Pergantian Rezim di Iran Masih Jauh
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Jika gencatan senjata antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel berlanjut, pergantian rezim di Teheran masih jauh dari kepastian. Data dan analisis terbaru justru menunjukkan gambaran yang lebih rumit: rezim teokrasi Iran memang melemah dari sisi ekonomi dan legitimasi, tetapi belum berada di ambang runtuh karena masih ditopang oleh aparat keamanan, jaringan kekuasaan yang terorganisasi, serta basis loyalis yang tetap aktif di ruang publik. Reuters pada 30 Maret 2026 melaporkan bahwa setelah sebulan perang, Teheran justru memperketat penangkapan, eksekusi, dan pengerahan pasukan keamanan untuk mencegah gejolak domestik. Delapan hari kemudian, Reuters menggambarkan Iran keluar dari perang dalam kondisi “battered and isolated”, yakni terpukul dan terisolasi, dengan ekonomi yang compang-camping dan masyarakat yang makin miskin serta frustrasi.
Masalah utamanya, pelemahan rezim tidak otomatis identik dengan kejatuhan rezim. Reuters dalam analisis 13 Januari 2026 menegaskan bahwa kemarahan publik dan tekanan asing belum cukup untuk menjatuhkan sistem politik Iran selama belum muncul pembelotan di tingkat elite atau aparat keamanan. Dalam laporan itu, Reuters mengutip diplomat, sumber pemerintah kawasan, dan analis yang menyimpulkan bahwa rezim ulama, meski melemah, kemungkinan tetap bertahan kecuali kerusuhan jalanan dan tekanan eksternal mampu memicu retaknya puncak kekuasaan. Reuters pada 9 Januari 2026 juga mencatat bahwa perubahan di Iran kini tampak semakin tak terhindarkan, tetapi kolapsnya rezim tetap belum pasti. Dengan kata lain, gencatan senjata yang berlanjut lebih mungkin membuka masa konsolidasi ulang ketimbang langsung melahirkan transisi kekuasaan.
Ada dua skenario besar jika gencatan senjata bertahan. Skenario pertama, rezim memanfaatkan jeda perang untuk mengklaim kemenangan strategis, menertibkan elite, dan memperkuat kontrol dalam negeri. Ini bukan asumsi kosong. Reuters pada 4 Maret 2026 melaporkan bahwa Garda Revolusi Iran justru memperketat cengkeramannya atas pengambilan keputusan di masa perang. Menurut Reuters, struktur komando Garda telah didesentralisasi selama hampir dua dekade agar tetap bertahan walau para komandannya dibunuh. Model ini dirancang bukan hanya untuk menghadapi ancaman eksternal, tetapi juga untuk menjaga keamanan internal dan mempertahankan kelangsungan sistem Republik Islam. Reuters bahkan mengutip analis yang menilai jika perang berhenti dan rezim selamat, maka peran Garda Revolusi justru akan menjadi semakin besar.
Skenario kedua, rezim bertahan dalam jangka pendek tetapi makin rapuh dalam jangka menengah. Reuters pada 8 April 2026 menulis bahwa ekonomi Iran berada di ambang kolaps. Serangan udara menghantam fasilitas industri penting, pembangkit listrik, jaringan transportasi, serta industri gas, petrokimia, dan baja. Reuters juga mencatat adanya estimasi bahwa ekonomi Iran dapat menyusut 10% tahun ini, harga-harga di beberapa tempat naik sekitar 40% sejak perang dimulai, dan jutaan warga menghadapi kehilangan pendapatan, PHK, atau penutupan usaha. Dalam keadaan seperti itu, gencatan senjata memang dapat menghentikan bom, tetapi tidak otomatis menghapus krisis pengangguran, inflasi, depresiasi mata uang, salah kelola ekonomi, dan kekurangan energi yang sudah lebih dulu membebani Iran. Di titik inilah rezim bisa tampak lebih kuat di permukaan, tetapi justru lebih rapuh di bawahnya.
