Glaukoma Si Pencuri Penglihatan, Ancam Kualitas Hidup Penyandangnya
JAKARTA, investortrust.id - Secara global, glaukoma merupakan penyebab kebutaan tertinggi kedua setelah katarak. Penderita seringkali baru mencari pengobatan ketika sudah pada stadium lanjut. Lebih-lebih 80% kasus glaukoma muncul tanpa gejala. Ini yang membuat glaukoma dijuluki sebagai ‘si pencuri penglihatan’.
Guru Besar Tetap Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dokter Subspesialis Glaukoma, dan Ketua JEC Glaucoma Service, JEC Eye Hospitals & Clinics Prof. DR. dr. Widya Artini Wiyogo, Sp.M(K) mengungkapkan, glaukoma terjadi lantaran peningkatan tekanan dalam bola mata yang dapat merusak saraf optik. Kondisi neuropati optik progresif ini berdampak pada penurunan fungsi penglihatan, seperti lapang pandang semakin menyempit hingga buta permanen yang tak bisa disembuhkan.
"Semakin mencemaskan lagi, glaukoma tidak bisa disembuhkan, tetapi kebutaan glaukoma dapat dicegah dengan deteksi dan terapi dini. Karenanya, penting bagi masyarakat untuk lebih sadar mengenai kelainan mata ini, sekaligus mengetahui tanda-tanda awalnya, sehingga glaukoma segera terdeteksi dan ditangani. Pemeriksaan mata secara rutin sangatlah krusial," ujar Widya dalam keterangan yang diterima, Jumat (1/11/2024).
Prevalensi glaukoma secara global pada kelompok usia 40-80 tahun mencapai 3,54%. Pada 2013 saja, penderitanya mencapai 64,3 juta. Angka ini diproyeksi terus meningkat menjadi 76 juta pada 2020, dan diperkirakan berjumlah 111,8 juta pada 2040 mendatang.
Sementara di Indonesia, data yang sempat dirilis secara resmi barulah prevalensi glaukoma sebesar 0,46% (setiap 4 sampai 5 orang per 1.000 penduduk). Di JEC Eye Hospitals and Clinics, jumlah pasien yang terdiagnosa glaukoma mencapai hampir 250.000 orang, hanya selama periode lima tahun terakhir (2020 sampai 2024).
Widya menambahkan, glaukoma bersifat kronis, dan sangat mempengaruhi kualitas hidup penyandangnya. Menurut Widya, lapang pandang yang terbatas tentunya mengganggu aktivitas sehari-hari.
Lebih lanjut, secara psikologis, penderita glaukoma juga berisiko merasakan kecemasan, bahkan sampai depresi karena terus menerus mengkhawatirkan kebutaan. Belum lagi imbas finansial atas kebutuhan pengobatan glaukoma.
"Tindakan intervensi medis berupa operasi implan glaukoma menjadi salah satu solusi yang tepat agar penderita mendapatkan kembali hidup yang berkualitas terhindar dari kebutaan akibat glaukoma. Inilah yang mendorong JEC untuk melanjutkan aksi sosial ini," jelas Widya.
Widya menjelaskan, implan glaukoma merupakan prosedur bedah untuk menurunkan tekanan dalam bola mata. Operasi ini menjadi pilihan utama bagi pasien glaukoma dengan tekanan bola mata yang tetap tidak terkontrol, atau mengalami kerusakan saraf mata yang berat, dan sudah tidak lagi merespons terapi lainnya.
Prosedur implan glaukoma melibatkan pemasangan implan kecil di dalam mata (berupa tabung silikon kecil yang menempel pada semacam plat) untuk membantu mengalirkan cairan agar keluar dari bola mata dan menurunkan tekanan intraokular. Berdasarkan studi, pemasangan implan glaukoma mempunyai tingkat keberhasilan 80-85%.

