Bagikan

AS Tetap Blokade Selat Hormuz

Poin Penting

Donald Trump menghentikan sementara operasi pengawalan kapal (Project Freedom) di Selat Hormuz meski baru berjalan satu hari, namun tetap mempertahankan blokade terhadap kapal-kapal Iran.
Lalu lintas di Selat Hormuz jalur vital sekitar 20% perdagangan minyak dunia nyaris lumpuh, dengan hanya beberapa kapal yang berhasil melintas dan ribuan kapal serta puluhan ribu pelaut masih tertahan.
AS menyebut ada kemajuan menuju kesepakatan dengan Iran, sementara aktor global seperti Wang Yi mulai terlibat diplomatik.

JAKARTA, Investortrust.id — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mengubah arah kebijakan militernya di Selat Hormuz. Setelah baru sehari menjalankan operasi pengawalan kapal dagang internasional melalui jalur energi paling strategis di dunia itu, Trump pada Selasa malam waktu Washington, 5 Mei 2026, mengumumkan penghentian sementara operasi tersebut.

Pengumuman itu disampaikan Trump melalui media sosial hanya beberapa jam setelah Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa Washington sepenuhnya fokus pada misi baru bernama “Project Freedom”, yakni operasi pengawalan kapal komersial di Selat Hormuz. Informasi tersebut dilaporkan pertama kali oleh The New York Times dalam laporan yang terbit 5 Mei 2026 dan diperbarui Rabu (6/5/2026), pukul 05.15 ET atau sekitar pukul 16.15 WIB.

Dalam pernyataannya, Trump mengatakan operasi itu dihentikan “untuk waktu singkat” karena adanya “kemajuan besar” menuju kesepakatan dengan Iran. Namun pada saat yang sama, Trump menegaskan bahwa blokade terhadap kapal-kapal Iran tetap diberlakukan penuh.

Langkah mendadak itu kembali memperlihatkan perubahan cepat strategi Washington dalam perang yang kini memasuki bulan ketiga. Sebelumnya, Rubio menyatakan operasi tempur utama AS terhadap Iran telah selesai dan kini fokus dialihkan pada pengamanan pelayaran internasional.

“The operation is over: Epic Fury … We’re now onto this Project of Freedom,” kata Rubio dalam konferensi pers di Gedung Putih, Selasa waktu AS.

Sebuah helikopter MH-60S Seahawk terbang melayang di atas kapal komersial M/V Blue Star III di Laut Arab untuk melakukan penggeledahan, dan penyitaan sebagai bagian dari operasi blokadi laut terhadap Selat Hormuz dan perairan Iran (28/4/2026). Foto: U.S. Central Command

Baca Juga

Iran Tetap Serang UEA dan Kapal di Selat Hormuz

Menurut laporan The New York Times, operasi pengawalan kapal dagang yang dimulai Senin (4/5/2026) hanya berhasil mengawal tiga kapal komersial melewati Selat Hormuz. Jumlah itu sangat kecil dibandingkan kondisi normal sebelum perang, ketika sekitar 130 kapal per hari melintasi jalur tersebut.

Situasi di Selat Hormuz sendiri masih sangat tegang. Iran berulang kali menegaskan bahwa kapal hanya dapat melewati selat tersebut dengan izin Teheran, sementara AS tetap mempertahankan tekanan militer dan blokade terhadap kapal-kapal Iran.

Secara efektif, lalu lintas perdagangan global melalui Selat Hormuz masih nyaris lumpuh. The New York Times melaporkan sekitar 1.600 kapal dan hampir 20.000 pelaut masih terjebak di sekitar kawasan tersebut.

Sebuah helikopter SH-60S Seahawk milik Angkatan Laut AS memberikan dukungan kepada tim investigasi dari kapal perusak kelas Arleigh Burke AL AS, USS Kidd (DDG-100) yang mendatangi sebuah kapal penangkap ikan berbendera Iran, Al Molai dengan Rigid Inflatable Boat (RIB) bersenjata di perairan Selat Hormuz. Foto: US Navy

Laporan senada juga disampaikan Al Jazeera melalui laporan langsung (live update) yang tayang 6 Mei 2026. Media itu menyebut Trump menghentikan sementara “Project Freedom” karena adanya perkembangan pembicaraan antara Washington dan Teheran menuju “kesepakatan lengkap dan final”.

Namun di tengah proses diplomasi tersebut, konflik masih terus berlangsung. Pemerintah United Arab Emirates menyatakan negaranya kembali menjadi sasaran serangan rudal dan drone Iran untuk hari kedua berturut-turut. Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) membantah keterlibatan mereka dalam serangan tersebut.

Iran juga menuduh pasukan AS menewaskan lima warga sipil dalam serangan terhadap kapal penumpang di Selat Hormuz. Washington sebelumnya mengklaim sasaran mereka adalah kapal cepat milik IRGC.

Baca Juga

AS Bantah Kapal Perangnya Diserang, Iran Hantam UEA, Selat Hormuz Memanas

Sebuah kapal perusak rudal berpemandu Angkatan Laut AS melakukan operasi pembersihan ranjau di Selat Hormuz, (11/4/2026). Foto: CENTCOM/U.S. Navy

Ketegangan geopolitik semakin kompleks setelah China mulai bergerak aktif secara diplomatik. Kantor berita resmi China, Xinhua, melaporkan Menteri Luar Negeri China Wang Yi menggelar pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di Beijing pada Rabu, 6 Mei 2026 waktu setempat. China diketahui merupakan pembeli utama minyak Iran sekaligus sedang menjaga hubungan stabil dengan Washington menjelang pertemuan Trump dan Presiden China Xi Jinping pekan depan.

Selain di Teluk Persia, ketegangan regional juga meluas ke Lebanon. Al Jazeera melaporkan Israel kembali melancarkan serangan ke Lebanon selatan dan mengeluarkan perintah evakuasi baru kepada warga sipil di sejumlah wilayah.

Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun gencatan senjata formal masih berlaku secara rapuh, konflik di kawasan Timur Tengah belum benar-benar mereda. Selat Hormuz tetap menjadi titik paling sensitif karena jalur tersebut mengalirkan sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.

“Pasar energi global kini menghadapi ketidakpastian baru: perang memang belum meledak lebih besar, tetapi perdamaian pun belum benar-benar lahir. Di Selat Hormuz, satu keputusan politik bisa langsung mengguncang perdagangan, energi, dan ekonomi dunia.”

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024