Trump Pertimbangkan Opsi Militer ke Iran di Tengah Aksi Protes yang Makin Meluas
WASHINGTON DC, Investortrust.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan telah menerima pemaparan terbaru mengenai sejumlah opsi militer terhadap Iran di tengah memburuknya situasi unjuk rasa di negara tersebut.
Sejumlah pejabat AS yang mengetahui pembahasan itu menyebut kepada New York Times bahwa pengarahan diberikan seiring meningkatnya tekanan Washington terhadap Teheran atas respons keras aparat keamanan Iran terhadap demonstrasi yang kini berkembang menjadi tantangan langsung terhadap kepemimpinan ulama.
Meski belum mengambil keputusan final, Trump disebut serius mempertimbangkan opsi serangan terbatas apabila otoritas Iran memperkeras tindakan represif terhadap para demonstran. Opsi yang disodorkan mencakup serangan terarah yang berkaitan dengan aparat keamanan Iran, termasuk sejumlah lokasi strategis di Teheran.
Sebagaimana diberitakan Times of India, Minggu (11/1/2027), gelombang protes di Iran bermula pada 28 Desember, dipicu krisis nilai tukar mata uang dan melonjaknya biaya hidup.
Aksi tersebut kemudian menyebar ke berbagai wilayah meski pemerintah memberlakukan pemadaman internet hampir total. Kelompok pembela hak asasi manusia melaporkan sedikitnya 72 orang tewas dan lebih dari 2.300 orang ditahan sejak unjuk rasa berlangsung.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei sejauh ini tidak menunjukkan tanda-tanda akan melunak. Mengutip Associated Press, Khamenei justru mengisyaratkan pengetatan tindakan keamanan meski Amerika Serikat telah menyampaikan peringatan berulang kali.
Sikap keras itu kembali ditegaskan pada Sabtu (10/1/2026), ketika Jaksa Agung Mohammad Movahedi Azad memperingatkan bahwa para pengunjuk rasa akan diperlakukan sebagai “musuh Tuhan”, sebuah tuduhan yang dapat berujung hukuman mati dalam sistem hukum Iran. Televisi pemerintah bahkan menyatakan bahwa siapa pun yang dituduh membantu demonstran juga akan dijerat pidana.
Sejumlah aksi unjuk rasa juga diwarnai seruan dukungan terhadap mantan penguasa Iran Shah Mohammad Reza Pahlavi yang wafat pada 1980. Putranya, Reza Pahlavi, secara terbuka menyerukan agar masyarakat Iran terus melanjutkan perlawanan terhadap rezim saat ini.
Baca Juga
Iran Terus Diguncang Aksi Massa, Dipicu Mahalnya Harga Barang hingga Peran Donald Trump
Gejolak di Iran turut menggema hingga luar negeri. Pada Jumat, seorang demonstran anti-rezim memanjat balkon Kedutaan Besar Iran di kawasan Kensington, London, menurunkan bendera Republik Islam dan menggantinya dengan simbol “Singa dan Matahari” yang identik dengan era monarki sebelum 1979.
Rekaman video memperlihatkan massa bersorak saat lambang tersebut dikibarkan. Aksi solidaritas serupa dilaporkan berlangsung di sejumlah kota besar Eropa seperti Paris dan Berlin. Demonstrasi juga digelar di depan Gedung Putih di Washington, menegaskan sorotan internasional terhadap respons Teheran.
Trump berulang kali memperingatkan para pemimpin Iran agar tidak menggunakan kekerasan mematikan. Pada Jumat (9/1/2027), ia menyatakan Iran sedang berada “dalam masalah besar” dan menegaskan bahwa respons Amerika Serikat tidak akan melibatkan pengerahan pasukan darat. “Kami akan memukul mereka sangat keras di titik yang paling menyakitkan,” kata Trump kepada wartawan, sembari menambahkan bahwa eskalasi masih bisa dihindari.
Melalui media sosial, Trump menegaskan kesiapan Amerika Serikat untuk mendukung rakyat Iran yang menuntut kebebasan. “Iran sedang menatap KEBEBASAN, mungkin seperti belum pernah sebelumnya,” tulis Trump pada Sabtu. “Amerika Serikat siap membantu.”
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga melakukan pembicaraan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Sabtu. Keduanya membahas situasi protes di Iran serta perkembangan di Suriah dan Gaza. Rubio kemudian menuliskan bahwa Amerika Serikat “mendukung rakyat Iran yang berani”.
Pejabat senior AS menekankan bahwa setiap langkah militer harus mempertimbangkan keseimbangan yang cermat, yakni menghukum Teheran tanpa justru menyatukan dukungan publik di dalam negeri Iran terhadap rezim atau memicu serangan balasan terhadap pasukan dan perwakilan diplomatik AS di kawasan. Seorang pejabat militer senior mengatakan para komandan memerlukan waktu tambahan untuk mengonsolidasikan posisi dan memperkuat pertahanan sebelum operasi apa pun dijalankan.
Pertimbangan ini muncul sekitar enam bulan setelah Trump memerintahkan serangan terhadap tiga fasilitas nuklir Iran dalam operasi yang dijuluki Midnight Hammer. Serangan tersebut melibatkan pembom siluman B-2 dan peluncuran rudal jelajah dari kapal selam, yang kemudian dibalas Iran dengan rentetan serangan rudal serta dibukanya kembali peluang perundingan terkait program nuklirnya.
Sementara teriakan penentangan terhadap pemerintah kembali menggema di sejumlah wilayah Teheran pada Sabtu malam, Gedung Putih memberi sinyal bahwa langkah selanjutnya akan sangat bergantung pada sejauh mana kepemimpinan Iran bersedia menekan perlawanan di jalanan.

