Wajib Tahu, Faktor Ini Bisa Jadi Penyebab Gangguan Reproduksi Kaum Pria
JAKARTA, investortrust.id - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo, mengatakan bahwa gondongan yang menjangkiti kaum pria dapat mengganggu kesehatan reproduksi (kespro) di kemudian hari.
Dia menegaskan masalah kesehatan reproduksi bukan hanya terjadi pada kaum perempuan tetapi juga kaum pria.
“Gondongan bisa merusak alat reproduksi laki-laki, virusnya 'paramyxovirus' itu menyerang testis. Kalau sudah dewasa dan menikah, istri tidak hamil-hamil, itu bisa karena pernah kena gondongan. Jadi, kalau laki-laki kena gondongan harus cepat disembuhkan," ungkap Dokter Hasto dalam Penyuluhan Kesehatan Reproduksi Remaja Kota Lubuk Linggau, yang dikutip dari keterangan tertulis, Senin (22/7/2024).
Selain gondongan, merokok juga dinilai dapat mengganggu kesehatan reproduksi pria. Ia memaparkan, bibit atau sperma laki-laki yang tidak merokok jauh lebih baik daripada pria yang merokok. “Jadi, kalau mau menyiapkan generasi bagus kurangi merokok!” tambahnya.
Baca Juga
Waspada! BKKBN Sebut 74% Remaja Sudah Berhubungan Seksual di Usia 15-19 Tahun
Lebih lanjut, untuk menghasilkan anak sehat dan cerdas, persiapan bagi pria adalah 75 hari prakonsepsi, sedangkan perempuan 90 hari.
Sebagai informasi, BKKBN memiliki aplikasi Elsimil yang berfungsi mendata diri calon pengantin terkait hasil skrining kesehatannya sejak tiga bulan sebelum menikah. Ini agar calon pengantin bisa dimonitor kesiapannya untuk hamil oleh petugas kesehatan Puskesmas.
Sebelum menikah, calon pengantin harus memenuhi persyaratan yang diajukan oleh KUA (Kantor Urusan Agama) maupun Disdukcapil (Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil). Salah satunya dengan melakukan tes kesehatan pranikah.
Baca Juga
Ini Langkah ESDM Tingkatkan Produksi Migas di Tengah Munculnya Tantangan Operasi
Ada empat hal yang diukur dalam tes kesehatan pranikah yaitu tinggi badan, berat badan, lingkar lengan atas, dan kadar Hb (hemoglobin). Menurut dokter Hasto, perempuan membutuhkan tablet tambah darah untuk mencegah anemia karena tiap bulan perempuan mengeluarkan 200 cc darah saat menstruasi.
“Sekalinya donor darah itu 250 cc tapi hanya boleh dilakukan tiga bulan sekali. Padahal perempuan setiap bulan keluar darah dari menstruasi sebanyak 200 cc. Jadi, harus konsumsi tablet tambah darah agar tidak kurang darah," tuturnya.
Dokter Hasto menegaskan, kesehatan reproduksi di usia reproduksi penting karena mencakup banyak hal. Termasuk usia rata-rata menstruasi, itu rata-rata usia 12,5 tahun. "Kalau ada yang 8 tahun sudah menstruasi, itu tidak normal, harus dibawa ke dokter. Begitu pun batasnya 16 tahun. Kalau lebih dari 16 tahun belum mens, untuk menjaga kespronya harus dibawa ke dokter,” terang Dokter Hasto.

