Serangan Iran ke Teluk Picu Gangguan Pasokan Minyak Terbesar dalam Sejarah
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Eskalasi konflik di Timur Tengah semakin meluas dengan dampak langsung terhadap pasar energi global. Serangan Iran terhadap kapal-kapal komersial dan infrastruktur energi di kawasan Teluk kini memicu gangguan pasokan minyak yang disebut sebagai yang terbesar dalam sejarah pasar minyak dunia.
Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA), Kamis (12/03/2026), menyatakan dunia saat ini menghadapi “gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global”, setelah Iran meningkatkan serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi jalur energi utama dunia. Upaya pelepasan cadangan minyak darurat oleh negara-negara anggota IEA sejauh ini belum mampu menenangkan pasar, sementara harga minyak kembali mendekati US$100 per barel.
Konflik yang awalnya dipicu oleh serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran kini berkembang menjadi konfrontasi multi-front. Iran dilaporkan menargetkan kapal-kapal di jalur pelayaran strategis di kawasan Teluk serta fasilitas energi di negara-negara tetangganya, meningkatkan risiko gangguan serius terhadap distribusi energi global.
Baca Juga
Redam Krisis Energi Akibat Perang Iran, AS Lepas 172 Juta Barel Minyak dari Cadangan Strategis
Ketegangan geopolitik semakin meningkat setelah beberapa kapal komersial dilaporkan menjadi sasaran serangan dalam beberapa hari terakhir. Dua kapal tanker dilaporkan terkena serangan di perairan dekat Irak, sementara sebuah kapal kontainer diserang di dekat wilayah Uni Emirat Arab (UEA). Media pemerintah Iran menyebut pasukan Iran berada di balik setidaknya salah satu serangan tersebut.
Situasi ini diperburuk oleh ketidakpastian di Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi salah satu arteri energi terpenting di dunia. Jalur sempit tersebut menyalurkan sekitar 20% perdagangan minyak dunia, sehingga setiap gangguan keamanan di kawasan ini berpotensi langsung mengguncang pasar energi global.
Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright menegaskan bahwa Selat Hormuz pada akhirnya harus dibuka kembali. Namun ia mengakui bahwa Angkatan Laut AS saat ini belum sepenuhnya siap mengawal kapal-kapal komersial yang melintasi kawasan tersebut.
Baca Juga
CPI AS Februari Naik 2,4%, Pasar Waspadai Dampak Perang Iran terhadap Inflasi
“Selat Hormuz harus dan akan dibuka kembali,” kata Wright. Ia menambahkan bahwa kehadiran militer AS di kawasan bertujuan mengatasi masalah jangka panjang, yakni kemampuan Iran selama puluhan tahun untuk mengancam jalur pelayaran strategis tersebut.
Di sisi lain, tekanan militer terhadap Iran juga meningkat. Serangan udara yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel ke Teheran dilaporkan menargetkan sejumlah pos pemeriksaan milik Basij, milisi sukarelawan yang selama ini menjadi salah satu pilar keamanan rezim Iran dan sering digunakan untuk meredam aksi protes domestik.
Perserikatan Bangsa-Bangsa memperingatkan bahwa konflik tersebut telah memicu krisis kemanusiaan yang serius. Hingga 3,2 juta warga Iran dilaporkan terpaksa mengungsi akibat serangan udara yang berlangsung dalam beberapa pekan terakhir.
Konflik juga meluas ke negara tetangga. Menteri Pertahanan Israel memerintahkan militer untuk mempersiapkan perluasan operasi terhadap Hezbollah di Lebanon. Pertempuran terbaru dilaporkan telah menewaskan ratusan orang dan memaksa ratusan ribu warga meninggalkan rumah mereka.
Baca Juga
Wall Street Masih Bergolak, Investor Waspadai Eskalasi Perang Iran
Sementara itu, dinamika politik di Iran memasuki babak baru setelah media pemerintah menyatakan bahwa Pemimpin Tertinggi baru Ayatollah Mojtaba Khamenei akan segera menyampaikan pesan pertamanya kepada publik sejak diangkat menggantikan pemimpin sebelumnya. Ia belum terlihat di hadapan publik sejak pengangkatannya.
Meski serangan udara yang dipimpin AS dan Israel telah menewaskan puluhan pejabat senior Iran serta merusak sebagian kemampuan rudal negara tersebut, intelijen Amerika menilai rezim Iran belum menunjukkan tanda-tanda akan runtuh dalam waktu dekat. Pejabat pemerintahan Presiden Donald Trump menegaskan tujuan utama operasi militer adalah melemahkan program rudal, nuklir, dan angkatan laut Iran, sementara perubahan rezim dipandang sebagai kemungkinan dampak lanjutan, bukan tujuan utama perang.
Dengan meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk dan ancaman terhadap jalur pelayaran utama dunia, konflik Iran kini tidak lagi sekadar krisis regional. Perkembangan terbaru tersebut berpotensi memicu guncangan besar pada pasar energi global, sekaligus menambah ketidakpastian bagi stabilitas ekonomi dunia.

