Yield Obligasi AS Anjlok, Investor Cermati Tarif Baru Trump
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Imbal hasil obligasi pemerintah AS turun pada awal pekan, Senin (23/2/2026) waktu AS. Investor mencermati tarif terbaru Presiden Donald Trump setelah Mahkamah Agung pada Jumat membatalkan sebagian besar pungutan tersebut.
Baca Juga
Heboh, Mahkamah Agung AS Batalkan Tarif Resiprokal, Trump Bakal Kenakan Tarif 10% ke Mitra Dagang
Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun turun lebih dari 5 basis poin menjadi 4,031%. Imbal hasil Treasury 30 tahun melemah lebih dari 2 basis poin menjadi 4,70%. Sementara itu, imbal hasil Treasury 2 tahun terkoreksi 4 basis poin menjadi 3,44%.
Pada Jumat (20/2/2026), Mahkamah Agung membatalkan sebagian besar tarif “resiprokal” Trump. Dalam putusan 6-3, MA menyatakan bahwa presiden secara keliru menggunakan International Emergency Economic Powers Act (IEEPA) untuk memberlakukan tarif. Mereka menyatakan bahwa undang-undang yang menjadi dasar bea impor tersebut “tidak memberi kewenangan kepada Presiden untuk mengenakan tarif.”
Meski demikian, Trump membalas pada Sabtu dengan mengatakan ia menaikkan tarif global menjadi 15% dari 10%. Ia juga menyatakan tarif baru itu “berlaku segera” dan pungutan tambahan akan menyusul.
“Saya, sebagai Presiden Amerika Serikat, akan, efektif segera, menaikkan Tarif Dunia sebesar 10% pada negara-negara, banyak di antaranya telah ‘memanfaatkan’ AS selama beberapa dekade, tanpa pembalasan (hingga saya datang!), menjadi tingkat 15% yang sepenuhnya diizinkan dan telah diuji secara hukum,” tulis Trump dalam unggahan di Truth Social.
Baca Juga
Kejutan Baru, Trump Naikkan Tarif Impor Global Jadi 15 Persen
Trump kemudian mengatakan pada Senin bahwa negara-negara yang berencana “bermain-main” setelah teguran Mahkamah Agung “akan menghadapi tarif yang jauh lebih tinggi, dan lebih buruk, daripada yang baru saja mereka setujui,” yang memperburuk sikap risk-off di kalangan investor.
“Terkadang pasar hanya membutuhkan alasan untuk sedikit menjual,” kata Stephen Tuckwood, direktur investasi di Modern Wealth Management, seperti dikutip CNBC. “Yang menggembirakan bagi kami adalah reaksi dolar AS dan Treasury 10 tahun yang tetap stabil, sangat berbeda dibanding pengumuman tarif awal April lalu,” bebernya.
Imbal hasil Treasury 10 tahun sempat turun di bawah level 4% setelah Trump pertama kali mengumumkan kebijakan tarif luasnya pada awal April 2025. Dengan level imbal hasil acuan saat ini, serta kondisi dolar AS, Tuckwood menilai tidak ada hal yang “terlalu besar untuk dikhawatirkan.”
Selain memantau perkembangan tarif terbaru, investor juga menanti sejumlah data ekonomi pekan ini, termasuk rilis indeks harga produsen pada Jumat.

