Rezim Iran Terancam Runtuh. Apa Dampaknya bagi Rusia?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Masa depan pemerintahan Iran berada di ujung tanduk seiring meningkatnya gelombang kerusuhan sipil. Sekutunya yang kuat, Rusia, tak bisa berbuat banyak selain menunggu dan mengamati saat Amerika Serikat mempertimbangkan langkah berikutnya terhadap Republik Islam tersebut.
Baca Juga
Iran Membara, Korban Tewas Kerusuhan Dilaporkan Mencapai 500 Orang
Presiden AS Donald Trump belum menutup kemungkinan penggunaan serangan militer terhadap rezim religius konservatif yang berkuasa di Iran sejak 1979. Pada Selasa (14/1/2026), ia kembali mengulang ancaman itu, memperingatkan bahwa AS akan mengambil “tindakan yang sangat keras” jika Iran mengeksekusi para demonstran yang ditangkap. Trump juga telah menyatakan bahwa negara mana pun yang berbisnis dengan Iran akan dikenai tarif sebesar 25%.
Rusia akan mencermati secara saksama perkembangan di Iran, mengingat posisi Teheran sebagai mitra strategis, militer, ekonomi, dan perdagangan utama Moskow di Timur Tengah.
Prospek jatuhnya satu lagi sekutu di kawasan Timur Tengah menjadi kekhawatiran serius bagi Moskow, terutama setelah aliansinya dengan Venezuela, Suriah, dan kawasan Kaukasus terguncang dalam beberapa waktu terakhir, yang menggerus kekuatan dan pengaruh Rusia di luar negeri.
Baca Juga
Trump Pertimbangkan Opsi Militer ke Iran di Tengah Aksi Protes yang Makin Meluas
“Moskow melihat potensi kehilangan Iran sebagai risiko yang jauh lebih signifikan terhadap posisi nasional dan regionalnya dibandingkan kehilangan Suriah, Venezuela, atau bahkan pengaruhnya di Armenia dalam beberapa tahun terakhir,” ujar Max Hess, pendiri konsultan risiko politik Enmetena Advisory, kepada CNBC, Selasa.
“Hal ini karena Iran sendiri merupakan pemroyeksi kekuatan regional, yang memberi Rusia platform untuk membangun aliansi dan memperluas pengaruhnya,” katanya.
Mario Bikarski, analis senior Eropa dan Asia Tengah di Verisk Maplecroft, sepakat bahwa keruntuhan rezim Iran akan sangat mengkhawatirkan Moskow dan berpotensi memicu ketidakstabilan regional yang lebih luas, termasuk di kawasan Kaukasus yang memisahkan Rusia dan Iran.
“Protes di Iran pernah terjadi sebelumnya, dan Rusia selalu mengamatinya tanpa bereaksi, karena mereka berharap rezim Iran mampu bertahan. Namun kali ini tekanannya terus meningkat, bukan hanya dari dalam negeri, tetapi juga dari luar,” ujarnya kepada CNBC.
Baca Juga
Tingkatkan Tekanan, Trump Ancam Kenakan Tarif 25% bagi Mitra Dagang Iran
“Jika rezim Iran runtuh, Rusia kemungkinan harus bergerak cepat mencari cara baru untuk memastikan ketidakstabilan tidak menjalar ke perbatasannya, sekaligus mempertahankan pengaruhnya di kawasan,” tambahnya.
Jika terjadi kekosongan kepemimpinan di Iran dan faksi-faksi yang bersaing berebut kekuasaan, memicu kekerasan dan kekacauan lebih lanjut, hal itu akan menjadi “masalah keamanan besar bagi Rusia dan banyak negara lain di kawasan,” peringatan Bikarski.
Sikap Rusia
Baik Kremlin maupun Presiden Rusia Vladimir Putin belum memberi komentar tegas terkait perkembangan di Iran. Respons yang datar bukanlah hal aneh saat Moskow masih menilai dampak suatu peristiwa terhadap kepentingan strategisnya.
