PDB Kuartal II-2025 Tumbuh 0,6%, Korea Selatan Terhindar dari Resesi
Poin Penting
|
SEOUL, investotrust.id - Korea Selatan mencatat pemulihan ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan pada kuartal II-2025, dengan produk domestik bruto (PDB) tumbuh 0,6% dibanding kuartal sebelumnya. Capaian ini tidak hanya menghindarkan Negeri Ginseng dari resesi teknis, tetapi juga menunjukkan daya tahan ekspor di tengah tekanan global yang meningkat.
Baca Juga
Diterpa Krisis Politik, Pertumbuhan Ekonomi Korea Selatan Kuartal IV 2024 Melambat
Estimasi awal dari otoritas statistik menunjukkan bahwa pertumbuhan tersebut melampaui konsensus pasar sebesar 0,5%, sekaligus membalikkan kontraksi 0,2% yang terjadi pada kuartal pertama. Secara tahunan, ekonomi Korea Selatan tumbuh 0,5%, juga lebih tinggi dari proyeksi ekonom menurut jajak pendapat Reuters sebesar 0,4%.
Dilansir CNBC, Kamis (24/7/2025), pendorong utama pemulihan berasal dari lonjakan ekspor barang dan jasa, yang melonjak 4,2% secara kuartalan. Penguatan pengiriman semikonduktor, produk minyak bumi, dan bahan kimia menjadi motor utama, setelah pada kuartal sebelumnya ekspor mencatat kontraksi 0,6%.
Namun, tren pemulihan ini menghadapi ujian besar. Korea Selatan masih berupaya menyepakati perjanjian dagang dengan Amerika Serikat sebelum tenggat 1 Agustus. Gagalnya negosiasi dapat memicu tarif 25% atas ekspor Korea ke pasar AS — mitra dagang terbesar kedua negara itu setelah Tiongkok. Data Bank Dunia menunjukkan ekspor menyumbang 44% dari PDB Korea Selatan pada 2023.
Baca Juga
Perang Dagang Memanas, Trump Tandatangani Rencana Tarif Resiprokal Besar-Besaran
Pemerintah di Seoul telah menegaskan tidak akan menggunakan impor daging sapi dan beras sebagai alat tawar dalam negosiasi dengan Washington, menurut laporan Yonhap. Sikap ini mencerminkan tekanan domestik terhadap sektor pertanian, sekaligus memperkuat posisi negosiasi dalam isu industri strategis.
Dari sisi moneter, Bank of Korea (BOK) menahan suku bunga pada pertemuan 10 Juli lalu. Meski inflasi tetap stabil di 2,2% pada Juni — sedikit di atas target 2% — bank sentral memilih menjaga stabilitas sistem keuangan, di tengah ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang masih lemah untuk sisa tahun ini.

