Iran Tolak Buka Selat Hormuz, AS Tetap Pertahankan Blokade
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat setelah Iran menyatakan mustahil membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut selama blokade militer Amerika Serikat masih berlangsung. Pernyataan itu disampaikan di tengah perpanjangan gencatan senjata oleh Presiden AS Donald Trump, yang justru tetap mempertahankan tekanan melalui blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Mengutip laporan BBC yang diperbarui Rabu (22/04/2026), Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz “tidak mungkin dilakukan” selama terjadi “pelanggaran terang-terangan” terhadap gencatan senjata. Ia menyebut pelanggaran tersebut mencakup blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran serta eskalasi militer Israel di berbagai front.
Laporan yang sama juga mencatat, situasi keamanan di Selat Hormuz kini sangat berbahaya, dengan lalu lintas kapal hanya tersisa dalam jumlah sangat terbatas. Analis keamanan BBC, Frank Gardner, menyebut kondisi ini tidak hanya merugikan Iran, tetapi juga memberikan dampak signifikan terhadap ekonomi global mengingat selat tersebut merupakan jalur utama distribusi energi dunia.
Baca Juga
Sementara itu, berdasarkan laporan CNN yang diperbarui Rabu (22/04/2026) pukul 13.28 EDT, ketegangan meningkat setelah Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyita dua kapal kargo di Selat Hormuz dan menariknya ke perairan Iran. Media Iran juga melaporkan satu kapal lainnya menjadi sasaran serangan dan kini dalam kondisi tidak beroperasi di lepas pantai Iran. Insiden tersebut terjadi tak lama setelah laporan badan maritim internasional menyebut adanya penembakan terhadap sedikitnya dua kapal kontainer di kawasan itu.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump tetap memperpanjang gencatan senjata dengan Iran “hingga pembicaraan selesai”, namun menegaskan bahwa blokade terhadap pelabuhan Iran akan terus diberlakukan. Sumber yang dikutip CNN menyebut Washington memberikan batas waktu terbatas bagi Teheran untuk mengajukan proposal terpadu guna melanjutkan negosiasi damai.
Upaya diplomasi sendiri masih berada dalam ketidakpastian. Perundingan lanjutan antara AS dan Iran yang dijadwalkan berlangsung di Islamabad, Pakistan, hingga kini belum dimulai. Padahal, menurut berbagai laporan sebelumnya dari Al Jazeera dan BBC, Pakistan telah menyatakan kesiapan menjadi tuan rumah bagi putaran baru negosiasi tingkat tinggi.
Di tengah eskalasi tersebut, kekhawatiran global semakin meningkat. Sekretaris Jenderal International Maritime Organization, Arsenio Dominguez, dalam pernyataan yang dikutip BBC pada Rabu (22/04/2026), mendesak pembebasan segera para pelaut sipil yang ditahan. Ia mengungkapkan hampir 20.000 pelaut masih terjebak di kawasan Teluk dan menghadapi ketidakpastian untuk kembali ke negara asal mereka.
“Pada akhirnya, hanya berakhirnya konflik yang dapat membuat Selat Hormuz aman kembali bagi kapal-kapal yang menopang ekonomi global,” tegasnya.
Perkembangan ini memperkuat sinyal bahwa konflik AS-Iran kini memasuki fase “abu-abu”, di mana gencatan senjata berlangsung di atas kertas, namun tekanan militer dan ekonomi tetap berjalan paralel. Selat Hormuz, yang selama ini menjadi nadi perdagangan energi dunia, kini berubah menjadi titik tekanan geopolitik paling krusial dengan implikasi langsung terhadap stabilitas ekonomi global dan harga energi ke depan.