Media pemerintah Rusia meredam pemberitaan soal protes di Iran, sementara para pejabat Rusia menuding kerusuhan tersebut sebagai akibat “campur tangan asing” tanpa menyertakan bukti.
Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan bahwa kerusuhan itu dapat memicu “konsekuensi yang membawa bencana bagi situasi di Timur Tengah dan keamanan internasional global.” Sementara itu, Sekretaris Dewan Keamanan Rusia Sergei Shoigu mengecam apa yang ia sebut sebagai “upaya kekuatan asing untuk mencampuri urusan dalam negeri Iran,” sejalan dengan tudingan Teheran terhadap Barat.
Ideologi anti-Barat menjadi faktor perekat hubungan Rusia–Iran, bersama dengan sanksi internasional yang membuat Iran menjadi salah satu dari sedikit mitra global yang dapat diandalkan Moskow untuk bantuan perangkat militer setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Hubungan tersebut semakin mendalam selama perang, dengan Iran memasok drone serang “Shahed” dan diduga juga rudal, amunisi, serta artileri untuk digunakan Rusia. Teheran mengakui memasok drone, namun menyebut pengiriman itu dilakukan sebelum perang.
Sebagai imbalannya, Iran dilaporkan menerima teknologi militer dan intelijen dari Rusia, serta pendanaan untuk program antariksa dan rudalnya. Teheran juga disebut-sebut mengincar jet tempur Su-35 dan sistem pertahanan udara S-400 Rusia, meski belum jelas apakah sistem tersebut pernah diterima.
Namun, salah satu tanda paling jelas bahwa aliansi ini tidak sesederhana yang terlihat adalah ketika Rusia memilih untuk tidak terlibat saat ketegangan antara Iran dan Israel meningkat, termasuk saat serangan udara AS dan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran pada musim panas lalu.
Analis saat itu berpendapat bahwa Rusia kemungkinan tidak mampu mendukung Iran secara militer karena fokusnya di Ukraina, tetapi juga tidak bersedia melakukannya karena konflik langsung dengan AS dan Israel akan sangat berbahaya dan merugikan Moskow.
Akhir Sebuah Aliansi?
Sikap Rusia yang menjaga jarak tahun lalu menjadi peringatan bagi kepemimpinan Iran mengenai batas-batas aliansinya dengan Putin — batas yang kini kembali terlihat.
“Tidak ada apa pun yang bermakna yang bisa diberikan Rusia kepada rezim Iran untuk menyelamatkannya. Sudah terlambat, dan saya bahkan tidak yakin peluang untuk membantu rezim secara domestik pernah benar-benar ada sejak rakyat Iran bangkit,” kata Bilal Saab, associate fellow Program Timur Tengah dan Afrika Utara di Chatham House, kepada CNBC.
“Gagasan bahwa Rusia akan datang menolong Iran atau mengeluarkan biaya militer besar untuk menopang rezim itu sangat tidak mungkin. Rusia memprioritaskan kepentingannya sendiri dan pada dasarnya tidak percaya pada aliansi, setidaknya di bawah Vladimir Putin, melainkan hanya pada cara-cara memproyeksikan kekuatan,” tambah Hess.
Menurut Bikarski, Kremlin tetap akan menjalin hubungan dengan Iran, jika terjadi perubahan rezim. “Rusia akan berupaya kembali menjalin hubungan dengan siapa pun yang menggantikan Republik Islam, dan memastikan kepentingannya selaras dengan pemerintahan baru,” ujarnya.
Jika tidak, Rusia “sepenuhnya tersingkir dari Timur Tengah.” Skenario tersebut, katanya, akan sangat tidak diinginkan oleh Moskow. Meski saat ini tidak memiliki kapasitas untuk memproyeksikan kekuatan militer secara luas atau menjalin hubungan dagang yang sangat kuat, Rusia tetap ingin dipandang sebagai mitra di kawasan tersebut dan tidak ingin secara sukarela menyerahkan seluruh pengaruhnya kepada Amerika Serikat.

