Bagikan

Inflasi Inti AS Naik ke 3,2%, Ekonomi Melambat di Tengah Lonjakan Harga Energi

Poin Penting

Inflasi inti PCE AS naik ke 3,2%, tertinggi sejak November 2023
Pertumbuhan ekonomi kuartal I hanya 2%, di bawah ekspektasi
Lonjakan harga energi menjadi pendorong utama inflasi
Pasar tenaga kerja tetap kuat, dengan klaim pengangguran terendah sejak 1969

WASHINGTON, investortrust.id - Ekonomi Amerika Serikat menghadapi tekanan ganda pada Maret, ketika inflasi kembali meningkat di saat pertumbuhan ekonomi justru melambat. Lonjakan harga energi akibat konflik Iran menjadi faktor utama yang memperumit langkah kebijakan moneter bank sentral Federal Reserve.

Baca Juga

Inflasi AS Melonjak Gara-gara Perang Iran

Departemen Perdagangan AS, Kamis (30/4/2026), melaporkan, inflasi inti berdasarkan indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) - yang tidak memasukkan harga pangan dan energi - naik 0,3% secara bulanan dan mendorong tingkat tahunan ke 3,2%. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak November 2023 dan sejalan dengan ekspektasi pasar.

Jika memasukkan komponen energi dan pangan, inflasi bahkan meningkat lebih tajam, dengan kenaikan bulanan 0,7% dan laju tahunan mencapai 3,5%.

Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi tidak mampu memenuhi ekspektasi. Produk domestik bruto (PDB) AS hanya tumbuh 2% secara tahunan pada kuartal I-2026, lebih rendah dari perkiraan 2,2%, meskipun lebih baik dibanding kuartal sebelumnya yang hanya 0,5%.

Kondisi ini mencerminkan dinamika ekonomi yang timpang. Di satu sisi, investasi di sektor kecerdasan buatan (AI) melonjak. Namun di sisi lain, rumah tangga berpenghasilan menengah ke bawah semakin tertekan oleh kenaikan harga kebutuhan pokok, terutama energi.

“Ini adalah ekonomi dengan dua wajah. Perusahaan dan investor di sektor AI sedang melaju kencang, sementara rumah tangga menghadapi tekanan inflasi tertinggi dalam tiga tahun,” ujar Heather Long, kepala ekonom Navy Federal Credit Union, dikutip CNBC.

Meski demikian, pasar tenaga kerja tetap menunjukkan kekuatan. Klaim pengangguran awal turun menjadi 189.000, level terendah sejak 1969, mencerminkan kondisi pasar kerja yang stabil meski perekrutan dan PHK sama-sama rendah.

Tekanan inflasi terutama datang dari sektor barang, yang naik 1,4%, didorong lonjakan 11,6% pada energi. Kenaikan ini mulai menggerus daya beli konsumen, dengan belanja riil hanya tumbuh 1,6%.

Baca Juga

The Fed Tahan Suku Bunga di Tengah Perpecahan Internal dan Tekanan Inflasi Akibat Perang Iran

Situasi ini menjadi tantangan bagi Federal Open Market Committee (FOMC) yang baru saja memutuskan menahan suku bunga. Namun keputusan tersebut tidak bulat, dengan empat pejabat menolak, mencerminkan perbedaan pandangan di internal bank sentral terkait arah kebijakan ke depan.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024