UEFA Boikot FIFA: Piala Dunia Tanpa Eropa Ibarat Sayur Tanpa Garam
Poin Penting
|
NYON, investortrust.id – Jika benar direalisasikan, boikot negara-negara anggotaa UEFA akan membuat turnamen-turnamen FIFA, khususnya Piala Dunia kehilangan segalanya. Fakta menunjukkan, kiblat sepak bola dunia adalah Eropa.
Krisis besar mengguncang FIFA. UEFA dan Concacaf resmi menolak rencana Presiden FIFA Gianni Infantino menjual sebagian kepemilikan komersial Piala Dunia kepada perusahaan investasi swasta yang terkait Donald Trump. Penolakan itu disertai ancaman boikot seluruh kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia putra dan putri, selama kebijakan tersebut tidak dicabut.
Keputusan tersebut diambil seusai pertemuan darurat yang digelar UEFA pada Kamis (30/7/2026). Seluruh 55 anggota konfederasi sepak bola Eropa sepakat menolak proposal Infantino yang dinilai mengancam independensi turnamen paling bergengsi di dunia.
Baca Juga
Cek Videonya! Momen Gennaro Gattuso Usir Kenneth Taylor Dari Sesi Latihan Lazio
Dengan sikap itu, negara-negara besar seperti Spanyol, Inggris, Prancis, dan Jerman dipastikan tidak akan mengikuti seluruh turnamen FIFA apabila rencana tersebut tetap dijalankan. “UEFA dan seluruh anggotanya tidak akan ikut kompetisi FIFA,” bunyi pernyataan resmi UEFA, dilansir ESPN.
Gelombang penolakan kemudian meluas ke Amerika Utara, Tengah, dan Karibia. Concacaf yang beranggotakan 41 asosiasi, termasuk Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko selaku tuan rumah bersama Piala Dunia 2026, juga menyatakan menolak proposal FIFA.
Kontroversi bermula dari rencana Infantino menjual sebagian saham FIFA Forward Enterprises (FFE) kepada kelompok investasi swasta. Melalui skema tersebut, FIFA berharap memperoleh pendanaan sebesar US$20 miliar (Rp324 triliun) sebagai imbalan atas hak mempengaruhi pengelolaan komersial Piala Dunia, termasuk kontrak hak siar dan kerja sama bisnis turnamen.
Investasi tersebut dipimpin Joshua Kushner, saudara Jared Kushner yang merupakan menantu Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Sebagai kompensasi, FIFA menjanjikan pembagian dana lebih dari US$80 juta (Rp1,3 triliun) kepada masing-masing dari 211 asosiasi anggota hingga 2037. Seluruh anggota diberi waktu hingga 19 September 2026 untuk menyetujui proposal itu melalui voting.
UEFA menilai FIFA gagal menjalankan tata kelola organisasi dengan baik karena mengajukan proposal tanpa konsultasi yang memadai kepada konfederasi maupun asosiasi anggotanya.
"Ada hal-hal yang memang terlalu berharga untuk diperjualbelikan. Piala Dunia adalah milik sepak bola. Selamanya akan tetap menjadi milik sepak bola. Selama Eropa masih memiliki suara, turnamen ini tidak akan pernah dijual," lanjut pernyataan UEFA.
"Ini bukan sekadar kegagalan kepemimpinan yang sangat serius, melainkan pengabaian terhadap tanggung jawab FIFA sebagai penjaga sepak bola dunia," beber UEFA.
Concacaf menyampaikan kekhawatiran serupa. Organisasi tersebut menilai proses pengambilan keputusan dilakukan tanpa prosedur yang semestinya, tenggat waktu yang terlalu singkat, serta belum melalui pembahasan di badan-badan tata kelola FIFA.
Sementara dukungan dari Asia mulai menunjukkan tanda-tanda retak. Presiden Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), Sheikh Salman bin Ibrahim Al Khalifa, mengingatkan seluruh anggota AFC bahwa kebijakan sepihak FIFA dapat mengganggu pondasi kerja sama antarkonfederasi.
Sheikh Salman, yang selama ini dikenal sebagai salah satu sekutu dekat Infantino, juga meragukan proposal tersebut bisa dijalankan tanpa dukungan penuh dari seluruh konfederasi. "Inisiatif seperti ini tidak akan berhasil tanpa dukungan seluruh konfederasi, dan saat ini dukungan tersebut jelas tidak ada," katanya.
Gelombang penolakan dari UEFA, Concacaf, serta mulai goyahnya dukungan AFC menjadi pukulan telak bagi Infantino. Situasi tersebut berpotensi mengganggu posisinya menjelang pemilihan Presiden FIFA yang dijadwalkan berlangsung pada Maret 2027 di Rabat, Maroko.
Jika FIFA tetap maju dengan rencananya, Piala Dunia akan seperti sayur tanpa garam. Pasalnya, Eropa adalah kiblat sepak bola dunia. Bahkan, juara Piala Dunia terkini berasal dari UEFA. Tanpa kehadiran Eropa, kualitas Piala Dunia secara teknis maupun bisnis akan menurun drastis.
Baca Juga
Gratis! Inter Milan Rekrut Bek Tim Nasional Inggris John Stones