Karena itu, pertanyaan kuncinya bukan semata apakah rakyat Iran kecewa pada rezim, melainkan apakah kekecewaan itu sudah berubah menjadi kekuatan politik yang mampu mengambil alih negara. Di tingkat opini publik, sentimen anti-teokrasi memang besar. GAMAAN, lembaga riset independen berbasis di Belanda, dalam laporan “Iranians’ Political Preferences in 2024” yang dirilis 20 Agustus 2025 menyebut surveinya didasarkan pada 77.216 responden dari dalam Iran, yang setelah pembobotan menghasilkan sampel efektif 20.492 responden. Ringkasan hasil survei itu menunjukkan sekitar 70% responden menolak kelanjutan Republik Islam. Laporan yang sama juga menyebut dukungan terhadap demokrasi sangat dominan, sementara tidak ada satu figur oposisi pun yang memperoleh dukungan mayoritas absolut. Artinya, secara sosial penolakan terhadap sistem teokrasi memang luas, tetapi secara politik belum terkonsolidasi pada satu kendaraan atau kepemimpinan alternatif.
Itu sebabnya, kubu yang menolak pemerintahan agama belum tentu “menang” hanya karena mereka lebih besar secara opini. GAMAAN sendiri menampilkan masyarakat Iran sebagai arena politik yang sangat beragam: ada yang menghendaki pergantian rezim total sebagai prasyarat perubahan, ada yang mendukung transformasi struktural tanpa revolusi mendadak, ada yang cenderung ke republik sekuler, dan ada yang melihat monarki konstitusional sebagai opsi. Keragaman ini penting, karena ia menjelaskan mengapa basis sosial untuk perubahan sudah ada, tetapi mesin politik untuk merebut negara belum tentu tersedia. Dalam politik rezim otoriter, fragmentasi oposisi kerap menjadi penyelamat kekuasaan yang sedang goyah.
Survei GAMAAN lain yang dirilis 5 November 2025 tentang sikap warga Iran terhadap “12-Day War” memperkuat kesimpulan tersebut. Survei itu dilakukan 24–28 September 2025 dengan sampel seimbang 30.372 responden dari dalam Iran, dan menurut GAMAAN temuan-temuannya dapat digeneralisasi pada populasi warga Iran melek huruf berusia 15 tahun ke atas. Hasilnya menunjukkan masyarakat cenderung bergerak ke arah pragmatisme, bukan revolusi terbuka: 62% mendukung negosiasi langsung dengan Amerika Serikat, 58% menilai Republik Islam gagal melindungi rakyat selama perang, 58% menilai negatif kinerja Pemimpin Tertinggi, dan 69% menilai Iran seharusnya berhenti menyerukan penghancuran Israel. Angka-angka ini jelas tidak menguntungkan rezim, tetapi juga tidak otomatis berarti masyarakat siap masuk ke perang saudara atau revolusi bersenjata.
Di sisi lain, rezim juga belum kehilangan seluruh basis sosialnya. Reuters pada 3 April 2026 melaporkan bahwa Presiden Masoud Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi sengaja tampil di tengah kerumunan pendukung di Teheran untuk menunjukkan bahwa Republik Islam masih tegak dan tidak terguncang oleh serangan. Reuters mencatat bahwa para pendukung rezim, didorong oleh penguasa ulama, terus menggelar aksi malam di ruang-ruang publik untuk menunjukkan loyalitas dan daya tahan. Langkah ini bukan berarti seluruh rakyat Iran bersatu di belakang pemerintah, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa rezim masih memiliki kelompok pendukung inti, terutama ketika negara sedang berada dalam situasi perang. Bagi kekuasaan otoriter, basis loyalis yang solid sering kali lebih menentukan daripada dukungan mayoritas pasif.
