Pertumbuhan AS Melambat, Krisis Energi Global Tingkatkan Tekanan Inflasi
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id — Perekonomian Amerika Serikat memasuki 2026 dengan fondasi yang lebih rapuh dari perkiraan. Revisi terbaru menunjukkan pertumbuhan ekonomi kuartal terakhir 2025 turun tajam, sementara tekanan inflasi masih bertahan di atas target bank sentral—situasi yang semakin rumit di tengah lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah.
Baca Juga
Konflik Timur Tengah Bikin Pasar Panas, Minyak Brent Tembus US$ 100 Lagi
Departemen Perdagangan AS pada Jumat (13/3/2026) melaporkan bahwa produk domestik bruto (PDB) hanya tumbuh 0,7% secara tahunan pada kuartal keempat 2025, jauh lebih rendah dari estimasi sebelumnya sebesar 1,4% dan di bawah ekspektasi pasar sebesar 1,5%.
Angka tersebut juga menunjukkan perlambatan drastis dibanding pertumbuhan 4,4% pada kuartal sebelumnya. Penurunan ini sebagian besar dipicu oleh penutupan pemerintahan federal terpanjang dalam sejarah AS yang menyebabkan belanja pemerintah merosot hingga 16,7%.
Secara keseluruhan, ekonomi AS tumbuh 2,1% sepanjang 2025, sedikit lebih rendah dari perkiraan sebelumnya dan turun dari laju 2,8% pada 2024.
Biro Analisis Ekonomi (BEA) menyebut revisi ke bawah terutama berasal dari penyesuaian pada belanja konsumen, pengeluaran pemerintah, dan ekspor. Belanja konsumen—motor utama ekonomi AS—naik 2% pada kuartal keempat, melambat dari 3,5% pada kuartal sebelumnya setelah mengalami revisi turun.
Sektor jasa, terutama pengeluaran layanan kesehatan, menjadi penyumbang terbesar revisi penurunan tersebut.
Namun yang lebih mengkhawatirkan bagi pasar adalah dinamika inflasi yang tetap tinggi. Data Januari menunjukkan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE)—indikator inflasi favorit Federal Reserve—naik 0,3% secara bulanan, dengan laju tahunan mencapai 2,8%.
Ketika komponen volatil seperti makanan dan energi dikeluarkan, inflasi inti PCE justru naik lebih kuat, yakni 0,4% pada Januari atau 3,1% secara tahunan. Angka ini lebih tinggi dibanding Desember dan masih jauh di atas target inflasi The Fed sebesar 2%.
“Revisi besar ke bawah pada PDB menjadi peringatan keras menjelang krisis energi ini, meningkatkan risiko stagflasi,” kata David Russell, kepala strategi pasar global di TradeStation, dikutip CNBC.
Menurutnya, data pesanan barang tahan lama yang stagnan pada Januari juga menunjukkan ekonomi AS memasuki fase ketidakpastian global dalam kondisi yang lebih lemah dari yang diharapkan investor.
Laporan terpisah Departemen Perdagangan menunjukkan pesanan barang tahan lama—seperti peralatan transportasi, komputer, dan peralatan rumah tangga—tidak mengalami pertumbuhan pada Januari. Angka ini jauh di bawah perkiraan pasar yang memperkirakan kenaikan 1,3%.
Jika sektor transportasi dikeluarkan, pesanan hanya naik tipis 0,4%.
Data ekonomi tersebut bahkan dirilis sebelum eskalasi konflik besar di Timur Tengah setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari. Sejak konflik itu pecah, harga energi global melonjak tajam, dengan minyak Brent menembus $100 per barel.
Baca Juga
Wall Street Anjlok Gegara Inflasi AS Memanas, Dow Ambles Lebih 500 Poin
Lonjakan energi ini berpotensi memperparah tekanan inflasi yang sebenarnya sudah tinggi sebelum krisis geopolitik tersebut.
“Gambaran inflasi sebenarnya sudah tidak baik bahkan sebelum krisis Timur Tengah. Masalah besar bagi Federal Reserve bisa menjadi jauh lebih besar,” beber Sonu Varghese, kepala strategi makro di Carson Group.
Ia menilai kondisi ini dapat memaksa bank sentral AS menunda pemangkasan suku bunga lebih lama dari perkiraan pasar. “Bahkan tidak menutup kemungkinan The Fed mulai membicarakan kenaikan suku bunga lagi pada akhir tahun ini,” ujarnya.
Sementara itu, data pendapatan dan pengeluaran rumah tangga menunjukkan ketahanan konsumsi yang masih moderat. Pendapatan pribadi dan belanja konsumen masing-masing meningkat 0,4% pada Januari, sementara tingkat tabungan melonjak menjadi 4,5%.
Namun indikator permintaan domestik yang lebih luas menunjukkan pelemahan. Penjualan swasta kepada pembeli domestik swasta—yang sering dianggap sebagai ukuran inti permintaan ekonomi—hanya tumbuh 1,9% pada kuartal keempat, turun dari kuartal sebelumnya.
Federal Reserve kini berada dalam posisi yang semakin sulit. Di satu sisi, ekonomi menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Di sisi lain, inflasi tetap tinggi dan kini menghadapi risiko tambahan dari lonjakan harga energi global.
Bank sentral AS dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga berikutnya pada Rabu mendatang. Pasar saat ini memperkirakan hampir pasti bahwa Federal Open Market Committee akan mempertahankan suku bunga pada level saat ini.
Namun dengan inflasi yang kembali memanas dan ketidakpastian geopolitik meningkat, arah kebijakan moneter AS dalam beberapa bulan ke depan bisa menjadi jauh lebih kompleks dari yang diperkirakan sebelumnya.
