Pemimpin Tertinggi Baru Iran: Selat Hormuz Harus Tetap Ditutup untuk Menekan Musuh
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, menyatakan bahwa Selat Hormuz harus tetap ditutup sebagai alat untuk menekan musuh-musuh Iran di tengah eskalasi konflik dengan Amerika Serikat dan Israel. Pernyataan tersebut menjadi komentar publik pertamanya sejak resmi diangkat sebagai pemimpin tertinggi Iran pada 9 Maret 2026.
Dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah Iran, Khamenei menegaskan bahwa penutupan jalur pelayaran strategis tersebut merupakan bagian dari strategi tekanan terhadap lawan-lawan Iran. Ia juga menyerukan agar seluruh pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah segera ditutup, seraya memperingatkan bahwa pangkalan-pangkalan tersebut dapat menjadi target serangan.
“Selat Hormuz harus tetap ditutup sebagai alat untuk menekan musuh,” kata Khamenei dalam pernyataannya. Ia menambahkan bahwa Iran tidak akan menahan diri untuk membalas darah para martirnya, sambil menyerukan persatuan di antara rakyat Iran.
Pernyataan tersebut langsung memicu reaksi di pasar energi global. Harga minyak dunia kembali menguat setelah komentar Khamenei, di tengah gangguan pasokan energi yang semakin serius akibat konflik di kawasan Teluk.
Sejak perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel pecah pada akhir Februari lalu, pengiriman minyak melalui Selat Hormuz praktis terhenti, memicu lonjakan harga minyak global. Iran bahkan memperingatkan bahwa harga minyak dunia dapat melonjak hingga US$200 per barel apabila konflik terus berlanjut.
Penutupan Selat Hormuz memiliki implikasi besar bagi ekonomi global. Jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut merupakan salah satu arteri energi paling penting di dunia, dengan sekitar 20% perdagangan minyak global melewati jalur ini setiap hari.
Mojtaba Khamenei, yang berusia 56 tahun, naik menjadi pemimpin tertinggi Iran setelah ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan udara Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari. Serangan tersebut menargetkan kompleks kediaman keluarga Khamenei di Teheran. Mojtaba sendiri dilaporkan mengalami luka dalam serangan tersebut.
Baca Juga
Drama Selat Hormuz Kembali Memanas, Harga Minyak Melonjak 4%
Secara politik, Mojtaba Khamenei dipandang memiliki sikap lebih keras dan konservatif dibandingkan ayahnya, meskipun sebelumnya ia jarang tampil di ruang publik Iran.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kekecewaannya atas terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran. Dalam wawancara dengan Fox News, Trump mengatakan, “Saya tidak percaya dia akan bisa hidup dalam damai.”
Meski demikian, masih belum jelas apakah Washington benar-benar menjadikan perubahan rezim di Teheran sebagai tujuan utama operasi militernya. Sejumlah analis menilai bahwa serangan udara saja kemungkinan tidak cukup untuk menggulingkan kepemimpinan Iran.
Sementara itu, konflik militer antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel terus meningkat. Serangan udara dan laut terhadap infrastruktur militer Iran semakin intensif dalam beberapa hari terakhir. Iran juga meningkatkan serangan balasan dengan menargetkan kapal-kapal tanker di sekitar Selat Hormuz.
Dalam pernyataan terbarunya, Khamenei juga menegaskan bahwa Iran akan menuntut kompensasi dari negara-negara yang dianggap sebagai musuh, atau menghancurkan aset-aset mereka sebagai bentuk pembalasan.
Dengan ancaman penutupan Selat Hormuz yang masih berlanjut, konflik Iran kini berpotensi memicu krisis energi global yang lebih luas dan meningkatkan ketidakpastian ekonomi dunia.

