dan apa tantangan pembayaran yang mereka coba selesaikan. Bagi beberapa bank, mungkin dibutuhkan pendidikan dan literasi dan mencoba meningkatkan literasi keuangan di wilayah-wilayahoperasi mereka. Dan kami melakukan investasi besar dalam program-program yang membantu komunitas bisnis lokal.
Selanjutnya adalah memikirkan tentang jenis kebutuhan pembayaran yang dimiliki oleh nasabah mereka. Jadi kami mencari cara untuk menyediakan, dari konteks bisnis kecil, modal kerja untuk pembayaran pemasok. Atau tentang kebutuhan beberapa komunitas terkait pengiriman uang agar lebih efektif. Mungkin nasabah memiliki anggota keluarga yang bekerja di luar negeri dan mengirim uang pulang. Begitu banyak pasar seperti Filipina, yang merupakan pasar pengiriman uang masuk yang besar, kami membantu mitra perbankan pedesaan tersebut dengan memberi mereka akses ke jaringan pembayaran internasional dengan harga yang lebih murah, lebih rendah, dan lebih efisien. Pada akhirnya, pelanggan mereka dapat dibayar lebih cepat, lebih murah, dan lebih dapat diprediksi.
Negara mana yang lebih matang dalam hal layanan solusi B2B di kawasan ini?
Di pasar seperti Australia, kami melihat tingkat otomatisasi pembayaran B2B yang tinggi. Kami melihat pemahaman yang sangat baik. Pemahaman tentang manfaat membayar dengan kartu, dan kami melihat aliran B2B yang sangat tinggi menjadi jalur pembayaran kartu, terotomatisasi, terintegrasi ke dalam sistem keuangan, dan benar-benar menjadi proses end-to-end tanpa sentuhan.
Jika kita beralih ke pasar lain di Asia, kita belum melihat tingkat otomatisasi yang sama. Mungkin kita tidak memiliki jenis platform sumber daya perusahaan yang sama di dalam bisnis yang memungkinkan itu terjadi. Jadi itu berbeda di berbagai pasar.
Bagaimana Anda melihat karakter industri di Indonesia dalampembayaran B2B?
Ya, saya pikir Indonesia pasti telah sadar akan kebutuhan digital. Komunitas fintech ada di sini. Ada tingkat otomatisasi yang tinggi. Koneksi online sudah ada. Jadi saya percaya kebutuhan-kebutuhan itu ada. Keamanan, efisiensi, transparansi, pelacakan, itu adalah kebutuhan para pelaku bisnis di Indonesia. Jadi benar-benar kebutuhan itu untuk B2B ada.
Tetapi kita baru mengambil di permukaan. Saya pikir statistik yang dilihat Visa dari keseluruhan peluang, sekitar 1%, kurang dari itu... Ya, adalah bagian dari aliran berbasis kartu. Tetapi Indonesia tumbuh dengan laju tertinggi di Asia Pasifik untuk pembayaran digital B2B dengan Visa. Itu salah satu pasar dengan pertumbuhan tercepat tahun lalu.
Apakah dibutuhkan investasi besar oleh lembaga keuangan untuk menikmati solusi B2B yang komprehensif?
Tidak, tidak selalu. Kami memiliki solusi-solusi yang sudah jadi dan siap pakai untuk bisnis kecil, dan tersedia untuk semua mitra jaringan kami.
Pembayaran B2Bdi ASEAN, negara mana yang sangat matang?
Singapura. Kami melihat tingkat otomatisasi yang tinggi di Singapura, tingkat manajemen biaya yang tinggi, rekonsiliasi, dan visibilitas data yang digunakan dalamprogram-program tersebut. Tetapi itu pasar yang sangat berbeda. Ini negara dengan populasi tiga atau empat juta orang, kan? Anda tidak bisa benar-benar membandingkannya dengan Indonesia.
Apa tantangan dalam money movement?
Dalam pergerakan uang, ada empat tantangan, pertama kepastian. Seringkali, kita menemukan bahwa pembayaran lintas batas bisa mengalami penundaan waktu. Kita tidak dapat melihat apa yang terjadi. Ketika diterima, mungkin nilainya tidak sesuai dengan perkiraan.
Yang kedua adalah efektivitas biaya. Tren yang kami lihat saat ini adalah mikrotisasi pembayaran lintas batas. Nilai pembayaran semakin turun. Bagaimana kita membeli barang melalui eCommerce lebih banyak, dengan mikrotisasi akan mendorong efektivitas biaya.
Tantangan selanjutnya adalah kecepatan.Dan kemudian kita berbicara tentang kenyamanan.Dan itulah yang kami coba pikirkan untuk memecahkan keempat hal yang fundamental dalam pergerakan uang.
Namun solusi B2B adalah salah satu pasar yang paling menarik, inovatif, dan berpotensi memberikan manfaat bagi semua orang. Kita tidak bisa melakukannya sendiri di Visa, kita adalah bagian dari jaringan seperti bank, acquirer, dan pelaku usaha.