Namun, dukungan itu hidup berdampingan dengan represi yang amat keras. Kantor Komisaris Tinggi HAM PBB pada 11 Maret 2026 memperingatkan bahwa krisis HAM di Iran telah mencapai tingkat represi yang “unprecedented” atau belum pernah terjadi sebelumnya, dan pelanggaran yang terjadi mungkin masuk kategori kejahatan terhadap kemanusiaan. Dokumen misi pencari fakta PBB yang dipublikasikan Maret 2026 juga menyoroti represi setelah permusuhan Juni 2025, lonjakan tajam eksekusi pada 2025, impunitas yang persisten, serta diskriminasi struktural terhadap perempuan, anak perempuan, dan kelompok minoritas. Fakta ini memperkuat satu hal: diamnya sebagian warga Iran tidak bisa dibaca otomatis sebagai dukungan terhadap rezim, karena ruang sipil dan politik memang ditekan secara sistematis.
Reuters juga menunjukkan bahwa represi tersebut merupakan bagian dari strategi pencegahan sebelum ledakan sosial terjadi. Dalam laporan 30 Maret 2026, Reuters menyebut Basij, organisasi paramiliter di bawah Garda Revolusi, ditempatkan di pos-pos pemeriksaan dalam dan di pintu masuk kota-kota besar. Reuters bahkan mencatat bahwa minimum usia sukarelawan untuk patroli dan pos pemeriksaan diturunkan menjadi 12 tahun. Semua itu mengindikasikan satu hal: negara Iran sangat sadar bahwa ancaman paling berbahaya justru bisa muncul setelah bom berhenti, ketika rakyat melihat puing-puing ekonomi dan masa depan yang suram. Dengan kata lain, negara sedang membeli waktu dengan represi.
Faktor ekonomi akan menjadi medan penentuan berikutnya. Reuters pada 8 April 2026 menyebut ekonomi sebagai “Achilles heel” Iran. Menurut laporan itu, tanpa pencabutan sanksi dan pelepasan dana yang dibekukan, pemerintah Iran akan menghadapi kesulitan besar bahkan hanya untuk membayar gaji, apalagi memperbaiki infrastruktur yang rusak. Reuters juga mencatat bahwa industri utama akan butuh berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk pulih, sementara hubungan ekonomi Iran dengan negara-negara Teluk—terutama Uni Emirat Arab—mengalami kerusakan kepercayaan yang bisa bertahan sangat lama. Jika gencatan senjata hanya menghentikan perang tetapi tidak membawa pemulihan ekonomi, legitimasi rezim berpotensi makin terkikis.
Meski demikian, perlu ditekankan bahwa ketidakpuasan terhadap rezim tidak identik dengan dukungan terhadap intervensi asing. Laporan-laporan Reuters tentang sentimen domestik Iran sepanjang 2026 menunjukkan bahwa banyak warga marah pada pemerintah, tetapi pada saat yang sama takut bahwa campur tangan luar hanya akan memperbesar kehancuran negara. Itulah sebabnya respons publik Iran tidak monolitik: ada loyalis rezim, ada oposisi anti-teokrasi, ada kelompok pragmatis yang hanya ingin perang berhenti dan ekonomi pulih, dan ada warga yang menolak baik rezim maupun intervensi asing sekaligus. Konfigurasi sosial seperti ini membuat perubahan politik di Iran kemungkinan besar akan lebih ditentukan oleh dinamika internal ketimbang oleh serangan dari luar.
Kesimpulannya, jika gencatan senjata benar-benar berlanjut, hasil yang paling realistis saat ini bukanlah pergantian rezim dalam waktu dekat. Yang lebih mungkin adalah fase transisi berkepanjangan: rezim selamat untuk sementara karena masih menguasai alat koersif negara, sementara oposisi membesar secara sosial tetapi belum cukup padu untuk mengambil alih kekuasaan. Pergantian rezim di Iran baru menjadi jauh lebih mungkin jika tiga faktor bertemu sekaligus: krisis ekonomi makin dalam, protes massa berlangsung terus-menerus, dan—yang paling menentukan—muncul retak di tubuh elite atau aparat keamanan. Sejauh ini, dua faktor pertama mulai terlihat, tetapi faktor ketiga belum tampak kuat. Karena itu, kalimat yang paling akurat untuk situasi sekarang adalah ini: rezim mullah melemah, tetapi belum runtuh; oposisi membesar, tetapi belum siap berkuasa.
Oleh Primus Dorimulu, CEO Investortrust.id
