Saat Senjata Dikubur Kembali Digali: Iran Siapkan Serangan Baru di Tengah Gencatan Senjata, Trump Pertimbangkan Opsi Militer
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Iran dilaporkan mempercepat upaya menggali kembali persenjataan strategisnya, termasuk rudal dan amunisi, di tengah gencatan senjata yang masih berlangsung dengan Amerika Serikat. Langkah ini dinilai sebagai bagian dari strategi Teheran untuk memulihkan kemampuan militernya jika perang kembali pecah.
Laporan tersebut disampaikan oleh NBC News dalam artikel yang ditulis Gordon Lubold, Courtney Kube, Dan De Luce, dan Monica Alba, yang dipublikasikan pada akhir April 2026. Mengutip seorang pejabat AS dan dua sumber yang mengetahui situasi tersebut, Iran disebut meningkatkan aktivitas menggali senjata yang sebelumnya disembunyikan di bawah tanah atau tertimbun reruntuhan akibat serangan udara AS dan Israel.
Menurut sumber tersebut, tujuan utama Iran adalah membangun kembali kapabilitas rudal dan drone agar dapat melancarkan serangan di kawasan Timur Tengah apabila Presiden AS Donald Trump memutuskan melanjutkan operasi militer.
Perkembangan ini terjadi di tengah kebuntuan negosiasi antara kedua negara, yang sebelumnya difasilitasi setelah gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April 2026. Gencatan senjata itu dimaksudkan untuk membuka ruang diplomasi sekaligus memulihkan lalu lintas di Selat Hormuz—jalur vital energi global yang sejak 28 Februari 2026 diblokir Iran menyusul serangan udara gabungan AS dan Israel.
Di Washington, Trump dijadwalkan bertemu dengan tim keamanan nasionalnya untuk mengevaluasi berbagai opsi, termasuk kemungkinan serangan militer baru guna membuka kembali Selat Hormuz dan meniadakan kemampuan nuklir Iran. Panglima US Central Command, Laksamana Brad Cooper, disebut akan memberikan pengarahan terkait opsi tersebut, termasuk status blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran.
Seorang pejabat Gedung Putih juga mengungkapkan bahwa rencana kunjungan Trump ke China pada pertengahan Mei 2026—untuk bertemu Presiden Xi Jinping—menjadi salah satu pertimbangan penting dalam pengambilan keputusan. Kunjungan ini sebelumnya sempat ditunda akibat eskalasi perang Iran.
Dari sisi militer, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth pada 16 April 2026 menyatakan bahwa pihaknya telah memantau upaya Iran memindahkan dan memulihkan aset militer. “Kami tahu apa yang Anda pindahkan dan ke mana Anda memindahkannya,” ujarnya dalam pernyataan di Pentagon.
Gedung Putih bahkan mengklaim bahwa kampanye militer AS telah mencapai seluruh tujuannya. Juru bicara Anna Kelly menyebut bahwa rudal balistik Iran telah dihancurkan, fasilitas produksinya dilumpuhkan, angkatan lautnya ditenggelamkan, dan jaringan proksinya dilemahkan. Meski demikian, Washington tetap membuka jalur diplomasi untuk memastikan Iran tidak pernah memiliki senjata nuklir.
Baca Juga
Namun, klaim tersebut tidak sepenuhnya sejalan dengan temuan intelijen AS. Laporan NBC News sebelumnya menyebut Iran masih mempertahankan sebagian besar kemampuan militernya, termasuk lebih dari separuh armada udara dan komponen laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), serta sejumlah besar rudal balistik.
Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, yang menyebut Iran masih memiliki sekitar setengah dari arsenal rudalnya. Sementara itu, Trump sendiri mengakui bahwa sekitar 82% rudal Iran telah dihancurkan, namun sisanya masih menjadi ancaman.
Informasi ini sejalan dengan laporan berbagai media internasional. BBC dan Reuters dalam laporan akhir April 2026 juga menyoroti bahwa meskipun serangan udara AS-Israel telah melemahkan kekuatan Iran, negara tersebut masih memiliki kapasitas tempur signifikan dan terus melakukan reposisi militer di tengah ketidakpastian diplomasi.
Sementara itu, Al Jazeera dalam pembaruan langsung pada 1 Mei 2026 melaporkan bahwa ketegangan tetap tinggi, dengan Iran menyebut blokade pelabuhan oleh AS sebagai tindakan “tidak dapat ditoleransi”, memperkuat indikasi bahwa konflik dapat kembali memanas sewaktu-waktu.
Dengan negosiasi yang menemui jalan buntu dan kedua pihak tetap mempertahankan posisi keras, gencatan senjata yang rapuh kini lebih terlihat sebagai jeda strategis ketimbang langkah menuju perdamaian permanen.

