AS Kirim 2.000 Pasukan Elite untuk Menekan Iran
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Amerika Serikat (AS) meningkatkan tekanan militer terhadap Iran dengan memerintahkan pengerahan sekitar 2.000 pasukan lintas udara ke Timur Tengah, di tengah upaya diplomasi rahasia untuk mengakhiri perang yang kini memasuki pekan keempat dan mengguncang ekonomi global.
Berdasarkan laporan The New York Times yang diperbarui pada Selasa (24/3/2026) pukul 20.36 waktu setempat, Pentagon mengerahkan pasukan dari Divisi Lintas Udara ke-82 (82nd Airborne Division) sebagai bagian dari strategi memberi lebih banyak opsi militer kepada Presiden Donald Trump. Pasukan ini berasal dari unit Immediate Response Force, brigade sekitar 3.000 personel yang mampu dikerahkan ke mana pun dalam waktu 18 jam.
Dua pejabat Departemen Pertahanan AS yang mengetahui kebijakan tersebut menyatakan, lokasi penempatan pasukan belum diumumkan, namun dipastikan berada dalam jangkauan serangan ke Iran (New York Times, terbit 24 Maret 2026).
Langkah militer ini berjalan paralel dengan inisiatif diplomatik. Pemerintahan Trump disebut telah mengirimkan proposal 15 poin kepada Iran melalui Pakistan sebagai mediator untuk mengakhiri konflik. Namun hingga kini belum jelas apakah Teheran akan menerima proposal tersebut, maupun apakah Israel sepenuhnya mendukung skema tersebut.
Baca Juga
Presiden Trump mengklaim negosiasi sedang berlangsung dan Iran “ingin membuat kesepakatan”. Namun, pemerintah Iran secara terbuka membantah adanya perundingan langsung. Meski demikian, sejumlah pejabat Iran mengakui adanya pertukaran pesan melalui pihak ketiga untuk meredakan konflik.
Di lapangan, realitas berbicara sebaliknya. Serangan terus berlangsung di berbagai front. Iran meluncurkan rudal ke Israel dan Irak, sementara Israel bersama AS terus menggempur target di dalam wilayah Iran.
Otoritas Israel melaporkan satu serangan langsung di Tel Aviv menyebabkan kerusakan besar pada sedikitnya tiga bangunan permukiman dan melukai sejumlah warga. Serangan roket dan drone dari Lebanon juga menewaskan sedikitnya satu orang di Israel utara (New York Times, 24 Maret 2026).
Laporan NBC News pada hari yang sama (24/3/2026) memperkuat eskalasi ini. Media tersebut menyebut Presiden Trump juga telah menyetujui tambahan lebih dari 1.000 pasukan ke kawasan, sementara Israel meluncurkan gelombang baru serangan ke Teheran pada Rabu pagi waktu setempat.
Konflik juga meluas ke Lebanon, di mana Israel berencana membentuk “zona keamanan” hingga Sungai Litani untuk menghadapi kelompok Hizbullah yang didukung Iran. Kebijakan ini menuai kecaman internasional, termasuk dari Kanada yang menilai langkah tersebut melanggar kedaulatan Lebanon (NBC News, terbit 24 Maret 2026).
Di sisi kemanusiaan, korban jiwa terus meningkat. Duta Besar Iran untuk PBB melaporkan sedikitnya 1.348 warga sipil tewas di Iran sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026. Kelompok pemantau independen bahkan memperkirakan jumlah korban melebihi 1.400 orang. Di Lebanon, lebih dari 1.000 orang dilaporkan tewas, sementara di Israel sedikitnya 15 orang meninggal. Amerika Serikat kehilangan 13 personel militer dalam konflik ini (New York Times dan NBC News, 24 Maret 2026).
Baca Juga
Ketidakpastian Perang Iran Tekan Wall Street, Ketiga Indeks Utama Kompak Melemah
Dampak perang juga merambat ke sektor energi global. Harga minyak dunia kembali menembus US$100 per barel pada Selasa (24/3/2026), memicu krisis energi di sejumlah negara. Filipina bahkan menetapkan status darurat energi nasional, sementara Korea Selatan mengimbau warganya menghemat konsumsi energi (New York Times, 24 Maret 2026; laporan senada juga dikutip BBC pada hari yang sama).
Selat Hormuz jalur vital bagi sekitar 20% pasokan minyak dunia kini berada di ambang gangguan serius. Iran menyatakan hanya kapal “non hostile” yang boleh melintas dengan aman, sementara kapal yang terkait dengan AS dan Israel berisiko ditolak. Ketidakpastian ini meningkatkan risiko disrupsi pasokan global.
Di tengah eskalasi militer, sinyal diplomasi masih samar. Pakistan disebut menjadi mediator kunci dengan kemungkinan pertemuan langsung dalam beberapa hari ke depan. Namun, perbedaan narasi antara Washington dan Teheran menunjukkan bahwa jalan menuju perdamaian masih panjang.
Perang yang awalnya dipicu serangan AS–Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 kini telah berkembang menjadi konflik regional dengan dimensi militer, energi, dan geopolitik yang semakin kompleks. Dengan pengerahan pasukan tambahan AS dan terus berlanjutnya serangan lintas negara, dunia kini berada di titik kritis yakni antara eskalasi yang lebih luas atau peluang sempit menuju deeskalasi.
