Kurangi Risiko Self Diagnose, Ahli Farmasi Ini Tekankan Pentingnya Andil Apoteker
JAKARTA, investortrust.id - Kepala Apotek Atma Jaya, Lusy Noviani mengatakan, apoteker yang mumpuni turut andil dalam mendampingi masyarakat menjalankan praktik self-care yang tepat dan mengurangi risiko self diagnose yang keliru.
Menurut Lusy, pentingnya self-care dalam menjaga kesehatan diri semakin relevan di tengah kondisi lingkungan yang semakin menantang, terutama di kota-kota besar.
Lusy menjelaskan, polusi udara yang semakin meningkat di perkotaan, berdampak negatif pada kesehatan masyarakat. Salah satunya, mengakibatkan penyakit pernapasan dan alergi.
Self-diagnose atau diagnosis mandiri, meskipun terkesan praktis, seringkali mengarah pada pengelolaan kesehatan yang kurang tepat dan berisiko memperburuk kondisi.
"Apoteker dapat bertindak sebagai penasihat kesehatan terpercaya untuk membimbing pasien menuju diagnosis yang lebih akurat dan pengobatan yang lebih tepat," ujar Lusy dalam acara Konferensi Pers PharmAcademy dari Sanofi Kuatkan Kompetensi Ribuan Apoteker di Indonesia di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta Pusat, Sabtu (25/5/2024).
Baca Juga
Satu Apoteker di Indonesia Harus Menangani 2.134 Penduduk, Berapa Idealnya?
Lebih lanjut, Lusy menyebut, menghadapi potensi ancaman polusi udara, apoteker memiliki kemampuan untuk mengedukasi tentang langkah pencegahan, ataupun pengelolaan kondisi kesehatan bagi individu yang telah terdampak penyakit, seperti alergi maupun batuk.
"Khususnya penanganan alergi, apoteker memiliki kompetensi untuk membantu diagnosis kondisi hingga merekomendasikan obat alergi yang sesuai dan aman," ungkapnya.
Sementara itu, seorang ibu dan figur publik, Melanie Putria menyampaikan kekhawatirannya terhadap ancaman polusi, serta menyatakan dukungannya terhadap inisiatif PharmAcademy dari perspektif awam.
"Polusi udara tak bisa kita hindarkan dalam aktivitas keseharian. Artinya, ancaman penyakit akibat polusi berpotensi menyerang kapan saja. Bagi saya, kuncinya adalah kritis memeriksa kondisi diri dan anak-anak secara mandiri, serta mengonfirmasinya kepada sumber yang tepat. Penguatan kompetensi apoteker melalui PharmAcademy tentunya mempermudah masyarakat untuk menjangkau penasihat kesehatan yang terpercaya," jelas Melanie.
Baca Juga
Klaim Kesehatan Naik, OJK: Perlu Perbaikan Ekosistem, Tak Hanya Sekadar Naikan Premi
Sebagai informasi, PharmAcademy sendiri merupakan platform berupa fitur unggulan di aplikasi SwipeRX, hasil kolaborasi Sanofi Consumer Health Indonesia dengan SwipeRX yang memudahkan komunitas farmasi untuk mengakses modul pengetahuan dan keterampilan guna meningkatkan kompetensi.
Bahkan, PharmAcademy memungkinkan apoteker mendapatkan poin satuan kredit partisipasi (SKP) untuk memajukan karier mereka.

