JAKARTA, investortrust.id  - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji mengatakan bahwa untuk mencapai generasi emas pada tahun 2045, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga harus bekerja keras untuk memastikan bahwa setiap anak lahir sehat dan bebas dari stunting.


Lebih lanjut, Menteri Wihaji menuturkan, target penurunan stunting telah diubah dan disesuaikan menjadi 18%. Hal ini sesuai dengan Keputusan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional tentang Penetapan Lokasi Fokus Intervensi Pencegahan Stunting Terintegrasi Tahun 2025.


Dalam keputusan tersebut disebutkan, fokus intervensi pencegahan stunting terintegrasi tahun 2025 akan diprioritaskan di 15 provinsi. Adapun target yang disasar sebanyak 3,6 juta anak atau sekitar 74,6% dari jumlah balita stunting nasional.


Hal ini diungkapkan saat melakukan kunjungan kerja pertama ke Kampung KB Pasar Keong, Cibadak, Kabupaten Lebak, Banten, Rabu (30/10/2024). Didampingi Wakil Menteri, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, kunjungan ini dilakukan untuk menilai secara langsung efektivitas program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, Keluarga Berencana (Bangga Kencana) dan program Percepatan Penurunan Stunting (PPS) di tingkat daerah. 

Baca Juga

Nusantara Infrastructure Gagas Program Kolaborasi untuk Tekan Stunting di Makassar


Untuk itu, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga menargetkan bahwa penurunan stunting akan dicapai dengan pendekatan kolaboratif yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Selain itu, regulasi juga dioptimalkan untuk memberikan keleluasaan bagi program-program stunting. Sehingga setiap pihak bisa berkontribusi dalam mempercepat penurunan stunting.


Menurut Menteri Wihaji, generasi emas bukanlah sesuatu yang bisa dicapai secara instan, tetapi harus dimulai dari hulu, dari perencanaan pernikahan, masa kehamilan, hingga masa awal pertumbuhan anak. 

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji. Foto: BKKBN

"Kita harus menyiapkan generasi masa depan sejak dini. Stunting bukan hanya masalah angka, tapi lebih pada pencegahan sejak sebelum anak dilahirkan. Kita harus mulai dari perencanaan pernikahan, memastikan calon ibu sehat, dan memberikan asupan gizi yang cukup," tuturnya dalam keterangan yang dikutip Kamis (31/10/2024).

Baca Juga

Menghadap Gibran, Menteri Wihaji Lapor soal Percepatan Penurunan Stunting


Menteri Wihaji juga menekankan bahwa upaya penurunan stunting akan terus diperkuat melalui kerja sama lintas sektor, baik dengan pemerintah daerah, kementerian lain, hingga sektor swasta yang turut berperan dalam memberikan bantuan serta edukasi kepada masyarakat.


Asal tahu, upaya pemerintah dalam menurunkan angka stunting merupakan bagian dari program strategis nasional yang dicanangkan presiden. Stunting sendiri dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti aspek ekonomi, lingkungan, hingga pola makan dan kesehatan ibu saat hamil. 

Oleh daripada itu, stunting membutuhkan penanganan yang komprehensif, mulai dari perbaikan sanitasi, pengadaan air bersih, hingga perbaikan kualitas makanan.