Yayasan Orang Tua Peduli Desak Standardisasi Panduan Klinis Berbasis Data
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id -- Praktik penggunaan tindakan medis secara berlebihan atau overuse kini telah menjelma menjadi isu krusial global yang memicu lonjakan inflasi biaya kesehatan serta mengancam keselamatan fisik maupun psikologis pasien.
Sebagaimana disampaikan, dr. Yulianto Santoso Kurniawan, praktisi medis dari Yayasan Orang Tua Peduli (YOP), fenomena penanganan klinis non-esensial ini melanda banyak negara dan terdokumentasi secara berkala dalam jurnal ilmiah terkemuka The Lancet.
"Isu ini tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan sudah menjadi isu global yang besar. Berdasarkan data dari jurnal prestisius The Lancet, banyak tindakan medis di berbagai negara seperti Spanyol, Italia, Taiwan, dan Cina yang tidak sesuai atau tidak tepat guna," kata dr Anto, demikian sapaan karibnya dalam kesempatan seminar bertema "Upaya Pencegahan 'Overtreatment' pada Layanan Medis" yang digelar di Jakarta baru-baru ini (Senin 6 Juli 2026).
Menurut Anto, berbagai kasus global seperti tingginya angka operasi sesar, pengangkatan rahim yang tidak tepat guna, hingga pemberian antibiotik pada kasus mencret merefleksikan pola pemborosan serupa yang juga membayangi ekosistem kesehatan nasional.
Ketidakseimbangan antara biaya operasional yang dikeluarkan dengan luaran kesehatan nyata yang diterima oleh masyarakat diperparah oleh minimnya pengawasan serta belum banyaknya payung hukum di sektor pelayanan kesehatan swasta komersial.
Baca Juga
Kemenkes Ungkap 20% Anggaran Kesehatan Terbuang Percuma untuk Tindakan Medis 'Overtreatment'
Ekosistem medis saat ini juga dibayangi oleh maraknya praktik defensive medicine, di mana para dokter terpaksa langsung memberikan penanganan atau obat tertentu demi mengamankan diri dari intimidasi, ancaman tuntutan hukum, serta risiko viral negatif di media sosial.
"Jika Anda mengikuti perkembangan berita, saat ini profesi dokter sering dihadapkan pada intimidasi serta ketakutan akan adanya tuntutan hukum. Kami merasa sangat khawatir saat sedang berpraktik jika ada pihak yang menuntut atau memviralkannya di media sosial, karena hal itu akan menyulitkan posisi kami," ujar Anto. Akibatnya, lanjut Anto, demi keamanan, terkadang dokter langsung memberikan pengobatan saja. Padahal berdasarkan panduan medis (guidelines), tindakan tersebut belum tentu diperlukan
Fenomena kecemasan profesi akibat tiadanya perlindungan hukum ini sering kali membuat tata laksana medis berjalan tidak sesuai dengan panduan baku klinis. Untuk menanggulangi ego sektoral dan ketakutan tersebut, komite medis perlu berhati-hati dalam merumuskan konsensus.
Secara ilmiah, opini seorang pakar atau profesor sekalipun sebenarnya menempati hierarki pembuktian paling rendah dibandingkan hasil tinjauan sistematis dan metaanalisis. "Oleh sebab itu, pemerintah bersama organisasi profesi dan kekuatan lintas sektor harus berkolaborasi mendanai insentif penelitian demi menyusun panduan medis berbasis bukti ilmiah yang kuat untuk memayungi hak dokter sekaligus melindungi keselamatan pasien," tuturnya.
