PDB AS Kuartal IV 2025 Hanya Tumbuh 1,4%, Jauh di Bawah Estimasi
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id - Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat melambat pada akhir 2025, lebih rendah dari perkiraan. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah penutupan pemerintah (government shutdown) yang memengaruhi belanja dan investasi. Sementara itu, indikator inflasi utama menunjukkan harga tinggi masih menjadi faktor dalam perekonomian, menurut data yang dirilis Jumat (20/2/2026).
Baca Juga
Produk domestik bruto (PDB) naik pada tingkat tahunan hanya 1,4%, menurut Departemen Perdagangan AS, jauh di bawah estimasi Dow Jones sebesar 2,5%.
Belanja konsumen meningkat dengan laju yang lebih lambat pada periode tersebut, sementara belanja pemerintah anjlok tajam dalam kuartal yang ditandai oleh shutdown terpanjang dalam sejarah. Departemen memperkirakan shutdown memangkas sekitar 1 poin persentase dari pertumbuhan, meski menambahkan dampak pastinya “tidak dapat dikuantifikasi.”
Sepanjang 2025, ekonomi AS tumbuh 2,2%, turun dari kenaikan 2,8% pada 2024.
“Shutdown pemerintah federal jelas membuat ekonomi keluar dari jalur pertumbuhan kuatnya pada kuartal keempat, yang merupakan kejadian satu kali dan tidak akan terulang di awal 2026,” kata Chris Rupkey, kepala ekonom Fwdbonds, seperti dikutip CNBC.
Menjelang rilis data, Presiden Donald Trump memperingatkan angka PDB akan lemah dan menyalahkan shutdown yang berakhir pada November.
Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyatakan, “Shutdown Demokrat merugikan AS setidaknya dua poin PDB. Itu sebabnya mereka melakukannya lagi dalam bentuk mini. Tidak ada lagi shutdown! Juga, turunkan suku bunga. Powell yang ‘Terlambat Dua Kali’ adalah yang terburuk!!!”
Pernyataan itu merujuk pada Ketua Federal Reserve Jerome Powell, yang berulang kali dikritik Trump karena tidak memangkas suku bunga lebih agresif.
Inflasi PCE
Meski pertumbuhan melambat, inflasi bertahan pada Desember, menurut indikator yang paling diperhatikan pejabat The Fed.
Indeks harga personal consumption expenditures (PCE) inti, yang tidak memasukkan makanan dan energi, naik 3% pada Desember, meningkat 0,2 poin persentase dari November. Angka ini sesuai konsensus tetapi tetap jauh di atas target 2% The Fed.
Secara headline, indeks PCE meningkat 2,9%, atau 0,1 poin persentase lebih tinggi dari perkiraan.
Kedua indeks naik 0,4% secara bulanan, dibandingkan proyeksi 0,3%.
Harga barang naik 0,4% dan jasa 0,3%, menunjukkan tekanan harga masih cukup luas. The Fed memantau keseimbangan ini untuk melihat apakah inflasi dipicu faktor sementara seperti tarif (yang berdampak pada barang) atau faktor permintaan fundamental (yang tercermin pada jasa).
The Fed memangkas suku bunga acuan sebesar 0,75 poin persentase pada akhir 2025, tetapi sejak itu mengisyaratkan pendekatan lebih hati-hati.
Baca Juga
The Fed Pertahankan Suku Bunga Acuan, Sebut Ekonomi AS Solid
Departemen Perdagangan menyatakan perlambatan PDB — dari 4,4% pada kuartal III — disebabkan penurunan belanja konsumen dan ekspor, serta dampak shutdown yang berlangsung 1 Oktober hingga 12 November.
Heather Long, kepala ekonom Navy Federal Credit Union, mengatakan ekonomi kemungkinan bangkit pada awal 2026, meski shutdown berkepanjangan memiliki dampak.
Belanja konsumsi pribadi naik 2,4%, turun dari 3,5% pada kuartal sebelumnya. Ekspor turun 0,9% setelah melonjak 9,6% di kuartal III.
Indikator final sales to private domestic purchasers naik 2,4%, menunjukkan permintaan domestik yang tetap solid dalam ekonomi senilai US$31,5 triliun.
Investasi domestik swasta bruto naik 3,8% setelah stagnan di kuartal III. Sebaliknya, belanja dan investasi pemerintah turun 5,1%, dipicu penurunan 16,6% di tingkat federal.

