Iran Membara, Pendemo Desak AS Intervensi: Akankah Rezim Khamenei Tumbang?
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id— Krisis politik dan sosial di Iran memasuki fase paling menentukan sejak Revolusi Islam 1979. Gelombang protes nasional yang meletus sejak akhir Desember 2025 tidak hanya mencerminkan kemarahan publik atas krisis ekonomi akut, tetapi telah bertransformasi menjadi tuntutan terbuka untuk menjatuhkan rezim teokrasi di bawah kepemimpinan Ali Khamenei. Dalam perkembangan terbaru, sebagian demonstran bahkan secara terang-terangan menyerukan intervensi Amerika Serikat untuk mengakhiri kekuasaan ulama yang telah bercokol lebih dari empat dekade.
Aksi protes yang bermula dari tekanan ekonomi—melonjaknya harga pangan, inflasi ekstrem, serta runtuhnya nilai rial dengan cepat menjalar ke seluruh 31 provinsi Iran. Pedagang pasar, buruh, mahasiswa, hingga kelas menengah perkotaan turun ke jalan, menjadikan protes ini sebagai yang paling luas dan paling politis dalam sejarah Republik Islam. Slogan-slogan yang sebelumnya berfokus pada isu kesejahteraan kini berubah menjadi seruan penggulingan rezim dan penolakan total terhadap sistem teokrasi.
Respons pemerintah berlangsung keras. Aparat keamanan dikerahkan secara masif, jam malam diberlakukan, dan pemadaman internet nasional diterapkan sejak awal Januari 2026. Kelompok hak asasi manusia memperkirakan korban tewas mencapai ribuan orang, sementara ribuan lainnya ditahan. Meski aksi jalanan besar mulai mereda akibat represi, perlawanan sporadis dan pembangkangan simbolik terus berlangsung, menandakan bahwa kemarahan publik belum padam.
Di tengah situasi itu, dinamika geopolitik ikut menguat. Pemerintahan Donald Trump hingga pertengahan Januari 2026 memilih menunda rencana serangan militer langsung terhadap Iran, meski ketegangan tetap berada di level tinggi. Penundaan ini terjadi setelah Washington menerima sinyal bahwa Teheran menghentikan rencana eksekusi massal terhadap demonstran. Namun Gedung Putih menegaskan, “semua opsi tetap berada di atas meja” jika kekerasan kembali meningkat.
Menariknya, sebagian demonstran Iran kini secara terbuka menyuarakan harapan akan campur tangan eksternal, khususnya dari Amerika Serikat. Seruan ini mencerminkan krisis legitimasi rezim yang kian dalam, ketika sebagian rakyat tidak lagi percaya perubahan dapat dicapai dari dalam sistem. Tokoh oposisi di pengasingan pun memperkuat narasi bahwa rezim ulama telah kehilangan mandat moral dan politik untuk memerintah.
Meski demikian, opsi intervensi militer tidak sederhana. Analis menilai kesiapan militer AS di kawasan belum optimal untuk konflik besar, sementara sekutu-sekutu Washington di Teluk dan Israel mengkhawatirkan skenario pembalasan Iran yang dapat memicu perang regional. Karena itu, AS saat ini lebih mengedepankan tekanan ekonomi, termasuk ancaman tarif terhadap negara-negara mitra dagang Iran dan penguatan sanksi internasional.
Bagi kawasan Timur Tengah, krisis Iran terjadi pada momentum yang sensitif. Melemahnya jaringan proksi Iran, runtuhnya rezim Assad di Suriah, serta instabilitas di Lebanon dan Yaman telah menggerus pengaruh regional Teheran. Kombinasi tekanan domestik dan isolasi eksternal ini menciptakan situasi yang oleh sebagian pengamat disebut sebagai “perfect storm” bagi keberlangsungan Republik Islam.
Namun sejarah Iran juga menunjukkan daya tahan rezim dalam menghadapi tekanan. Meski legitimasi Khamenei kian dipertanyakan dan ekonomi berada di titik nadir, aparat keamanan dan struktur kekuasaan ulama masih solid. Karena itu, pertanyaan “apakah Khamenei segera tumbang” belum memiliki jawaban pasti.
Yang jelas, Iran kini berada di titik balik sejarah. Aksi protes mungkin mereda di permukaan, tetapi akar krisis—kemiskinan, ketimpangan, dan ketiadaan kebebasan politik—tetap membara. Dalam kondisi seperti ini, satu percikan kecil, baik dari dalam negeri maupun dari dinamika geopolitik global, berpotensi kembali menyulut ledakan yang lebih besar.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menghargai Iran urung mengeksekusi mati demonstran. Trum menegaskan, Taheran membatalkan eksekusi mati terhadap sekitar 800 demonstran yang ditangkap dalam penindakan brutal.
Baca Juga
Mossad ke AS
Kepala otoritas kehakiman Iran, Gholamhossein Mohseni-Ejei sempat mengisyaratkan akan ada persidangan cepat dan eksekusi mati bagi orang-orang yang ditahan terkait unjuk rasa besar-besaran yang berlangsung di berbagai wilayah. Hal ini mengabaikan peringatan yang disampaikan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Di lain sisi, Kepala badan intelijen Israel Mossad, David Barnea, dilaporkan tiba di Amerika Serikat untuk melakukan konsultasi terkait Iran di tengah berlanjutnya gelombang protes di negara tersebut. Menurut laporan Axios, Barnea dijadwalkan bertemu dengan utusan khusus AS, Steve Witkoff, di Florida. Namun, pertemuan antara Barnea dan Presiden AS Donald Trump belum dapat dipastikan.
Topik utama pembahasan disebut-sebut berkaitan dengan potensi serangan militer AS terhadap Iran.
Para pejabat Israel meyakini bahwa serangan tersebut dapat terjadi dalam beberapa hari ke depan, meskipun mereka juga khawatir Iran akan memanfaatkan penundaan untuk memperkuat posisinya dan meredakan tekanan dari AS.
Sementara itu, The New York Times, Kamis (15/1) melaporkan, mengutip seorang pejabat AS, bahwa pemimpin otoritas Israel Benjamin Netanyahu, Rabu, meminta Trump untuk menunda rencana serangan militer terhadap Iran.
Namun, presiden AS dilaporkan menyatakan tidak menutup kemungkinan opsi serangan terhadap Iran.
Media News Nation juga melaporkan bahwa Qatar, Arab Saudi, dan Oman turut membujuk Trump agar menghindari serangan terhadap Iran.
Sejak 8 Januari, menyusul seruan dari Reza Pahlavi, putra Shah Iran yang digulingkan pada 1979, aksi unjuk rasa semakin meluas dan intensif.
Trump menyatakan akan mendukung serangan baru terhadap Iran jika Teheran berupaya melanjutkan pengembangan program rudal dan nuklirnya. Kemudian, di tengah gelombang protes di Iran, Trump juga mengancam akan melancarkan serangan besar jika para demonstran dibunuh. (ant)
Baca Juga
Bursa Eropa Tertekan, Ketegangan Greenland dan Iran Bayangi Pasar

