Yayasan Orang Tua Peduli (YOP) Ungkap Pentingnya Sistem 'Pre-Audit' Digital di Layanan Medis
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id -- Masalah pemborosan dalam ekosistem kesehatan mencakup spektrum pelayanan yang sangat luas, mulai dari tahapan penapisan, penegakan diagnostik yang terburu-buru, pemberian obat yang tidak rasional, hingga penentuan prosedur pembedahan non-esensial.
Guna memutus rantai inefisiensi yang terbagi ke dalam kategori clinical waste, operational waste, dan governance waste, pembenahan wajib menyentuh perbaikan kualitas tingkatan pelayanan klinis itu sendiri. Dampak buruk dari pembiaran inefisiensi peresepan obat melahirkan ancaman jangka panjang berupa resistensi kuman akibat paparan antibiotik yang tidak tepat pada infeksi virus harian.
Disampaikan dr. Yulianto Santoso Kurniawan, praktisi medis dari Yayasan Orang Tua Peduli (YOP), hal tersebut dapat memicu perpanjangan masa rawat inap sekaligus memperbanyak limbah medis yang berkontribusi negatif terhadap pemanasan global.
Sebagai resolusi konkret menuju tata laksana kesehatan bernilai tinggi, implementasi teknologi digital pada fase pra-audit terbukti mampu memberikan dampak pemotongan klaim tidak sesuai hanya dalam durasi tiga puluh detik.
Baca Juga
Yayasan Orang Tua Peduli Desak Standardisasi Panduan Klinis Berbasis Data
"Sebuah studi membuktikan bahwa penerapan teknologi pada tahap pra-audit (pre-audit) dapat memberikan dampak signifikan hanya dalam waktu 30 detik. Begitu dokter memberikan resep yang tidak sesuai dengan panduan medis, sistem akan langsung meninjau dan memotongnya, sehingga jumlah ketidaksesuaian berhasil diturunkan secara drastis dari angka 1.700 menjadi hanya 20," kata dr Anto, demikian sapaan karibnya, dalam kesempatan seminar bertema "Upaya Pencegahan 'Overtreatment' pada Layanan Medis" yang digelar di Jakarta, Senin (6/7/2026).
Anto juga menyebut, publik harus memahami bahwa penanganan masalah overuse ini harus dilakukan secara lintas sektor yang mencakup pasien, dokter, profesional, sistem, bahkan hingga perubahan budaya (culture).
Langkah lain yang perlu didukung adalah digitalisasi dalam praktik klinis serta pemberdayaan masyarakat. Sebagai informasi, Australia sudah memulai langkah ini sejak bulan Juli 2017. "Dan semoga di bulan Juli 2026 ini kita juga bisa menghasilkan sesuatu yang positif," tuturnya.
Selanjutnya, Anto menyampaikan bahwa sinergi pemanfaatan teknologi ini harus diimbangi dengan gerakan pemberdayaan masyarakat sipil melalui lembaga swadaya seperti Yayasan Orang Tua Peduli untuk mengubah pola pikir publik.
Melalui momentum kolaborasi digitalisasi klinis dan edukasi budaya publik yang masif ini, Indonesia diharapkan mampu mewujudkan ekosistem jaminan kesehatan yang efisien, aman, dan berkeadilan bagi seluruh lapisan masyarakat.
