Iran “Siaga Tempur”, Trump Sebut Gencatan Senjata di Ambang Runtuh
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran menegaskan militernya siap merespons setiap serangan baru dari Amerika Serikat meski Teheran mengaku masih menginginkan perdamaian jangka panjang. Pernyataan itu muncul di tengah rapuhnya gencatan senjata antara Washington dan Teheran yang terus dibayangi ancaman eskalasi di Selat Hormuz dan kawasan Teluk Persia.
Dalam laporan langsung yang dipublikasikan Al Jazeera Live pada Selasa (12/05/2026), Iran menyatakan “jari tetap berada di pelatuk”, namun pada saat yang sama membuka ruang bagi “perdamaian yang berkelanjutan”. Laporan tersebut mengutip meningkatnya ketegangan regional setelah Kuwait menuduh anggota Garda Revolusi Iran (IRGC) mencoba memasuki Pulau Bubiyan untuk melakukan aktivitas “bermusuhan”.
Menurut pemerintah Kuwait, empat anggota IRGC ditangkap setelah bentrokan dengan aparat keamanan setempat, sementara dua lainnya berhasil melarikan diri. Wakil Menteri Luar Negeri Kuwait Hamad Suleiman Al-Meshaan bahkan menyerahkan nota protes resmi kepada Duta Besar Iran Mohammad Totonji atas insiden tersebut.
Baca Juga
Donald Trump: Gencatan Senjata dengan Iran Nyaris Gagal Total
Kuwait menilai tindakan itu sebagai ancaman serius terhadap stabilitas kawasan Teluk, terutama setelah negara-negara Teluk sebelumnya berulang kali menjadi sasaran rudal dan drone Iran sejak perang AS-Israel melawan Iran pecah pada 28 Februari 2026 hingga gencatan senjata diberlakukan pada 8 April 2026.
Di saat bersamaan, Qatar menuduh Iran “mempersenjatai” Selat Hormuz dan melakukan “pemerasan geopolitik” terhadap negara-negara Teluk. Tuduhan tersebut muncul karena jalur energi vital dunia itu masih mengalami gangguan serius, menyebabkan pasokan energi dan logistik global tertahan di kawasan.
Laporan CBS News yang diperbarui pada Senin siang waktu AS (12/05/2026) menyebut Presiden AS Donald Trump telah menolak proposal perdamaian terbaru dari Iran dan menyatakan gencatan senjata kini berada dalam kondisi “on life support” atau di ambang keruntuhan.
Sebagai respons, Ketua Parlemen Iran memperingatkan bahwa militer Iran siap “memberi pelajaran” kepada pihak mana pun yang menyerang Republik Islam tersebut. Pernyataan keras itu memperkuat sinyal bahwa Teheran tengah meningkatkan kesiapan militernya jika konflik kembali pecah.
CBS juga melaporkan bahwa Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee mengonfirmasi Israel telah mengirim baterai rudal anti-serangan dan personel militer ke Uni Emirat Arab (UEA) guna membantu melindungi negara tersebut dari ancaman Iran. Langkah itu disebut memperlihatkan semakin eratnya hubungan pertahanan Israel dan negara-negara Teluk sejak perang Iran pecah.
Sementara itu, konflik di Lebanon selatan juga terus memanas. Serangan Israel dilaporkan menewaskan sedikitnya enam orang, termasuk paramedis di Nabatieh. Kelompok Hizbullah yang didukung Iran bahkan mengancam akan mengubah medan perang menjadi “neraka bagi Israel”.
Kementerian Kesehatan Lebanon menyebut total korban jiwa akibat serangan Israel sejak 2 Maret 2026 telah mencapai 2.883 orang. Adapun di Gaza, korban tewas akibat perang Israel terus bertambah menjadi lebih dari 72.740 orang.
Di Washington, isu legalitas perang Iran kembali mencuat. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan Presiden Donald Trump tidak memerlukan persetujuan Kongres apabila operasi militer terhadap Iran kembali dilanjutkan.
Baca Juga
Trump Tolak Proposal Iran, Ketegangan Selat Hormuz Bayangi Stabilitas Energi Dunia
Dalam sidang Senat AS, Senator Partai Republik Lisa Murkowski mempertanyakan apakah Gedung Putih akan meminta otorisasi resmi penggunaan kekuatan militer dari Kongres. Namun Hegseth menegaskan pemerintah meyakini Trump memiliki kewenangan penuh berdasarkan Pasal II Konstitusi AS untuk mengambil tindakan militer.
Pernyataan itu memicu kontroversi baru di Washington karena berdasarkan War Powers Resolution 1973, presiden AS hanya memiliki waktu 60 hari untuk melanjutkan operasi militer tanpa persetujuan Kongres.
Meski demikian, pemerintahan Trump berpendapat tenggat tersebut berhenti berlaku setelah gencatan senjata diumumkan. Trump sendiri dalam surat kepada para pemimpin Kongres menyatakan “permusuhan dengan Iran telah berakhir”, meskipun perkembangan terbaru menunjukkan situasi masih sangat rapuh dan berpotensi kembali meledak sewaktu-waktu.

