Boikot Final Piala Dunia 2026, Hubungan UEFA dan FIFA Semakin Panas
Poin Penting
|
NYON, investortrust.id – Hubungan UEFA dan FIFA memanas seusai Piala Dunia 2026. Presiden UEFA Aleksander Ceferin memilih tidak menghadiri final sebagai bentuk ketidakpuasannya terhadap sejumlah kebijakan yang diterapkan FIFA selama turnamen.
Ceferin sebenarnya hadir pada laga pembuka antara tuan rumah Meksiko dan Afrika Selatan di Mexico City. Tapi, dia memutuskan tidak datang ke final, yang dimenangkan anggota UEFA, Spanyol, atas anggota Conmebol, Argentina.
Salah satu pemicu utama absennya Ceferin adalah keputusan kontroversial FIFA yang membatalkan skorsing terhadap penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, setelah adanya intervensi Presiden AS Donald Trump.
Baca Juga
Demi Hentikan Dominasi Spanyol, Italia Bakal Dilatih Pep Guardiola?
UEFA sebelumnya mengecam keputusan tersebut dan menilai langkah FIFA tidak memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. "Belum pernah terjadi sebelumnya, tidak dapat dipahami, dan tidak dapat dibenarkan," ujar UEFA ketika itu.
Dalam pernyataan resminya, UEFA juga menegaskan bahwa kepastian penegakan aturan merupakan fondasi utama sebuah kompetisi. "Ketika kepastian terhadap aturan tidak lagi dijamin oleh pihak yang bertugas menjaganya, integritas permainan berada dalam ancaman dan kredibilitas sebuah kompetisi ikut dipertaruhkan," beber UEFA.
Perselisihan kedua organisasi sepak bola itu tidak berhenti di situ. Ceferin juga menolak sejumlah perubahan yang digagas Presiden FIFA Gianni Infantino, termasuk penyelenggaraan pertunjukan hiburan saat jeda pertandingan.
Pada final Piala Dunia 2026, FIFA menghadirkan penampilan Madonna, BTS, Shakira, dan Justin Bieber sehingga waktu turun minum yang biasanya berlangsung 15 menit bertambah menjadi 27 menit 22 detik. UEFA memastikan konsep serupa tidak akan diterapkan pada Liga Champions maupun Piala Eropa karena dinilai tidak sesuai dengan tradisi sepak bola.
UEFA juga menolak rencana perluasan peserta Piala Dunia menjadi 64 negara. Itu sebuah gagasan yang mulai dibuka peluangnya oleh Gianni Infantino, selama turnamen berlangsung di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.
Perbedaan sikap juga terlihat dalam penerapan regulasi pertandingan. Seusai wasit asal Somalia, Omar Artan, gagal memperoleh izin masuk ke Amerika Serikat sebelum Piala Dunia dimulai, UEFA justru menunjuknya untuk memimpin laga Piala Super Eropa antara Paris Saint-Germain (PSG) dan Aston Villa pada 12 Agustus.
UEFA juga mengkritik tingginya harga tiket Piala Dunia 2026. Untuk Euro 2028, badan sepak bola Eropa itu berencana mempertahankan harga tiket agar tetap terjangkau bagi para pendukung.
Dalam aspek perwasitan, UEFA mengambil kebijakan berbeda dari FIFA. Badan sepak bola Eropa itu telah menginstruksikan perangkat VAR agar tidak menggunakan protokol identitas keliru untuk menindak aksi diving seperti yang diterapkan FIFA di Piala Dunia. Kebijakan FIFA tersebut sempat memicu kontroversi setelah penyerang Swiss Breel Embolo mendapat kartu merah saat menghadapi Argentina di perempat final.
UEFA juga memastikan pemain yang menutupi mulut saat beradu argumen di lapangan tidak otomatis diganjar kartu merah dalam kompetisi di bawah naungannya.
Aturan tersebut berbeda dengan kebijakan baru FIFA yang digagas Infantino sebagai efek jera terhadap dugaan penghinaan di lapangan. Paraguay Miguel Almiron menjadi pemain pertama yang diusir wasit karena pelanggaran tersebut pada fase grup Piala Dunia, disusul bek Ekuador Piero Hincapie pada babak 16 besar melawan Meksiko.
Baca Juga
Rest in Pride, Legenda Inggris Kevin Keegan Menghadap Sang Pencipta
