PDB AS Kuartal II/2023 Tumbuh 2,4%, Meski ada Indikasi Resesi
JAKARTA, investortrust.id - Ekonomi AS menunjukkan tanda-tanda resesi pada kuartal kedua 2023, karena produk domestik bruto (PDB) tumbuh dengan laju yang lebih cepat dari yang diperkirakan selama periode tersebut. Demikian laporan Departemen Perdagangan AS, Jumat dini hari waktu Indonesia, sebagaimana dilansir CNBC International.
PDB untuk semua kegiatan barang dan jasa meningkat dengan laju tahunan 2,4% untuk periode April hingga Juni. Angka ini lebih baik dari konsensus Dow Jones sebesar 2%, sedangkan realisasi PDB kuartal pertama juga 2%.
Pasar saham bergerak lebih aktif setelah laporan tersebut dilansir. Saham-saham AS diprediksi bergerak positif dan imbal hasil surat utang negara juga diyakini meningkat.
Pertumbuhan positif AS ini ditopang pengeluaran konsumen yang solid. Hal ini didukung oleh peningkatan investasi tetap nonresidensial, pengeluaran pemerintah, dan pertumbuhan inventaris.
Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi dilaporkan tumbuh 2,6%, meski lebih rendah dari kenaikan sebesar 4,1% pada kuartal pertama. Angka ini sebenarnya jauh di bawah target Dow Jones yang memprediksi pertumbuhan Q2 sebesar 3,2%.
Pengeluaran konsumen, seperti yang diukur oleh indeks pengeluaran konsumsi pribadi departemen tersebut, meningkat 1,6% dan menyumbang 68% dari seluruh aktivitas ekonomi selama kuartal tersebut. Meski relative turun dari kuartal I 2023 sebesar 4,2%, angka 2,6% masih menunjukkan ketahanan di tengah kenaikan suku bunga yang lebih tinggi dan inflasi yang persisten.
Di tengah panggilan resesi yang persisten, ekonomi AS menunjukkan ketahanan yang mengejutkan. Paahal, pada sisi lain kenaikan suku bunga The Fed justru tiak sejalan dengan harapan para pemerhati Wall Street.
"Bagus untuk memiliki kuartal lain dari pertumbuhan PDB yang positif sejalan dengan tingkat inflasi yang terus menurun," ujar Kepala Ekonom True Stage, Steve Rick seperti dikutip dari CNBC.com.
"Setelah kenaikan suku bunga yang agresif kemarin, menyenangkan untuk melihat bahwa siklus kenaikan suku bunga bekerja karena inflasi terus menurun. Konsumen mendapatkan keringanan dari biaya meningkatnya barang inti, dan ekonomi AS memiliki awal yang lebih kuat untuk paruh pertama tahun ini," lanjut Steve Rick.
Pertumbuhan belum mencatatkan indikasi negatif sejak kuartal kedua tahun 2022, ketika PDB mengalami penurunan sekitar 0,6%. Itu merupakan kuartal kedua berturut-turut dari pertumbuhan negatif, mengacu pada definisi teknis resesi.
Laporan hari Kamis atau Jumat waktu Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang merata. Investasi swasta dalam negeri bruto meningkat sebesar 5,7% setelah jatuh 11,9% pada kuartal pertama. Lonjakan 10,8% pada peralatan dan kenaikan 9,7% pada struktur membantu mendorong pertumbuhan itu.
Pengeluaran pemerintah meningkat 2,6%, termasuk kenaikan 2,5% pada belanja pertahanan dan pertumbuhan 3,6% pada tingkat negara bagian dan lokal.
Laporan terpisah pada hari Kamis membawa kabar positif lainnya tentang ekonomi.
Pesanan barang tahan lama seperti kendaraan bermotor, komputer, dan peralatan rumah tangga naik 4,7% pada bulan Juni, jauh lebih tinggi dari perkiraan sebesar 1,5%, menurut Departemen Perdagangan. Selain itu, klaim pengangguran mingguan berjumlah 221.000, turun 7.000 dan di bawah perkiraan 235.000.
Pertumbuhan pekerjaan yang kuat dan konsumen yang tangguh berada di pusat pertumbuhan ekonomi. Pegawai nonpertanian telah tumbuh sebanyak hampir 1,7 juta sejauh tahun 2023, dan tingkat pengangguran 3,6% untuk bulan Juni sama dengan tingkatnya satu tahun lalu.
Sementara itu, konsumen terus mengeluarkan uang, dan indikator sentimen telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Misalnya, survei sentimen University of Michigan yang menjadi perhatian khusus mencapai level tertinggi hampir dua tahun pada bulan Juli.
Para ekonom mengharapkan kenaikan suku bunga Fed akan menyebabkan kontraksi kredit yang akhirnya meredakan lonjakan pertumbuhan dalam setahun terakhir.
Seperti diketahui, The Fed telah menaikkan suku bunga sebanyak 11 kali sejak Maret 2022, yang terakhir kali pada hari Rabu dengan kenaikan seperempat poin yang mengangkat suku bunga utama bank sentral ke level tertinggi dalam lebih dari 22 tahun.
Pasar bertaruh bahwa kenaikan suku bunga pada hari Rabu akan menjadi yang terakhir dalam siklus ketat ini. Pada sisi lain, Gubernur Federal Reserve Jerome Powell mengatakan belum ada keputusan yang diambil tentang jalur kebijakan di masa depan.

